Cerpen : Muhammad Lutfi
Seperti biasa, sehabis salat, Kang Mus mengambil sapu dan segera membersihkan halaman masjid. Sebagian daun-daun yang berserakan dipungutnya satu per satu. Debu dan kotoran yang mengotori halaman masjid dia sapu sampai bersih, sehingga jamaah yang salat merasa asri dengan lingkungan masjid. Sesudah membersihkan pelataran masjid dia segera mengambil ember dan berjalan untuk mengambil air di sumur belakang masjid. Tenaganya seperti saat masih usia muda walaupun umurnya sudah tidak muda lagi.
“Kang, ayo makan dulu, kang. Aku bawa makanan untukmu,” teriak Sukarmin dari masjid. Sukarmin adalah pemilik masjid itu. Setelah meletakkan ember di tempatnya, Kang Mustofa segera menuju ke arah Karmin. Tanpa mencuci tangan dan kaki, Kang Mustofa langsung saja menyantap makanan yang dibawa Sukarmin.
“Lho tidak cuci tangan sama kaki dulu? Kan habis bersih-bersih?” tanya Sukarmin yang keheranan dengan sikap Mustofa. Tapi dia malahan tersenyum cengar-cengir sambil menjawab.
“Biar barokah…,.” suaranya entengnya.
Karmin sampai geleng-geleng dibuatnya. Memang Kang Mustofa yang akrab di panggil Kang Mus ini orangnya aneh, tampilannya nyentrik. Kalau pakai baju sehari-hari hanya memakai kaus warna putih dan celana pendek selutut. Sarungnya dikalungkan di badannya, dan sebuah kopiah warna hitam selalu menutupi rambutnya. Asalnya memang bukan dari daerah tersebut. Orang-orang sekitar masjid pun tidak pernah tahu asal dia dari mana.
Mulanya, Mustofa tidur di masjid tersebut sampai pagi. Orang-orang yang tidak tahu menganggapnya gila. Akhirnya, Sukarmin sang pemilik masjid terebut membangunkannya karena merasa kasihan kepadanya. Sukarmin menanyakan asalnya, namanya, dan kenapa tidur di masjid. Mustofa yang ditanya bukannya menjawab, malah menggelengkan kepala dan mengeluarkan suara tawa yang terbahak-bahak, ”Hahahaha….”. Orang-orang menganggapnya tidak waras. Tetapi Karmin yang merasa iba kepadanya memberinya pekerjaan untuk merawat masjid dan sebagai imbalannya, dia diperbolehkan tinggal di ruang maktab di samping masjid dan dikasih makan oleh Karmin setiap hari.
Tidak hanya itu, setiap hari keanehan Mustofa semakin bertambah, misalnya saja saat disuruh azan dia tidak pernah mau. Bahkan kalu diajak salat pun dia tidak pernah mau ikut berjamaah. Karmin selalu saja menasihati dan mengajaknya, tapi yang Kang Mus berbicara tidak pernah nyambung. Hanya cengiran dan tawa yang keluar dari mulutnya.
Cak Ru, sahabat takmir masjid Sukarmin pun mengajak Karmin dan bicara padanya, “Kenapa kamu tidak ajak Mustofa salat?”.
“Aku sudah bilang berkali-kali kepadanya, Ru, bahkan sampai bosan aku. Tapi dia hanya cengar-cengir saja. Harus bagaimana lagi aku?”
“Ya dicoba iming-imingi pakai apa gitu…..supaya mau.”
“Memang kamu pikir mudah apa berbicara sama dia. Kang Mustofa itu gampang-gampang sulit orangnya. Kalau bukan kehendak hatinya sendiri dia tidak akan pernah mau.”
“Kalau begitu biar aku saja yang turun tangan.”
“Hahahaha….kamu pikir mudah, silahkan saja kalau bisa. Aku percaya pasti kamu gagal.”
Suatu waktu, dengan yakin Cak Ru berjalan menghampiri Kang Mustofa sambil membawa dua cangkir kopi dan sepiring gorengan.
“Ayo dimakan, Kang, mumpung masih hangat, enak lho!” ucapnya. Seperti biasa, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung menyeruput kopi hangat yang dibawa Cak Ru.
“Alhamdulillah…” ucapan syukur Kang Mustofa sambil mengusap-usap perutnya yang terasa kenyang sehabis melahap sepiring gorengan tersebut.
“Wah… enak rasanya ya, Kang, kalau mau lagi aku bawakan gorengan lagi. Di dapur masih ada banyak”.
“Tidak usah…, aku sudah kenyang, emang ada apa tumben masak di dapur? biasanya kan beli di warung?”
“Lho, memang Sukarmin tidak memberitahumu ya? nanti malam kan ada acara pengajian, dalam rangka menyambut tahun baru islam….”
“Owww…..”
“Emmm…, Kang, kalau aku boleh bertanya kepadamu apa boleh?”
“Silahkan.”
Kali ini Kang Mustofa mau menjawab pertanyaannya, walaupun sehari-hari tidak mau diajak bicara.
“Gini, aku bingung. Padahal kamu itu rajin kalau bersih-bersih masjid dan mengisi air untuk wudu. Tetapi, kenapa kamu tidak mau kalau diajak salat? Salat itu kan wajib bagi setiap muslim?” pertanyaan Cak Ru kepada Kang Mustofa dengan sedikit rada berceramah, karena memang dia di masa mudanya sering ikut lomba ceramah.
“Aku ini kadang bertamu ke rumah kekasihku secara sembunyi-sembunyi, biar aku dapat berjumpa dan dia berjumpa denganku,” jawab Mustofa dengan kata-kata yang sulit dipahami oleh Cak Ru. Walaupun Cak Ru itu berpendidikan tapi kala itu ia sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.
“Dasar orang tidak waras, diajak bicara malah ngelantur tekan ndi-ndi,” ucap Cak Ru dalam hati.
“Ya sudahlah, Kang, aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan, lebih baik kamu bersih-bersih masjid saja karena nanti malam banyak orang yang akan mengaji di sini.”
“Hahahaha….”
Kang Mustofa segera mengambil air untuk mengisi tempat wudu dan membersihkan halaman masjid seperti biasanya yang rutin ia lakukan sehari-hari. Malamnya memang banyak tamu yang datang. Makanan-makanan kecil disuguhkan kepada tamu-tamu yang datang. Tamunya mulai dari masyarakat biasa-biasa saja sampai para pejabat; seperti Bu Lurah, Pak Camat, Ketua RT, Ketua RW, dan KADES. Cak Ru dan dua orang temannya, Sarjo dan Kiman berada di depan masjid, menyalami orang-orang yang datang.
Saat itu Sukarmin tidak kelihatan, hanya teman-temannya yang sibuk menerima tamu, sedangkan ia tidak terlihat. Ternyata Karmin sedang menyiapkan suguhan khusus untuk Pak Kiai.
“Min…., Karmin…, Pak Kiai datang, cepat keluar!” teriak salah seorang teman yang mengetahuinya.
Di depan masjid sudah terlihat Kiai Ahmad Nurul dan beberapa rombongan santrinya. Kiai melihat Kang Mustofa duduk di bawah pohon manga yang ada di depan masjid. Kiai segera menghampirinya.
“Assalamualaikum, bolehkah saya duduk?” kata Pak Kiyai.
“Pak Kiai ….ayo duduk sini,” ucap Kang Mustofa seperti kawan akrab dengan Pak Kiai.
“Udin…! kamu dan teman-temanmu langsung masuk saja, nanti aku menyusul,” perintah Kiai kepada santrinya. Santri-santri itu segera masuk ke masjid, sedangkan Kiai masih asyik berbicara dengan Mustofa di luar masjid di bawah pohon mangga. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Tidak menunggu lama, Kiai segera masuk ke masjid. Dan segera mengisi acara tausiyah, setelah sebelumnya diisi alunan rebana dan selawatan. Di sela-sela tausiyah, Pak Kiai seketika berkata.
“Di sini itu ada sufi, tapi kalian tidak tahu, keterlaluan orang sini.”
Para jamaah spontan merasa kaget melihat Kiai yang terlihat setengah marah.
“Siapa yang Kiai maksud? Kami tidak mengerti maksud Kiai,” Karmin yang mengajukan pertanyaan karena merasa keheranan.
“Itu… yang bicara sama saya tadi, di depan masjid di bawah pohon manga,” jawab Kiai menjelaskan.
“O, jadi yang dimaksud itu Kang Mustofa….,” gumam Karmin dalam hatinya. Setelah itu Kiai menutup pengajian dengan selawat, sebelum akhirnya pulang.
Anehnya, sejak saat itu Kang Mustofa tidak tampak lagi di masjid. Karmin, Cak Ru, dan beberapa warga mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ketemu, sehingga Karmin memutuskan untuk sowan kepada Kiai Ahmad Nurul khusus untuk menanyakan Kang Mustofa. Kiai Nurul menjelaskan jika Kang Mustofa saat itu sudah ada di masjid lain, dengan pekerjaan yang sama, yaitu membersihkan masjid.
“Jangan khawatir, dalam sebuah mimpi, dia bilang kepadaku, jika kamu sudah ia doakan agar mendapat hidup yang baik dan berkah dunia-akhirat,” tutur Kiai Nurul sambil tersenyum
Sepulang dari Kiai Nurul, Karmin terkejut saat tiba di rumahnya. Di sana sudah ada seorang pemuda yang memang menunggu kedatangannya. Setelah sedikit berbincang, ia lalu menyerahkan dua tas uang kertas seratus ribuan. Karmin semakin terkejut. Hingga pemuda itu menjelaskan perihal itu semua.
“Begini, sebulan lalu, sewaktu saya naik haji ke Mekah, sebagian uang saya hilang dan membuat saya harus berutang sama Mbah Mustofa yang kebetulan juga ada di Mekah. Ia berpesan agar saya membayar utang pada orang yang bernama Sukarmin pemilik Masjid Ar-Rahman ini. Jadi saya ke sini mau bayar utang saya itu,” jelas pemuda itu.
“Jadi, sebulan lalu Kang Mus ada di Mekah?” Karmin keheranan.
“Iya,” jawab pemuda itu singkat.
Karmin semakin heran karena sebulan lalu Kang Mustofa masih tinggal di masjid itu.
Pati, 1 Januari 2021
Muhammad Lutfi, seorang penyair, lahir di Pati, 15 Oktober 1997.

