*Abdul Warits
Judul : Penakluk Badai
Penulis : Aguk Irawan MN
Penerbit : Republika
Cetakan : Maret, 2020
Tebal : 562 halaman
ISBN : 978-6025-7341-75
Fanatisme terhadap kelompok keagamaan sudah lumrah terjadi di Indonesia. Bahkan, di kalangan nahdiyyin problematika ini terkadang terjadi apalagi jika berkaitan dengan perebutan kekuasaan. Aguk Irawan mengemas novel biografi kiai Hasyim, pelopor berdirinya Nadhdhatul Ulama dengan sangat apik. Dari sejarah kelahirannya, perjuangannya bersama dengan masyarakat hingga sikap-sikap kiai Hasyim dalam menghadapi permasalahan agama, bangsa dan negara.
Aguk Irawan berusaha memotret kiai Hasyim Asyari sebagai sosok yang bijaksana dalam memperjuangkan NU. Aguk Irawan tidak hanya memotret sejarahn kiai Hasyim Asyari, tetapi juga mencoba menghadirkan pesona pesonanya dari sisi kemanusiaannya. Mayoritas masyarakat NU hari ini tidak bisa meredam badai konflik yang sedang melanda. Pantas jika judul novel ini adalah penakluk badai karena masalah yang dihadapi kiai Hasyim sangat pelik ketika itu.
Kiai Hasyim Asyari adalah kiai yang menginisiasi berdirinya NU tetapi ia tidak lantas fanatik terhadap kelompok ini. Kita ketahui sejak kecil kiai Hasyim sangat akrab dengan K. Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Bahkan, mereka saling kunjung ke ke rumahnya masing-masing ketika masih menimba ilmu di pesantren. Bagi kiai Hasyim Asyari, Nahdhatul Ulama (NU) sebagai anak kandung sendiri sedangkan Muhammadiyah sebagai anak dari saudara kandung sendiri. (hal. 290).
Salah satu sikap kebijaksanaan kiai Hasyim Asyari dipotret dari sikap diamnya untuk berpikir dan istikharah dalam memecahkan masalah-masalah tersebut. Bahkan, beberapa orang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, seringkali meminta pertimbangan kepada kiai Hasyim Asyari. Indikasi ini menandakan bahwa segala yang berkaitan dengan keputusan masa depan dalam bersikap di bidang politik dan sosial kemasyarakatan harus berlandaskan kepada sebuah pertimbangan dan istikharah yang matang.
Pembedayaan ekonomi di kalangan masyarakat ketika itu tentu disebabkan oleh pemikiran dan gerakan kiai Hayim Asyari agar masyarakat tidak lagi menjadi budak dari Belanda. Karenanya, bekerja itu harus dilakukan, bagaimanapun keadaannya. Karena ekonomi dan kemandirian adalah salah satu asas dalam hidup yang harus terpenuhi. (hal. 250)
Kiai Hasyim Asyari adalah sosok orang yang sangat sabar. Ia sejak awal sudah mendapat tantangan hidup yang sangat berat. Tantangan dan rintangan tersebut bahkan terjadi dari kalangan keluarga, pesantren, masyarakat, hingga bangsa dan negara. Ujian dan cobaan salah satunya ketika kiai Hasyim Asyari ditinggal pergi oleh istri dan anaknya dan juga saudaranya sendiri. Apalagi ketika mendirikan pesantren kiai Hasyim mendapatkan tantangan besar dari lingkungan sekitar bahkan Belanda.
Keberadaan kiai Hasyim Asyari sangat dirindukan oleh kalangan masyarakat. Bukan saja dari pemikiran dan gerakanya, kiai Hasyim Asari juga diharapkan dalam memberikan pendidikan dalam bidang sosial kemasyarakatan dan politik. Dalam dunia pendidikan, kiai Hasyim Asyari sangat cinta terhadap buku. Bahkan, terkadang mengajak puteranya untuk membeli buku di Pasar Gubeng Surabaya.
Cintailah buku sebab ilmu ada di dalamnya dan belajar bagian dari jihad merupakan salah satu wasiat yang masih mengiang kepada salah satu puteranya, Yusuf Hasyim. Kiai Hasyim Asyaari seringkali memberikan nasehat bahwa buku, ilmu dan pendidikan itu adalah satu paket untuk mengantarkan pada perubahan yang lebih baik (hal. 440). Kepedulian kepada pendidikan ini beliau tunjukkan dalam membangun kembali pesantren Tebuireng yang sempat diporak-porakda oleh kompeni Belanda.
Dari nasihat-nasihat itulah, Yusuf Hasyim sadar bahwa anak dari seorang pejuang tidak boleh berpangku tangan melihat lingkungan sekitar dalam kebobrokan moral dan kebodohan. Selebihnya, di bagian lampiran buku ini juga menghadirkan beberapa dokumentasi penting tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan organisasi Nadhatul Ulama (NU).
*Redaktur pcnusumenep.or.id

