Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Digelarnya Kongres Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke XX di Balikpapan, Kalimantan Timur menuai respon dari segenap warga pergerakan. Khusus Pengurus Komisariat (PK) PMII Guluk-Guluk.
Ahmad Sanusi mengutarakan bahwa pelaksanaan kongres yang ke XX merupakan ajang silaturrahim, di mana kader-kader PMII se-Indonesia menjalin komunikasi dengan baik.
Ketua PK PMII Guluk-Guluk tersebut menegaskan bahwa kongres bukan sebagai ajang kontestasi pergantian kepengurusan baru, melainkan sebagai suatu momentum bersejarah sekaligus sebagai wadah untuk saling berbagi antar satu dengan yang lain.
“Harapan besar kami adalah pelaksanaan Kongres ke-XX ini benar-benar dilaksanakan sebagaimana mestinya, tentunya dengan cara yang arif bukan untuk kepentingan politik praktis dan konflik yang berkepanjangan,” harapnya.
Secara historis, PMII adalah organisasi keislaman dan keindonesiaan yang konsen melakukan kajian, gerakan, dan memiliki tanggungjawab untuk merawat keutuhan bangsa, negara, dan agama.
“Seluruh kader PMII yang hadir ke Kongres wajib dan mampu merumuskan berbagai problem kebangsaan melalui identitas yang sering diwacanakan, yaitu nilai-nilai Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah sebagai manhajul _fikr wal harakah_,” pintanya mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk.
Selain itu, PMII harus memiliki terobosan baru dalam menyikapi problem kebangsaan melalui sinergitas antara PMII dengan aparatur pemerintahan untuk sebuah kekuatan.
“PMII hari ini sudah waktunya menyikapi persoalan pendidikan, ekonomi bahkan budaya yang mulai hilang karena adanya sebuah modernisasi,” keluhnya saat interview oleh reporter NUOS di kantor komisariatnya, Kamis (18/3/2021).
Alukni Madrasah Aliyah (MA) Nasy’atul Muta’allimin Gapura tersebut menegaskan bahwa siapapun yang terpilih sebagai Ketua Umum PMII, kesadaran kolektif atas nama kepentingan bersama harus menjadi karakter bagi suatu pimpinan organisasi.
“Pergerakan yang masif dan menyeluruh adalah harapan bagi segenap kader PMII di berbagai lini. Pada masa kepengurusan selanjutnya, PMII tidak hanya selalu berkutat pada ranah kegiatan formal belaka, yang jauh lebih penting memiliki sistem kaderisasi yang jelas serta pemetakan potensi kader menjadi prioritas dalam membangun suatu gerakan yang tidak hanya sekadar kuantitas tetapi kualitas kader perlu dipandang oleh para pengurus. Ini tugas dan tanggung jawab bagi sebuah pimpinan,” sergahnya.
Pria kelahiran Batang-Batang tersebut memberikan pesan morilnya bahwa warga pergerakan jangan pernah memandang organisasi dari sisi kejelekannya saja, dibalik semua itu ada banyak kelebihan yang dimiliki.
“Jangan hanya fokus pada kajian dan diskusi, tetapi belajar kedewasaan, sama-sama merangkul antar satu dengan yang lain serta tidak hanya selesai dalam persoalan kepentingan politik praktis, tetapi menjadikan PMII sebagai wahana untuk mengasah intelektual dan siap siaga dalam menghadapi berbagai tantangan,” pungkasnya.
Pewarta: Firdausi
Editor: Abd Warits

