Pragaan, NU Online Sumenep
Menyambut kedatangan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan beragam pernak pernik kemeriahan adalah tradisi warga NU. Salah satunya takmir mushala Al-Falah Cecce’ Laok, Prenduan, yang menggelar pengajian agama dengan menghadirkan Al-Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’abud asal Kraksan Probolinggo sebagai penceramah tunggal, Senin (4/10/2021) malam.
Habib Abdul Qodir mengajak kepada Nahdliyat agar meneladani wanita Yaman. Kemudian beliau menceritakan kronologis gelar Smith yang dipakai oleh Habib Ahmad bin Umar bin Smith. Berdasarkan riwayat menceritakan bahwa, gelar Smith disandangkan kepada seorang anak yang mengambil kalung ibunya yang jatuh di tengah kerumunan laki-laki.
“Dari hikayat ini menyatakan bahwa wanita di Yaman saat itu mayoritas pemalu, menjaga kehormatannya, cinta pada ilmu, dan jauh dari kemegahan dunia,” tuturnya.
Tak sampai di situ, anak kecil bisa keluar rumah di kota Tarim di usia 10 tahun, baligh, sudah belajar kitab Bidayatul Hidayah, tidak pernah melontarkan senyuman pada lelaki.
“Bila keluar rumah, hanya di momen tertentu, seperti ada hajat penting, atau keluar rumah di antara waktu Maghrib dan Isya, karena laki-laki berada di masjid,” terangnya.
Selain itu, beliau juga menceritakan kisah Imam Godiiyat yang mampu menulis kembali buku dengan cepat usai dibakar oleh istrinya.
“Suatu hari Sykeh Said mendatangi temannya untuk meminjam buku yang baru saja rampung ditulis dan belum digandakan. Saking cintanya pada ilmu, beliau berjanji akan mengembalikan keesokan harinya. Namun buku tersebut dibakar oleh sang istri saat beliau shalat subuh bersama santrinya,” curahnya.
Selanjutnya, kitab yang dibakar tersebut dilatarbelakangi emosi istri yang memuncak lantaran Syekh Said memilih membaca kitab daripada tidur bersama istrinya.
“Kabiasaan wanita dulu, sebelum suami datang ke rumah di malam hari adalah bersolek atau mempercantik diri. Berhubung Syekh Said berjanji untuk mengembalikan buku esok harinya, ia membaca hingga khatam, sehingga ia menghiraukan istrinya yang wajahnya tertutup kelambu atau sejenis kain,” ungkapnya.
Berbeda dengan kisah Syekh Said bin Salim Sawwaf yang mampu membuat 5.000 syiir dengan kualitas yang sempurna. Menurut Habib Abdul Qodir, profesi Syekh Said seorang penjual air yang mondar mandir di kota Tarim.
“Alkisah, beliau tidak sengaja masuk ke dalam rumah untuk mengisi air di bak kamar mandi. Ketika ingin mengisi air, tanpa disengaja melihat sosok wanita yang melepas cadar diwajahnya. Seketika wanita tersebut menegornya dan Syekh Said berjanji untuk lebih berhati-hati lagi,” imbuhnya.
Tak henti di situ, si wanita tersebut mendoakan agar hatinya terbuka. “Berkat doa itulah beliau mampu memembuat 5.000 syiir,” tandasnya.

