Image Slider

Kiai Musleh Ungkap Tiga Sifat Nabi yang Perlu Diteladani

Gapura, NU Online Sumenep
KH. Musleh Adnan, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatut Ta’limiyah, Plakpak, Pagantenan, Pamekasan menyampaikan tiga sifat Nabi Muhammad SAW yang perlu diteladani oleh umatnya. Tiga sifat tersebut bilamana mampu diikuti, niscaya akan mendapatkan ketenangan hidup, baik di dunia maupun diakhirat.

“Ada tiga sifat Nabi yang perlu diteladani oleh kita semua. Tidak perlu banyak-banyak. Cukup tiga saja. Yang penting kita bisa meneladaninya,” ungkap Kiai Musleh saat mengisi tausiyah keagamaan dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Pengasuh Pondok Pesantren As-Subki oleh Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Mandala Kecamatan Gapura, Ahad (10/10/2021).

Di antara tiga sifat Baginda Nabi yang perlu diteladani, menurut Kiai yang juga Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan itu, pertama Badzlun Nada (بذل الندى), selalu memberi atau bersedekah.

“Mari kita sisakan sebagian dari harta kita untuk kepentingan agama dan bangsa. Jangan sampai kita seperti semut, hanya rajin menumpuk makanan, tapi ujung-ujungnya tidak dimakan juga karena terlalu kebanyakan,” pintanya.

Diceritakan Kiai Musleh, salah seorang sahabat Nabi, Abu Bakar As-Shiddiq rela menyumbangkan seluruh harta kekayaannya untuk kepentingan bersama. Hal itu tidak menjadikan keberatan sebab segala sesuatu hanya milik Allah SWT, dan juga akan kembali kepada-Nya.

Sebagai umat Nabi, beliau mengajak kepada seluruh Nahdliyin dan Nahdliyat yang hadir untuk meneladani sifat Nabi yang satu ini. Selalu menebar manfaat kepada sesama. Termasuk menyisihkan sebagian harta untuk kepentingan umat.

Kiai kelahiran Jember, 18 Oktober 1975 itu menambahkan, bahwa sifat kedua Nabi yang perlu diteladani adalah Kafful Adza (كف الأذى), menahan diri untuk tidak menyakiti. Sering dijumpai diberbagai kisah, bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membalas atas setiap kejahatan yang dilakukan oleh orang lain kepadanya.

“Bahkan ada salah seorang perempuan yang sengaja hendak meracuni Nabi. Kemudian Malaikat Jibril memberitahu. Namun apa tindakan Rasulullah? Beliau hanya bertanya kepada perempuan tersebut tujuan mengapa harus meracuninya. Ternyata perempuan itu hanya sebatas ingin mengetahui apakah Nabi sungguhan atau tidak,” ungkapnya menceritakan.

Meski begitu, menurut Kiai Musleh, Nabi Muhammad SAW bukan berarti tidak mempunyai nafsu dan keberanian. Justru manusia yang paling pemberani adalah Baginda Rasul. Terbukti ketika perang membela agama, beliau selalu berada di garda terdepan melawan para musuh.

“Hanya saja, Rasulullah tahu posisi. Ketika menyangkut urusan agama Islam, beliau menampakkan keberaniannya. Ketika perang beliau selalu berada di garda terdepan. Namun ketika menyangkut urusan pribadi, beliau selalu sabar dan tidak membalas siapapun yang menyakiti beliau,” sergahnya.

Kemudian, yang ketiga adalah Basthul Wajhi (بسط الوجه) muka yang selalu sumringah dan selalu berseri-seri. Berkaitan dengan hal ini, Kiai Musleh mengajak kepada seluruh masyarakat agar selalu ramah dan murah senyum kepada siapapun. Termasuk dalam hubungan rumah tangga.

“Di dalam rumah tangga, antara suami dan istri harus selalu harmonis. Utamanya seorang istri, harus selalu menebar senyum kepada suami. Sebaliknya, seorang suami pun demikian. Saling menghargai satu sama lain,” imbuhnya.

Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo itu juga menekankan agar selalu menanamkan kecintaan kepada tanah air. Hubbul Wathan Minal Iman, mencintai tanah air sebagian dari iman.

“Merujuk pada kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada Kota Makkah. Tempat kelahiran yang berhasil ditaklukkan ketika dikuasai oleh orang kafir,” tandasnya.

Lebih jauh, Kiai Musleh juga menyampaikan kunci hidup agar bisa tenang di dunia maupun di akhirat. Yakni rela dengan semua pemberian Allah, dan yakin bahwa Allah selalu akan memberikan pertolongan.

“Jadi tidak perlu muluk-muluk menjalani hidup ini. Tidak usah terlalu dipikirkan berlebihan. Cukup syukuri yang ada, dan tidak memikirkan yang tidak ada,” harapnya.

Sebelum mengakhiri tausiyah, Kiai Musleh meminta agar lebih mendahulukan akhlak daripada ilmu. Keduanya merupakan unsur penting dalam melakoni hidup. Namun porsinya harus disesuaikan. Jika hanya mengandalkan ilmu belaka dan abai dengan akhlak, maka orang lain tentu tidak akan senang.

إجعل علمك ملحا، واجعل أدبك دقيقا

Jadikan ilmu itu sebagai garam, dan akhlak/adab sebagai tepung.

“Jangan terlalu banyak garamnya. Justru harus lebih banyak tepungnya. Artinya, akhlak harus lebih dominan dan diutamakan dari pada ilmu,” pungkasnya.

Acara tersebut dihadiri oleh Pengurus Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Sumenep, jajaran pengurus Syuriah dan Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura, Lembaga dan Badan Otonom (Banom), serta ribuan masyarakat dari berbagai desa tetangga.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga