Image Slider

Guru Salah Satu Sumber Ilmu

Oleh: Lukmanul Hakim

Apakah kita mempunyai hak untuk menentukan masa depan siswa kita? Secara spesifik tentu tidak ada orang yang mempunyai wewenang untuk merancang agar siswanya menjadi ini atau itu. Tapi secara umum, guru mengajar siswa sekaligus juga membimbing mereka agar menemukan pilihannya sendiri dan senantiasa ada dalam jalan yang penuh dengan kebenaran.

Mengajar dalam hal ini tidak hanya berarti transfer pengetahuan dan informasi, akan tetapi juga memberikan pilihan-pilihan bagi siswa agar mampu merancang masa depan sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

Seorang guru harus mampu membimbing siswanya agar bisa melaksanakan tugas perkembangannya dengan baik dan unik. Siswa adalah makhluk yang sangat istimewa serta mengandung banyak multitalenta. Fisik bisa saja ada kemiripan dengan teman sebayanya, akan tetapi bakat, minat, serta kemampuannya pasti akan berbeda. Semua itu berjalan dan berkembang sesuai dengan kemampuannya yang bervarian.

Guru yang baik dalam hal ini juga berfungsi untuk membimbing menemukan potensi siswanya, membimbing agar siswa mampu melaksanakan tugas perkembangan dengan baik, dan membimbing agar siswa dapat berkembang sesuai keinginan dan harapan orang tuanya.

Ibarat bercocok tanam, guru itu seperti halnya petani dan siswa adalah tanamannya. Seorang petani tidak bisa memaksa tanamannya agar berbuah dengan cepat. Tanaman mempunyai tugas perkembangan sendiri. Jika sudah sampai waktunya, maka tanaman juga akan berbuah dengan sendirinya. Tugas seorang petani hanya merawat agar tanaman itu mampu tumbuh di tanah yang subur, tidak terkena hama, memberi pupuk, dan menyiram dengan rutin. Tidak jauh berbeda dengan guru. Juga tidak ada yang bisa memaksa siswa untuk berprofesi dalam bidang tertentu. Guru hanya menjadi pembimbing agar siswanya mampu berilmu, berakhlak dengan baik, dan menemukan bakat yang ada dalam diri mereka.

Tugas utama seorang guru adalah mengarahkan dan membimbing agar siswa mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang telah mereka miliki. Guru yang tidak berperan sebagai pembimbing, mengajar hanya akan menjadi aktivitas rutin yang membosankan. Siswa akan bosan karena keunikannya tidak diperhatikan, potensi dirinya tidak dibantu untuk dikembangkan, dan keinginannya tidak terakomodasi dengan rapi.

Akhir-akhir ini, kita sering menjumpai banyak siswa yang merasa terbebani dengan mata pelajaran ketika pulang dari sekolah. Sekolah seakan telah menjadi penjara baru bagi siswa. Siswa kurang merasa gembira dalam proses belajar mengajar. Lihat saja, ketika menjelang hari libur, betapa siswa seakan keluar dari sarang yang menakutkan dan penuh peraturan menuju alam kebebasan. Siswa lebih suka hidup di luar sekolah dibanding di sekolah. Ini menjadi pertanda bahwa proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah belum mampu membuat siswa senang, akan tetapi justru menakutkan.

Siapa yang akan disalahkan dalam peristiwa yang terjadi demikian? Tanpa bermaksud mengambing hitamkan pihak mana pun, menurut hemat penulis, pihak yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah guru yang belum mampu menjadi mitra dan belum bisa membimbing untuk mengembangkan potensi siswanya, sehingga kegiatan belajar mengajar seakan menjadi menjadi tempat yang membosankan dengan penuh beban. Mengajar bukan hanya persoalan pengetahuan yang mumpuni, akan tetapi juga harus rela untuk menjadi pembimbing yang baik bagi siswanya.

Menjadi pembimbing sejati tentu tidak hanya bersikap inklusif terhadap perbedaan yang terdapat di kalangan siswanya, tetapi secara praktis guru juga mampu memberikan bimbingan dalam kegiatan belajar mengajar agar lebih menyenangkan. Hal ini bisa dilakukan dengan menyajikan berbagai media pembelajaran, mampu memahami proses pengorganisasian media, dan merancang media dengan baik. Sebagai pembimbing, guru juga dituntut untuk memahami dan mengembangkan media pembelajaran sebagai bahan untuk menyampaikan materi pada siswanya.

Dengan pemahaman yang kompleks tentang anak, guru bisa menentukan teknis dan jenis bimbingan yang akan diberikan kepada siswanya. Proses bimbingan akan berjalan dengan efektif apabila guru sudah mengetahui hendak dibawa kemana anak itu dan apa saja yang mesti dilakukan. Jadi, ada kompetensi yang akan dicapai serta perencanaan yang matang. Untuk mengetahui hal itu semua, maka perlu juga bagi guru untuk memahami sesuatu yang berhubungan dengan sistem nilai masyarakat, kondisifisiologis, dan psikologis siswa.

Poin yang terpenting dalam proses bimbingan adalah keterlibatan penuh siswa. Bimbingan merupakan proses memberikan bantuan terhadap siswa. Bagaimana mungkin orang yang dibantu justru tidak terlibat secara aktif. Jadi, guru harus melibatkan siswa secara aktif sehingga proses pembimbingan berjalan dengan efektif.

Dengan demikian, untuk menjadi guru yang sekaligus berperan sebagai pembimbing, seorang guru mesti memiliki pemahaman yang utuh tentang anak yang akan dibimbingnya, seperti anak yang mempunyai kemampuan belajar mendengar, melihat atau langsung praktik. Pemahaman seperti ini pada dasarnya menjadi kunci dasar untuk membimbing siswa. Wallahu A’lam.

*) Mahasiswa Semester VIII Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga