Image Slider

Kisah Pilu Keluarga di Lereng Semeru

Lumajang, NU Online Sumenep
Harta yang paling berharga adalah keluarga, namun siapa sangka jika musibah Semeru harus memisahkan kebahagiaan dengan orang-orang tercinta. Begitulah nasib yang dialami para korban akibat erupsi gunung Semeru beberapa waktu lalu.

Di sela-sela penyerahan donasi, NU Care LAZISNU Sumenep bersama lembaga dan badan otonom, berkesempatan langsung mendengarkan kisah pilu mereka kala berusaha menyelamatkan diri dari erupsi Gunung Semeru itu.

Seorang perempuan bernama Ibu Hani (53) warga Candipuro, Lumajang, harus merelakan kepergian suami tercinta tepat saat berusaha menyelamat diri. Ia juga masih harus menerima kenyataan yang lebih pahit, yakni kehilangan cucu satu-satunya yang masih kecil.

Ia menceritakan, sore itu, saat kejadian, abu vulkanik bertebaran di seantero tempat tinggalnya, hingga untuk berjalan dengan menggunakan penerang (senter) saja tidak bisa. Batu kerikil yang dihempaskan dari puncak Mahameru berjatuhan di atap rumahnya. Ia menjerit ketakutan, berharap pertolongan segera datang.

“Saat kami berusaha menyelamatkan diri, beberapa kayu yang patah nyaris menimpa kami. Untuk menghindari itu, kami berlindung di balik bebatuan yang besar,” ungkapnya menceritakan.

Namun, semua orang kala itu disibukkan dengan menyelamatkan dirinya sendiri dengan lari terbirit-birit menuju tempat yang lebih aman. Sementara dirinya terkurung di dalam rumah, bersama keluarga, termasuk cucunya.

Saat keluar rumah mencari pertolongan bersama keluarga, sang suami terperosok ke jurang lantaran tidak bisa melihat apa-apa, gelap gulita. Demikian pula si cucu, hilang di saat berusaha menyelamatkan suami yang terperosok ke jurang.

“Tak disangka suami kami terperosok ke jurang karena tidak bisa melihat apa-apa. Cucu kami pun juga hilang saat kami berusaha menyelamatkan suami,” imbuhnya disertai isak tangis.

Beruntung, ia bersama anak dan menantunya berhasil menyelamatkan diri. Meski luka mendalam menyelimuti; harus menerima kenyataan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya tak terselamatkan.

Nasib serupa juga dialami Supia (40), warga Desa Sumber Wulu, Kecamatan Candipuro. Meski semua keluarganya terselamatkan, tetapi rumah beserta isinya ludes diterjang banjir, lahar dingin dan panas.

Semula, Supia bersama anggota keluarga lainnya berada di dalam rumah. Sementara sang suami sedang mencari rumput untuk pakan ternak. Tiba-tiba kabut hitam menyelimuti, hingga ia berteriak histeris meminta pertolongan.

Saat kondisi mulai membaik, ia memutuskan untuk keluar rumah menyelamatkan diri lari ke tempat yang lebih aman bersama keluarganya. Namun tak lama dari itu, kabut hitam kembali berhamburan, menggelapkan penglihatan mereka. Kepada para relawan ia pun menceritakan betapa sulitnya medan yang dilalui.

“Kami lari dalam keadaan kabut tebal. Medan jalan yang kami lalui sangat sulit. Bahkan berbahaya. Tidak jarang pohon berjatuhan di dekat kami. Beruntung kami segera mencari perlindungan untuk menghindar,” ujarnya.

Sang suami kala itu juga menggendong bapak mertua yang sudah usia renta. Melewati jalan terjal, penuh rintangan dan bahaya ditimpa pepohonan dan batu, bukan perkara mudah. Namun semangat untuk terus menyelamatkan diri menyala terang dalam diri keluarga yang malang ini.

“Meski rumah kami tidak bisa diselamatkan, yang penting kami semua selamat, Pak,” sergahnya sembari menyeka air mata.

Tentu masih banyak lagi kisah pilu yang dialami oleh ribuan warga di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo, Lumajang. Semburan awan panas dan lahar dingin dan panas yang menerjang, telah memakan banyak korban jiwa. Mereka yang terselamatkan, masih dibayang-bayangi rasa trauma tinggi dan gangguan psikologi.

Akibat kejadian bencana alam ini, bantuan sosial berdatangan dari berbagai instansi. Baik berupa materi, kebutuhan logistik, maupun pakaian layak pakai. Sepanjang jalan menuju lokasi terdapmpak, deretan tenda-tenda posko para relawan penuh dengan logistik dan jenis bantuan lainnya.

Menanggapi hal itu, Kiai A. Quraysi, Ketua NU Care LAZISNU Sumenep, berharap agar para korban senantiasa dilindungi oleh Allah SWT. Segera pulih fisik dan batinnya.

“Saya mendengar langsung cerita dari mereka. Tentang bagaimana perjuangan mereka menyelamatkan diri. Hati rasanya renyuh,” ungkapnya.

Sebagai lembaga NU yang membidangi zakat infaq dan shadaqah, pihaknya mengaku siap untuk mengangkat kembali derajat mereka para korban sebagai sesama manusia yang harus diperhatikan.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumenep, Kiai Qumri Rahman, mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk saling berbagi dengan mereka yang sedang dalam kesulitan.

“Cobaan yang mereka alami sangat pedih. Mereka harus kita perhatikan khusus. Karenanya kita perlu saling bersinergi, agar kita benar-benar hadir untuk mereka,” pungkasnya.

Editor: Ibnu Abbas.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga