Bluto, NU Online Sumenep
Lautan Nahdliyin di acara Resepsi Puncak 1 Abad NU di stadion Delta Sidoarjo menjadi kenangan bagi setiap jamaah. Saking banyak jamaah yang berdesak-desakan masuk, banyak masyayikh memilih mengikuti pemberian ijazah di emperan jalan raya. Salah satunya adalah KH Marham Syuja’ie Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bluto.
Diceritakan oleh Kiai Marhan, dari awal hingga akhir acara, dirinya yang ditemani Mosa Ketua MWCNU Bluto tidak beranjak dari tempat duduknya di trotoar jalan. Bahkan dirinya beserta rombongan lainnya memilih tidur di emperan jalan lantaran tidak memiliki tempat berteduh.
“Kami memilih istirahat di emperan jalan, tepatnya di sekitar perumahan pondok mutiara, sekitar area Lippo Plaza atau di sekitar monumen Pancasila. Sedangkan jarak posko ke stadion kurang lebih 1 kilometer lebih,,” terangnya saat dikonfirmasi, Ahad (12/02/2023).
Dijelaskan, dirinya memilih tidur di pinggiran jalan karena tidak menemukan tempat berteduh dan terpisah dengan rombongan yang lain. Ditambah lagi membludaknya jamaah yang memadati jalan dan berdesak-desakan untuk masuk ke dalam stadion.
“Saking banyaknya jamaah yang berjalan kaki datang dari berbagai arah, membuat kami berhenti guna menghirup udara segar. Jika dipaksakan, bisa jadi mengalami sesak nafas,” ujarnya.
Dirinya menegaskan, selain padatnya jamaah, yang memotivasi dirinya tidur di emperan jalan adalah derajat manusia yang sama. Yang menjadi pembeda adalah amal dan ibadahnya.
“Kita semua sama, duduk sama rendah, tegak sama tinggi, dan NU mengajarkan kepada kita arti sebuah kesederhanaan,” tandasnya.
Diketahui, banyak pula masyayikh sepuh yang memilih duduk di luar stadion guna menyaksikan rentetan acara di layar tancap. Sebut saja yang viral di media sosial KH Hanafi Waliyullah asal Karawang yang menyamar dengan pakaian petani. Juga KH Ahmad Masduqi Abdurrahman Al-Hafidz pengasuh pesantren Raudhatu Tahfidzil Qur’an Perak, Jombang.

