Image Slider

Wakil Ketua PWNU Jatim Ajak Warga Teladani Muassis NU di Kehidupan Nyata

Kota, NU Online Sumenep

Seluruh warga NU berlomba-lomba untuk mensyukuri dan mensakralkan bulan Muharram 1443 H dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Republik Indonesia (RI) dengan beragam cara. Selasa malam (16/8/2021), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep memperingatinya dengan menghadirkan KH Abd A’la Basyir secara virtual untuk memberikan refleksi kemerdekaan.

Menurut Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, momen tahunan yang kerap kali disemarakkan di bulan Agustus berbarengan dengan bulan Muharram.

“Ini bukan secara kebetulan, tetapi Allah yang mengaturnya agar warga NU bisa bermuhasabah atas perjuangan Rasulullah SAW saat mendirikan negara Madinah,” katanya lewat zoom meeting.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu menceritakan sebuah kelompok yang menginginkan pemberlakuan syariat Islam dalam tubuh Pancasila.

“Kala itu KH Abdul Wahid Hasyim meluruskan bahwa Madinah tidak hanya didirikan oleh orang Islam saja, tetapi banyak agama dan suku atau Bani. Contohnya sosok Abdullah bin Uraiqith nyaris tak terdengar oleh kita, padahal dia adalah satu-satunya orang non Islam yang menjadi penunjuk rute saat Nabi hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar As-Shiddiq dari Makkah ke Yastrib,” tuturnya lewat kanal YouTube TVNU Sumenep.

Selain itu, Mantan Ketua Kopertais Wilayah IV Jawa Timur itu menegaskan bahwa pesantren adalah pusat peradaban Islam di Indonesia. Seperti halnya Nabi membangun masjid sebagai majelis taklim, membangun pasar untuk kemandirian ekonomi warga Madinah, hingga membangun rumahnya sendiri walau pun banyak dari sahabat menawarkan rumah untuknya.

“Seluruh yang dibangun Nabi didasari dengan kejujuran dan keikhlasan, bukan bersifat pragmatis. Wajar dalam kurun waktu 12 tahun umat Islam kokoh membangun peradaban. Sehingga penerima togkat estafet bisa dikembangkannya, seperti Abbasiyah ketika mencapai masa keemasannya. Perlu diketahui, Nabi membangun rumahnya di saat ia meletakkan barangnya pertama kali di Madinah. Begitu mulianya Nabi kita,” kenangnya.

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut mengajak kepada warga NU untuk meneladani perjuangan Syaikhona Muhammad Kholil, Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari, KH Abd Wahab Chasbullah, KH Bishri Syansuri, KH Muhammad Ilyas, KH Abdullah Sajjad, KH Abi Sujak, KH Moh Ishomuddin, dan KH A Warits, yang begitu ikhlas mengabdi di NU.

“Apa sulitnya menjadi orang ikhlas, karena saat ini kita tidak berjuang secara fisik atau berperang. Ciptakan Sumenep yang kondusif, jadikan pendidikan sebagai pusat peradaban. Bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi cerdas secara spiritual,” pintanya.

Tak hanya itu, Kiai A’la mencontohkan kepribadian Gus Dur yang ikhlas dan legowo saat dilengserkan secara politik.

“Beliau adalah ulama kita. Walau pun kesalahannya tidak dapat dibuktikan secara hukum, beliau tetap menerima keputusan tersebut. Kala itu NU tetap menyangga NKRI, tidak satu pun yang melakukan pemberontakan pada pemerintah walau pun KH Abdurrahman Wahid dilengserkan. Posisi NU tetap memberikan kearifan demi negara. Tidak ada pertumpahan darah,” ungkap alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang itu.

Selanjutnya, dewan Masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut mengajak pada nahdliyin untuk mengisi Dirgahayu Kemerdekaan ini dengan kegiatan yang baik dan setara dengan kenikmatan yang diberikan Allah SWT pada bangsa, yakni kemerdekaan.

“Gunakanlah teknologi sebagai media silaturrahim. Jangan sebarkan dan termakan berita hoax, sebab ujung-ujungnya ada nuansa politik. Warga NU harus melek pada dunia digital. Mari kita sama-sama bermuhasabah dan mengimplementasikannya demi kepentingan umat sebagaimana berdirinya Madinah dan Indonesia,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga