Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Secara metodologi, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu.
Hal itu disampaikan oleh Kiai Asy’ari Muthhar ketika mengisi perkuliahan terakhir di Semester I Prodi PAI Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Selasa (21/12/2021) di kelas setempat.
Menurut Asisten Direktur Pascasarjana Instika itu, tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia di setiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang benar dan salah sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran manusia.
“Untuk mencapai tujuan itu, etika mengalami kesulitan, karena pandangan masing-masing golongan dunia ini tentang benar dan salah mempunyai ukuran (kriteria) yang berlainan. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia,” tuturnya.
Dijelaskan pula, filsafat kerap kali dipandang sebagai ilmu yang abstrak, padahal filsafat ini dekat sekali dengan kehidupan manusia. seperti etika dan estetika.
“Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran melainkan memeriksa kebiasaan, nilai, norma, dan pandangan moral secara kritis. Etika mengacu kepada perbuatan dan tingkah laku manusia,” imbuhnya.
Sedangkan estetika cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan seperti keindahan jasmani dan keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni.
“Etika dan estetika akan menentukan bagaimana sikap atau tingkah laku baik, buruk, indah seorang manusia. Maka dari itu filsafat tidak akan terpisah dari kehidupan manusia,” tegasnya dewan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Al-Idrisy Guluk-Guluk itu.
Dirinya juga menyelipkan pembahasan tentang kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir karena penyalahgunaan bahasa (verbal) dan/atau relevansi (materi).
Ia menyatakan bahwa kesesatan (fallacia, fallacy) merupakan bagian dari logika yang mempelajari beberapa jenis kesesatan penalaran sebagai lawan dari argumentasi logis.
“Kesalahan yang disebabkan oleh bahasa yang salah antara lain, karena pemilihan istilah yang salah. Sedangkan relevansi yang salah dapat disebabkan oleh pemilihan premis yang salah (pembuatan premis dari proposisi yang salah), atau prosesnya dalam mendeduksi premis yang salah (premis tidak terkait dengan proposisi salah pada kesimpulan yang harus dicari). Suatu kesalahan yang kejadiannya terdapat dalam kesalahan penalaran, hal inilah yang disebut kesalahan logika (logical fallacy),” terangnya.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa itu mengklasifikasikan kekeliruan berpikir seperti kekeliruan logika formal atau kekeliruan logika informal, masing-masing.
“Klasifikasi kekeliruan informal dapat dibagi lagi ke dalam kategori seperti meragukan apakah yang pernyataan asli berarti. Hal inilah yang disebut ‘analisis linguistik’, yaitu analisis untuk mengakui kesalahan, relevansi melalui penghilangan, relevansi melalui intrusi, dan relevansi melalui anggapan,” ucapnya.
Diakhir penjelasannya, alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga memberikan contoh kesesatan penggunaan bahasa.
“Meskipun kata yang digunakan sama, dalam kalimat yang berbeda kata tersebut dapat memiliki arti yang berbeda. Ketidaktepatan dalam menentukan arti kata atau kalimat dapat menyebabkan inferensi yang salah. Berikut adalah beberapa jenis kesalahan yang disebabkan oleh penggunaan bahasa. Misalnya, ”Pemuda” merupakan ”tulang punggung” negara. Kesesatan dalam tafsir: pemuda di sini adalah arti sebenarnya dari pemuda, dan tulang punggung adalah kiasan karena keadaan tidak ada organisme hidup dan tidak ada tulang punggung seperti Vertebrata,” pungkasnya.
Pewarta: Lukmanul Hakim
Editor: Firdausi

