Bluto, NU Online Sumenep
Mungkin di mata ulat, manusia adalah raksasa. Penegasan ini disampaikan oleh putri Bapak Masykur Arif yang hoby nonton film Masha dan Beruang atau Masha and the Bear.
Persepsi ini muncul ketika beliau bersama anaknya melakukan Jalan-Jalan Santai (JJS) di pagi hari sambil menghirup udara segar.
Waktu itu masih pagi. Di tengah perjalanan si sulung bertemu dengan ulat kecil yang menyeberangi jalan yang mereka lewati, Kamis (7/1/2021).
Pria yang berprofesi sebagai dosen di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk tersebut meminta kepada anaknya agar berhati-hati dan tidak menginjak ulat itu.
“Ya Ayah, nanti ulat itu akan menjadi raksasa dan kita akan menjadi kecil,” ujarnya saat menimpali pertanyaan sang ayah dengan nada serius.
Beliau pun terkejut mendengar pertanyaan ini. Padahal jika dihayati lebih jauh, akan sampai pada pesan moral sebagai berikut.
“Kalau kita jadi raksasa atau orang besar, jangan suka mengganggu yang kecil. Meskipun yang kecil itu menjijikkan. Mestinya kita harus mengayomi yang kecil itu,” terangnya saat curhat di akun facebooknya.
Kepala Lembaga Penerbitan Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Instika Guluk-Guluk tersebut semakin tak mengerti dengan maksud perkataan anaknya tadi. Akhirnya beliau yang kemudian bertanya lebih jauh atas pernyataannya itu.
“Nanti itu maksudnya kapan, nak?,” selidiknya lebih dalam.
“Di akhirat,” jawab anaknya.
Sang ayah timbul pertanyaan, karena beliau tidak pernah mengajari pengetahuan seperti itu kepadanya.
“Kira-kira tahu dari siapa kalau di akhirat nanti ulat jadi raksasa. Dan kenapa bisa begitu,” ungkapnya dalam perasaannya.
Ketika ditanya lebih dalam lagi, ternyata ia menjelaskan apa yang diketahuinya itu, bahwa ia tahu dari sebuah buku yang ia baca.
“Ups, perasaan saya juga tidak pernah membelikannya buku yang isinya semacam itu,” katanya sambil berpikir.
Ternyata anaknya membaca buku milik temannya saat bermain ke rumahnya. Di sana ia menemukan buku bergambar tentang siksa api neraka. Sebuah buku yang mudah didapatkan dari pedagang buku di pasar-pasar tradisional.
Di buku itu, katanya, ia melihat gambar ulat raksasa. Bahkan melihat ular raksasa, dan binatang-binatang liar lain yang menakutkan dan tubuhnya besar-besar. Mereka hidup di neraka.
“Kenapa binatang itu menjadi raksasa?,” tanyanya lagi.
Menurut anaknya, binatang-binatang itu menjadi raksasa karena mereka mendapat tugas untuk menyiksa manusia yang tidak berbuat kebaikan, yang jarang shalat, dan tidak mau berpuasa di bulan ramadhan.
“Oh begitu. Makanya sekarang Cici rajin sgalat dan harus suka berbuat kebaikan,” pintanya saat menasehati anaknya.
Rupanya anaknya yang sekarang berusia 8 tahun ini, rajin shalat gara-gara membaca buku itu. Sejak ia duduk di bangku kelas 1 MI (setara SD) ibunya rajin mendorong untuk rajin shalat lima waktu. Tapi tak berhasil. Ia hanya mau shalat di waktu magrib. Itu pun karena sambil belajar mengaji di waktu itu.
Sejak masuk kelas 2 MI, sang ayah memberikan penguatan positif agar ia mau mengerjakan shalat lima waktu. Bahkan menjanjikan hadiah yang sangat spesial. Tapi juga tak berhasil. Kadang pula menggunakan penguatan negatif, itu pun kurang berhasil.
Sang ibu memarahinya jika ia tidak shalat Zuhur, Asar dan Isya’. Cara tersebut berhasil. Tetapi, ketika ibunya sudah tidak marah-marah lagi, ia pun tidak shalat.
“Aneh, dalam seminggu ini anak saya itu tiba-tiba rajin shalat lima waktu; tanpa dijanjikan hadiah, dimarahi, dan diatur-atur lagi,” paparnya.
Shalat Subuh tak perlu dibangunkan. Dengar suara mengaji dari speaker masjid sebelah, tanda sebentar lagi masuk waktu Subuh. Ia langsung bangun, berwudlu dan bergegas shalat.
Sejak pembicaraan tentang ulat raksasa itu, beliau menjadi tahu, bahwa buku neraka itulah yang telah membuatnya rajin shalat.
Benar, terkadang kesadaran anak untuk rajin beribadah bisa datang dengan cara tidak disangka-sangka. Boleh jadi hadiah atau hukuman dari orang tua tidak bisa memotivasinya. Namun, pengalaman langsung dan apa yang dipelajarinya sendiri, bisa menjadi pelajaran terbaik buat dirinya.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Selatan tersebut beserta istri senang melihat anaknya secara tiba-tiba rajin shalat. Mereka berharap terus konsisten.
“Apakah selesai sampai di sini? Tentu tidak,” sergahnya.
Sebagai orang tua, beliau sangat berharap, khususnya kelak ketika sudah dewasa, ia bisa beribadah dengan ikhlas. Tidak lagi karena hadiah atau hukuman, tidak lagi karena ulat atau ular raksasa, dan bukan karena surga atau neraka. Melainkan karena cinta.
Meskipun sampai saat ini, orang tuanya ini, yang hanya pandai berharap dan berbicara ini, kualitas ibadahnya masih seperti anaknya itu.
“Duh Gusti,” tandasnya.
Pewarta: Firdausi
Editor: Abdul Warits

