Oleh: A. Warits Rovi
Berbicara kehidupan anak-anak adalah berbicara kehidupan unik tetapi berpotensi menghibur yang – selain menuntut kita untuk memberi pelajaran pada kehidupan mereka – kadang juga menuntut kita mesti mengambil pelajaran dari kehidupan mereka. Keriangan, kepolosan, dan segala bentuk ekspresi imitasi dan eksperimentasi mereka sering menghamparkan panggung refleksi yang menggugah siapa pun mafhum, bahwa ada banyak pelajaran yang harus diberikan sekaligus yang harus diambil.
Seandainya dianalogikan pada sebuah tanaman, mereka adalah tunas-tunas yang harus dirawat, disiram, dipupuk dan diberi pencahayaan yang baik agar tumbuh sehat dan kelak bisa berbuah sesuai musimnya. Karena masih berupa tunas, maka perlu sebuah tindakan terampil yang penuh kelembutan untuk merawatnya supaya tunas tidak mudah patah, tapi tetap berubah dengan baik melalui tahapan-tahapan. Itulah sebabnya tak jarang kita temui seorang ibu mesti berbicara dengan intonasi yang childish atau kenak-kanakan saat berbicara kepada anaknya semata-mata sebagai strategi agar komunikasinya bisa dipahami oleh si anak.
Dunia anak identik dengan dunia imitasi. Pelajaran terbaik bagi mereka selain yang bersifat qudwah yang terpenting juga adalah uswah. Pada galibnya, setiap anak lebih suka meniru daripada mendengarkan. Mereka sulit untuk bisa melakukan sesuatu yang dianjurkan dengan perkataan dan malah kadang menentangnya, namun mereka sangat mudah meniru sebuah tindakan, di sinilah perlunya qudwah dan uswah dilakukan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anak. Salah satu contohnya, anak sulit memahami bahwa kebersihan itu termasuk sebagian iman, tetapi mereka akan paham dengan sendirinya ketika kita memberi contoh semisal dengan menyapu atau membuang sampah pada tempat yang semestinya. Pelajaran seperti itu harus dibiasakan sejak dini, mengingat anak adalah tunas, sebagian pakar menyebutnya golden age, dan Rasulullah SAW menyebutnya dengan selembar kertas putih yang masih bebas untuk ditulis dengan warna apa pun, yang apabila diayak pada pemahaman yang substantif dapat disimpulkan bahwa anak adalah perangkat lunak yang elastis dan begitu mudah untuk dicetak dengan bentuk apa pun. Pada masa inilah anak-anak warga Nahdliyyin perlu untuk diperkenalkan dengan NU, mula-mula bisa dilakukan melalui cerita tokoh-tokoh NU seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan lainnya sebagai sentuhan awal agar setidaknya ada betuk ilustrasi yang melekat pada diri anak.
Di Hari Anak Internasional tahun 2020 ini, semua anak di seluruh penjuru dunia baru saja melewati kehidupan yang tak lazim karena adanya pandemi; sebuah kenyataan yang mengurungnya pada realitas penuh garis bersekat yang membatasi pergaulan mereka dengan teman-temannya. Saat pandemi, anak tidak bisa belajar secara langsung sekaligus tidak bisa melakukan sosialisasi di sekolah. Demi menekan penyebaran Covid 19, pembelajaran harus dilakukan dari rumah. Kenyataan ini merupakan tantangan baru bagi para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Setidaknya ada dua tantangan yang mungkin harus bertumpu di pundak para orang tua, yaitu tantangan dari segi moral dan tantangan dari segi finansial, tantangan yang kedua ini berimbas pada mereka yang taraf ekonominya lemah.
Tantangan moral lebih menekan pada ekspresi mental orang tua yang mesti harus punya terobosan cerdik dalam mengajarkan anak-anak ketika anak lebih banyak bersentuhan dengan orang tua sebagai kiblat keseharian saat di rumah. Tentu selain mengajarkan materi-materi yang didaktis, orang tua juga harus lebih mengajarkan mereka sikap-sikap praktis yang mencerminkan akhlaqul karimah. Tantangan finansial berimbas pada keterbatasan pemenuhan kebutuhan rumah tangga yang tentu sedikit banyak punya efek signifikan pada kehidupan anak. Dalam hal tersebut, tak jarang dijumpai, anak-anak harus rela menjajakan dagangan hanya sekadar membeli paket data demi bisa mengikuti pelajaran daring. Dalam situasi semacam itu, peran aktif sekaligus cara taktis orang tua dibutuhkan supaya anak-anak tetap sebagai anak-anak secara fisik, tetapi tegar sebagaimana orang dewasa secara psikis. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai kemandirian dan penanaman nilai-nilai karakter lain yang punya efek pada terbangunnya integritas jiwa anak.
NU punya narasi historis yang bisa dijadikan acuan dalam mendidik anak di rumah seperti saat pandemi. Salah satunya sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah Ubayd. KH. Wahid Hasyim pada tahun 1941 pernah menulis semacam kolom berjudul Abdullah Ubayd Sebagai Pendidik, jika dipahami secara mendalam, subastansi tulisan itu adalah adanya upaya orang tua mengajarkan sebuah kemandirian bagi anak-anaknya. Dalam tulisan itu dikisahkan bahwa Abdullah Ubayd sengaja tidak membantu anaknya yang merengek tidak mau minum teh dari gelas hanya karena takut tumpah. Si anak dibiarkan menemukan tindakan tepat pada masalah yang tengah dihadapi. Hal itu dilakukan supaya anaknya bisa menemukan cara mandiri untuk meminum. Selain itu, KH. Wahid Hasyim sendiri sebenarnya juga merupakan orang tua yang mendidik anak-anaknya sendiri sebagaimana yang pernah diceritakan istrinya sendiri, Nyai Sholihah dalam majalah Risalah Islamiyah.
Kenyataan di atas menunjukkan bahwa para masyayikh NU selain berperan sebagai orang tua, sekaligus punya peran ganda sebagai guru bagi anak-anaknya ketika di rumah yang lebih menekankan penanaman sikap karakter kepada anaknya. Islam sebenarnya merupakan rahim sikap karakter yang lahir dari pemikiran Al-Ghazali yang menyatakan bahwa pendidikan Islam harus mengimplementasikan dan mengoptimalkan potensi rohaniah peserta didik sekaligus tidak mengabaikan potensi jasmaniahnya, istilah tersebut sudah ada dan dikenal oleh kalangan umat Islam jauh sebelum pendidikan karakter dicetuskan pedagogik Jerman F.W. Foerster pada abad ke-18.
Di akhir tulisan ini, sudah barang tentu siapa pun bisa menyimpulkan, bahwa kita kaum nahdliyyin sebagai orang tua – meski tak ada pandemi sekalipun – harus terus mendampingi anak di rumah dengan memberikan pembelajaran baik yang tekstual maupun yang kontekstual melalui keteladanan dan yang terpenting, kenalkanlah mereka kepada NU melalui cerita tokoh-tokoh NU.
*) Redaktur Pelaksana NU Online Sumenep, Praktisi Pendidikan di Madrasah Al-Huda Gapura Timur, Gapura

