Image Slider

Rais PCNU Sumenep: Hanya NU yang Tapaki Jalan Kesejukan

Talango, NU Online Sumenep

Di momentum perhelatan tertinggi organisasi NU Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Talango, Ahad (23/11/2020), Rais PCNU Sumenep meminta agar pengurus baik yang akan didemisioner atau yang akan terpilih harus bersyukur diberi kesempatan menjadi pengurus NU, mengabdi kepada ulama sebagai waratsatul ambiya’.

“Jadi pencuri yang sadar saja bersyukur, apalagi menjadi Pengurus NU”, ujarnya membuat hadirin terbelalak.

Syukur menjadi pencuri, kata beliau adalah bukan bersyukur atas profesinya, melainkan bersyukur masih diberi perasaan dan kesadaran mendalam dalam hati bahwa apa yang dilakukannya menjahati orang lain, menyesakkan dada orang lain itu pekerjaan tidak baik. kemudian kesadaran itu bergumul, bergemuruh mengantarkannya pada pintu taubah, berhenti dari dosa-dosa dan menggantinya menjadi perbuatan baik yang anfa’ bagi ummah.

“Apalagi menjadi pengurus NU yang jelas-jelas adalah organisasi warisan para waliyullah, kita harus bersyukur”, tambahnya mengurai misteri peryataanya.

Beliau ingatkan agar menjadi pengurus punya kometmen kerja, lalu bergegas berbuat bukan berwacana.

“Udah dilantik jadi pengurus, hanya diam tak singsingkan baju. Jangan sampai terjadi. Jangan sampai pengurus jadi urusan bagi yang lain”, ujarnya lagi.

Beliau bahkan seolah menyinggung sebagian kelompok lain diluar NU yang sukanya menyusahkan orang lain, membuat kelimpungan negara. Beliau nyatakan dengan tegas bahwa NU satu- satunya kelompok yang mampu membuka senyum kesejukan bagi masyarakat, tak membangun kebencian kepada siapapun.

“Bagi NU pemerintah itu sahabatnya, rakyat itu teman dan medan perjuangannya, ulama dan kiyai itu gurunya. Semua didasarkan cinta yang sesungguhnya”, tuturnya disambut renung mendalam peserta Konferensi.

Ayat Allah dalam Al-Qur’an ummatan wasathan, kata beliau paling cocok bagi jalan dakwah Nahdlatul Ulama. Semua tunduk pada perintah ulama. Bukan perintah ulama hanya dipilih yang sesuai selera gerakannya. Begitu tak sesuai dibuang dalam sampah peradaban.

“Meski PBNU sekalipun bukan bertindak semaunya, ia masih menyandarkan tindakannya kepada pendapatnya ulama madzhab dalam banyak hal”, urainya menjelaskan sifat ketawadhu’an NU.

Sebagian kelompok lain, tambahnya kadang banyak merasa benar menurut pikirannya sendiri, bukan benar berdasarkan fikiran ulama. Ulama hanya dijadikan jargon untuk melegitimasi selera gerakannya.

“Alhamdulillah dalam menghadapi berbagai peristiwa kebangsaan kita, NU selalu mampu tawassuth, tasamuh dan tawazun,” ujarnya penuh hikmah.

Beliau menceritakan bahwa sejarah NU itu ada dan bangkit karena munculnya gerakan modernis yang mau merubah tradisi islam nusantara, dan mau memberangus budaya, maka lahirlah NU. Katanya.

NU ini akan terus terjaga kalau ranting hidup. Beliau meminta bila ada ranting tak hidup agar dilaporkan pada PCNU.

“Kalau ada ranting tak bergerak, undang PCNU untuk mendorong agar ranting segera bergerak”, katanya lagi.

Kalau ranting tak hidup, maka sejatinya NU belum benar-benar hidup, karena hidupnya ranting menjadi cerminan hidupnya MWC dan Cabang.

“Agar NU terbaca hidup, maka tanggung jawab MWC menghidupkan ranting dengan amaliyah, fiqrah dan harokah kemasyarakatan”. Pungkasnya. 

Pewarta : Ach Subairi Karim

Editor : A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga