Pragaan, NU Online Sumenep
Dewan Masyayikh Pondok Pesantren Al-Ibrohimiy Masaran, Sentol Daya, Pragaan Kiai Moh Ali Maimun Saedy mengatakan, untuk mengubah masyarakat zaman now, yang perlu diketuk adalah hatinya, bukan telinganya.
“Orang yang hidup di akhir zaman, tidak kekurangan ilmu. Siapa yang tidak tahu keutamaan shalat berjamaah, ilmu dan sebagainya. Tapi kenapa mereka tidak melakukannya. Itu tanda-tanda kurangnya iman di dalam diri seseorang,” ujarnya di acara Peringatan 10 Muharram 1445 H yang dihelat oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (Pragaan) di kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat.
Ia mengutarakan, siapa yang tak kenal dengan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar yang aktivitasnya dibalik layar selalu disorot oleh awak media. Menurutnya, bagi warga yang ngefans, yang mestinya ditiru adalah wadzifanya. Karena akan berpeluang untuk sama dengan beliau di tengah-tengah masyarakat.
Contoh lainnya adalah KH Musleh Adnan, lanjutnya. Dikatakan, dirinya tidak berguru secara langsung kepada beliau, tapi ia memperhatikan cara beliau menghidupkan jiwa masyarakat secara batin. Yang diajak bicara oleh beliau adalah hatinya, bukan telinganya.
“Kita berdakwah digital di media sosial, di panggung, dan lainnya, itu baik. Tapi yang saya pelajari adalah Kiai Musleh punya ratusan jamaah yang berkumpul setiap malam Senin dan Jumat. Ini soal konsisten, keinginan yang besar untuk menjadikan masyarakat lebih baik lagi,” ucapnya dalam tayangan kanal youtube TVNU Pragaan diakses NU Online Sumenep, Jumat (04/08/2023).
Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini menceritakan, Kiai Musleh memiliki kegiatan istighotsah. Singkat cerita, beliau meminta izin kepada KH Ahmad Suyuti Mukhtar pada tahun 2002. Usai mendapat izin, beliau memulai kegiatan diniyah itu dengan jumlah jamaah 5 orang. Lama kelamaan, jumlah jamaah semakin meningkat hingga 500 an.
“Kendati seorang diri, beliau bisa mengetuk hati jamaah. Keistiqamahannya perlu ditiru agar kita memiliki peran sebagaimana dilakukan ulama. Di akhir zaman ini peluang untuk menjadikan Islam semakin berkembang besar, butuh kerja sama dari seluruh elemen. peluang pemuda NU mengisi dakwah sangat luar biasa. Syiar harus digalakkan di momen Muharram,” pintanya.
Sebelum ada majelis shalawat, kata Kiai Moh Ali Maimun Saedy, orkes dangdut di mana-mana. Ketika majelis shalawat membumi di pelosok desa, lama kelamaan orkses itu sirna. Inilah pentingnya syiar yang akan memberikan warna Islam di hati masyarakat.
“Munculnya Gus Baha di media sosial, merupakan angin besar bagi kita. Kalau kita masih berdiam diri, tidak bergerak dan tidak mencari ruang kosong di masyarakaat, kita tidak kebagian tempat untuk mengisi dakwah. Saya yakin Islam semakin maju ruang kosong itu ditempati oleh pemuda NU,” tandasnya.

