Image Slider

Ketua Umum PBNU Ungkap Perang Era Globalisasi yang Harus Dimenangkan

Kota, NU Online Sumenep

Haul Emas ke-50 Almaghfurlah KH. Abdul Wahab Chasbullah digelar secara virtual dari Masjid Jami’ Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Selasa (22/6/2021).

Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj saat memberikan sambutan menyampaikan bahwa di era globalisasi ini terdapat lima jenis perang yang sedang dan akan dihadapi. Hal ini akan membuat negara-negara yang belum digategorikan maju bergantung kepada negara-negara besar yang sudah maju.

“Saat ini kita juga sedang menghadapi lima perang besar yang harus dimenangkan. Bukan perang fisik. Tapi perang ini dapat merebut, menguasai, mengubah cara berpikir masyarakat. Sehingga pada akhirnya suatu bangsa akan tunduk pada bangsa lain,” ungkap Kiai Said.

Perang tersebut juga disebut sebagai perang peradaban. Tentu lebih berbahaya dari perang fisik. Dan hal itu sudah terbukti di Timur Tengah. Tercerai berai, karena tidak mampu menghadapi. Sudah 40 tahun di sana terjadi perang saudara.

“Pertama, perang kebudayan. Orang bangun tidur sampai tidur lagi dicekoki dengan film, musik, game dan lain-lain. Sasarannya yang muda-muda ini. Kalo seperti kita yang sudah tua sudah tidak bisa. Ga ada sempatan,” ujar beliau.

Kedua, adalah perang digital. Semua negara sudah membuat platform digital untuk menciptakan ketergantungan dan memotret prilaku dan algoritma bangsa lain agar selalu berada dalam kendali.

“Jadi negara-negara akan mengupayakan bagaimana bisa menguasai segalanya. Termasuk database. Jangan dianggap perkara kecil ini. Sekarang bangsa kita sudah diketahui datanya. Sudah bocor. Yang sarjana sekian, yang petani sekian, yang pedagang sekian, yang pengangguran sekian, dan seterusnya,” imbuh beliau.

Hal tersebut menurut Kiai Said akan membuat ketergantungan kita kepada negara lain yang menguasai data kita. Kendati demikian, beliau berharap semoga tidak menimpa negeri Bumi Pertiwi ini.

Ketiga adalah perang biologi. Saat ini, lanjut Kiai Said, di masa pandemi Covid-19 negara yang maju sudah berlomba-lomba untuk memproduksi vaksin sebanyak-banyaknya untuk menjadi pemenang.

“Negara yang tidak mampu memproduksi, dan hanya mengimpor saja, itulah negara yang kalah. Semoga di negara tercinta kita ini tidak separah yang dibayangkan ini,” terang beliau.

Pada intinya, negara-negara pemenang itu akan mendikte negara-negara yang hanya menjadi importir.

“Kelima, adalah perang makanan, air dan energi. Siapa yang memiliki sumber-sumber makanan air dan energi itu, maka akan mampu menjadi penguasa global. Itulah gambaran era globalisasi 5.0,” ujar beliau.

Guna menghadapi semua itu Kiai Said mendorong kepada semua santri dan kader-kader NU untuk menguasai era digital agar tidak ketinggalan dengan kemajuan yang pesat ini.

Lebih jauh, Kiai Said juga menekankan bagaimana masyarakat harus meningkatkan kepedulian lingkungan. Seperti polusi dan sampah plastik.

“Sebab ancaman lingkungan adalah ancaman kehidupan,” pungkas Kiai Said.

Acara tersebut disiarkan secara langsung melalui 273 kanal YouTube. Termasuk dalam hal ini TVNU Sumenep. Turut hadir Presiden Joko Widodo, Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj, Gubernur Jawa Timur Khafifah Indar Parawansa, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH. Marzuqi Mustamar, Gus Miftah Maulana Habiburrahman, dan KH. Musthafa Aqil Siradj.

Editor: Abdul Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga