Bluto, NU Online Sumenep
Orang-orang memanggilnya Bu Rahemah. Saya menyapanya dengan panggilan Mbok Rujak. Karena setiap malam Jum’at atau ketika ada selamatan, si mbok ini berjualan rujak ketupat; rujak yang bahannya terdiri dari irisan ketupat, sayuran dengan bumbu kacang dan petis.
Entah mengapa, sudah berapa malam Jum’at tidak terlihat menjual rujak lagi. “Apakah Si Mbok sakit?” Tanya batin saya.
Kalau sakit biasanya si mbok tidak keluar rumah, istirahat. Tapi saya lihat beliau sering pergi sendiri berbelanja ke toko.
Ketika lewat di depan rumah saya itulah, saya bertanya langsung perihal keadaannya. Si Mbok menjawab dirinya tidak menjual rujak karena kurang sehat. Tidak kuat mengulek kacang yang menjadi bumbu rujaknya. Dirinya hanya bisa beraktivitas yang ringan-ringan saja.
“Lalu bagaimana cara Si Mbok mendapatkan uang bila tidak menjual rujak? Nanti mau makan apa kalau tidak jualan?” Tanya saya. Si Mbok tersenyum.
Saya tahu si mbok mengumpulkan rezeki salah satunya dari hasil menjual rujak. Kalau musim panen tembakau biasanya beliau menambah penghasilannya dengan menganyam daun siwalan untuk dijadikan tikar sebagai bungkus tembakau yang siap dijual ke tengkulak.
Suaminya meninggal di waktu muda. Meninggalkan 3 orang anak. Anak-anaknya sekarang juga sudah punya anak. Cucunya juga sudah ada yang punya anak. Jadi, sebenarnya, untuk makan beliau tidak perlu repot-repot jualan rujak. Anak dan cucunya pasti mampu untuk membiayai seluruh kebutuhan hidupnya.
Namun si mbok tidak suka merepotkan anak-anaknya. Malah ia senang apabila masih bisa membantu usaha mereka. Karena itulah, selama masih bisa jualan rujak ia akan tetap jualan rujak.
Ketika dilanda sakit, seperti saat ini, Alhamdulillah, katanya rezeki masih datang dengan lancar. Beliau menerima bantuan khusus lansia. Di musim corona ada tambahan bantuan lagi. Bantuan inilah yang membuat si mbok tetap tidak merepotkan anak-anaknya dalam urusan makan. Bahkan dari bantuan negara yang memang menjadi haknya itulah selain bisa makan juga bisa memberikan uang jajan pada cucu-cucunya.
Tapi yang menarik adalah ini: beberapa bulan yang lalu, ketika ia sudah kurang sehat, petugas dari pemerintah datang ingin memberinya bantuan dua ekor kambing. Diharapkan dari dua ekor kambing ini, beliau bisa memeliharanya sehingga bisa memetik hasilnya ketika sudah beranak pinak. Namun dengan tegas Si Mbok menolaknya. Alasannya, bantuan itu tidak rasional baginya. Sudah tidak kuat bekerja kok masih mau diberi bantuan kambing agar dipelihara. Tentu akan menambah ribet hidupnya.
Meski ditolak, petugas penyalur bantuan masih berharap si mbok bisa menerima bantuan itu. Anaknya dan para tetangganya pun membujuk beliau agar menerima bantuan itu.
“Nanti kalau si mbok benar-benar tidak kuat memelihara kambing itu kan bisa dijual. Kemudian uangnya digunakan untuk makan dan tidak ada masalah,” kira-kira demikian nasihat tetangga agar bersedia menerima bantuan itu.
Tapi si mbok benar-benar perempuan tangguh, tidak mata duitan. Ia tetap tidak mau menerima bantuan kambing itu, meskipun dicarikan alasan untuk bisa menerimanya. Ia tetap berpegang pada prinsip bantuan kambing itu: bahwa kambing itu untuk dipelihara agar beranak-pinak. Lalu dari situ dapat mengambil hasilnya.
Sementara, ia sendiri, jangankan memelihara kambing yang relatif butuh tenaga ekstra, jualan rujak sambil duduk-duduk saja tidak mampu. Karena itulah ia tetap menolaknya. Ia meminta agar bantuan kambing itu tidak diberikan padanya, tapi diberikan pada orang yang berhak menerimanya dan mampu memeliharanya.
Banyak tetangga yang menyayangkan si mbok menolak bantuan itu. Tapi ada juga yang kagum sama beliau. Di tengah banyaknya orang yang berlomba-lomba untuk menerima bantuan dalam bentuk apa pun, si mbok rujak itu, masih bisa berpikir waras, ia menerima bantuan yang hanya benar-benar menjadi haknya dan rasional.
“InsyaAllah kalau masih diberi kesehatan, saya akan jualan rujak lagi,” katanya menutup pembicaraan dengan saya.
Pewarta: Masykur Arif
Editor: Firdausi

