Image Slider

Ngaji Ramadhan, Kiai Fadlan Ulas Kemuliaan Malam Lailatul Qadar

Pragaan, NU Online Sumenep

Kemulian bulan Rajab ada pada 10 hari di awal bulan pertama; bulan Sya’ban berada pada 10 hari di pertengahan bulan; dan bulan Ramadhan berada pada 10 hari di akhir bulan tersebut.

Penyampaian ini, dikatakan oleh KH Ahmad Fadlan Masykuri yang mengisi acara Podcast Ramadhan dengan tema ‘Menggapai Malam Lailatul Qadar di Malam Sepuluh Terakhir Bulan Ramadhan’. Acara disiarkan langsung di Studio 2 TVNU Sumenep, Sabtu (1/5/2021) sore.

Kiai muda yang menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep itu menegaskan, bahwa malam lailatul qadar hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW dan tidak pernah diberikan kepada umat-umat nabi terdahulu.

“Di malam tersebut, ada peristiwa ghaib, yaitu Allah SWT menampakkan umur-umur umat terdahulu kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana usianya mencapai ratusan tahun. Berangkat dari kejadian metafisik tersebut, Rasulullah menganggap umur umatnya pendek dan akhirnya muncul kekhawatiran terhadap umatnya yang kelak tidak bisa beramal baik seperti umat nabi sebelumnya. Saat itulah Nabi Muhammad SAW memanjatkan doa agar umatnya bisa sebanding dengan amal-amal umat terdahulu,” ungkap kiai Fadlan saat menjelaskan asbabun nuzulnya.

Tak sampai di situ, malam yang agung tersebut memiliki keutamaan, antara lain: turunnya Al-Qur’an dari lauhul mahfudz ke baitul izzah, kemudian turun kepada nabi secara bertahap dalam kurun waktu 23 tahun. Selanjutnya, turunnya malaikat ke bumi sambil menyalami umat Islam yang benar-benar beribadah kepada Allah pada malam itu.

“Berdasarkan keterangan dari jumhur ulama, malam lailatul qadar jatuh pada angka ganjil. Ciri-cirinya dapat diketahui di pagi hari atau pasca malam harinya. Contohnya, matahari akan terbit dari timur yang mengeluarkan cahaya putih dan sinarnya tidak terasa panas. Mengapa demikian? Karena itu, malaikat naik ke langit sehingga menutupi sinar matahari. Yang paling aneh adalah di pagi harinya suasana tenang,” urainya.

Tak henti di situ, untuk di malam harinya, Allah SWT akan menampakkan malam lailatul qadar kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

“Orang-orang pilihan Allah itu akan melihat seluruh makhluk bersujud. Jika tidak, ia akan melihat cahaya yang bersinar walaupun di tempat gelap. Yang paling sulit adalah mendengar salam malaikat dan percakapannya,” jelasnya.

Untuk menggapainya, Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kota tersebut menjelaskan anjuran nabi, yaitu shalat isya berjamaah dan memperbanyak shalat sunnah, mengencangkan sarung atau tidak tidur dengan istri, berdzikir, memperbanyak baca Al-Qur’an, dan beri’tikaf di masjid atau musholla.

“Kita tidak harus tau malam itu, tapi kita niatkan untuk beribadah sebaik mungkin, seperti membaca syahadat dan istighfar agar kita dijauhkan dari api neraka,” pintanya.

Kemudian, agar umat Islam mendapat keutamaan di akhir Ramadhan, kiai muda yang juga menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Darurrahman Pangarangan itu menyebutkan empat kelompok yang tidak akan mendapat fadilahnya. Yakni orang yang masih minum-minuman keras atau memakai narkoba, durhaka pada orang tua, memutus hubungan silaturahim, dan bermusuhan antar sesama.

“Semoga kita tidak masuk pada empat kategori tersebut, naudzubillah,” sergahnya.

Di akhir acara, alumni Ma’had Assayyid Muhammad bin Alawi Almalikiy Makkah Al-Mukarramah itu mengajak pada pemirsa untuk bershadaqah di bulan ramadhan. Paling tidak bisa memberikan takjil kepada sesama walaupun hanya satu kurma, segelas air, secicip susu, bahkan separuh kurma.

“Jangan remehkan, karena Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa kita, dibebaskan dari siksa api neraka, dan mendapatkan pahala seperti halnya dilakukan oleh orang kita berikan takjil. Ingat, jika mau bershadaqah, dahulukan kerabat dekat kita,” pungkasnya.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga