Bagi penikmat musik nasional, tak asing saat mendengarkan intro lagu Dewa-19 yang berjudul ‘Mahameru’. Karena terdapat suara serangga hutan, desiran angin gunung, khas sekali dengan suasana alam bebas. Liriknya yang menggambarkan keindahan gunung Semeru, benar-benar disaksikan oleh para personil Dewa-19 saat melakukan pendakian di sana.
Lirik puitis itu menceritakan kisah persahabatan pendaki saat berjuang mencapai puncak tertinggi. Sambil mendirikan tenda dan menikmati manisnya coklat susu sembari memandangi hamparan hutan. Sampai detik ini lagu yang disuarakan oleh Ari Lasso yang kala itu menjadi vokalis Dewa-19 tak bosan didengar oleh penikmat musik Indonesia. Bahkan menjadi trend di kalangan para pendaki gunung, terutama para pendaki lawas, sebut saja Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).
Pesona Ranu Pani yang dijadikan kantor resor di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, dijadikan titik awal pemberangkatan para pendaki. Terlebih keindahan Ranu Kumbolo yang membentang luas 12 hektare menjadi sport destinasi wisata. Area tepian danau itu menjadi lokasi perkemahan yang paling disukai oleh pendaki. Menjelang matahari terbit atau terbenam, banyak pendaki berdiri di tepian danau guna mengabadikannya.
Keunikan lainnya, pendaki akan melewati tanjakan cinta. Menurut mitos yang beredar di kalangan masyarakat, barangsiapa yang melewati tanjakan tersebut tanpa menoleh ke belakang dan beristirahat sejenak untuk melepas penat, maka Sang Kuasa akan mempermudah jodohnya hingga kakek nenek.
Berbeda saat memasuki lembah Oro-Oro Ombo yang memanjakan mata, yakni mekarnya bunga Verbena Brasiliensis yang berwarna ungu. Ketika melewati jalur tersebut dikira berada di hamparan karpet berwarna ungu.
Tantangan yang paling terberat yang dilagukan oleh Dewa 19 adalah rute Cemoro Kandang, Jambangan, hingga sampai pos Kalimati. Medannya menanjak, menguras tenaga. Ketika sampai di Kalimati, pendaki harus tau rute yang pasti untuk sampai ke Mahameru. Dari Kalimati ke Arcopodo akan melintasi jalan setapak yang semakin menanjak dan berliku. Jalan itu hanya bisa dilalui oleh 1 orang. Penamaan Arcopodo berasal dari adanya arca kembar yang merupakan peninggalan akhir kerajaan Majapahit.
Setelah muncak di ketinggian 3.676 Meter Di atas Permukaan Laut (MDPL), para pendaki wajib turun sebelum jam 08.00-09.00 WIB. Hal ini dikhawatirkan ada kabut tebal atau badai angin datang yang mengakibatkan pandangan pendaki kabur dan salah jalur saat turun. Karena medan yang dihadapinya penuh dengan bebatuan dan jurang. Yang paling diwaspadai adalah sewaktu-waktu Semeru bisa melontarkan debu vulkaniknya setiap 10-15 menit.
Kini gunung Semeru telah menunjukkan kemarahannya dengan mengeluarkan awan wedhus gembel yang meluluhlantakkan pedesaan, bahkan memakan korban jiwa. Penamaan wedhus gembel, karena bentuknya seperti domba-domba yang sedang menyusuri lereng gunung.
*Penulis Perintis Mastapala IAIN Madura

