Batuan, NU Online Sumenep
Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH. M. Zainurrahman Hammam mengingatkan kepada para kru NU Online Sumenep dan TVNU Sumenep agar senantiasa berpegang teguh pada prinsip bermedia ala santri.
Hal itu disampaikan saat mengisi Khutbah Iftitah dalam acara Hari Lahir (Harlah) Ke-1 NU Online Sumenep dan TVNU Sumenep, Selasa (1/3/2022), di Kantor PCNU Sumenep Lantai 2.
“Ada dua prinsip yang mesti dipegang teguh oleh awak media. Utamanya media yang dikelola oleh santri maupun Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Pertama, hendaknya para awak media menerapkan prinsip Tabayyun. Sebagai pegiat media, utamanya di ranah digital, bilamana menemukan sesuatu yang tidak biasa, aneh atau bahkan ganjil, tidak langsung turut menyebarkan, memberitakan dan ikut menjadi provoktor.
“Sebagai pemburu berita, yang kebagian melihat, mendengar, dan atau membaca sebuah peristiwa, kita tentu sepakat, bahwa salah satu pedoman kita saat berhadapan dengan sesuatu yang tak biasa, aneh, ataupun ganjil adalah tabayyun (klarifikasi),” ujarnya.
Kiai Zainur juga menukil Firman Allah SWT dalam surah Al-Hujarat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ – الحجرات : ٦
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang membawa kabar (tentang suatu hal) padamu, maka bertabayyunlah, agar kalian tak sampai menimpakan vonis negatif pada suatu kaum karena berdasar ketidaktahuan kalian tentang realitas hal tersebut, sehingga kalian menyesal karenanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Karangkapoh Preduan, Pragaan itu menambahkan, bahwa bertabayyun bisa meminimalisir kegaduhan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, akibat kesalahpahaman.
Maka sebagai pegiat media santri dan NU, sebelum mengolah dan menyebarkan informasi, terlebih dahulu, menurut Kiai Zainur, mengklarifikasi, memastikan validasi data, kemudian pertimbangkan sisi positif dan negatifnya.
Kedua, menghindari tuhmah atau prasangka. Pegiat media yang secara otomatis mengemban amanah memberitakan kebenaran dan menginformasikan fakta, hendaknya berpedoman pada aturan dan nilai-nilai yang diajarkan agama.
“Salah satunya, adalah menghindari diksi dan/atau pernyataan kontroversial dan menggugah orang untuk berburuk sangka (tuhmah), karena hal ini hanya akan memancing kegaduhan dan manfaat yang diharapkan dapat diraih malah menjauh,” imbuhnya.
Imam Nawawi dalam Syarah Arbain Nawawi halaman 28 mengutip sabda Rasulullah SAW, ‘Siapapun yang mengimani Allâh dan hari kiamat, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh menghindari situasi yang bisa memancing orang berburuk sangka padanya’.
Karenanya, menurut murid Alm. RKH Abd. Hamid AMZ Bata-Bata itu, pegiat media dari kalangan santri tetap mengedepankan Akhlakul Karimah. Tidak menyampaikan informasi berdasarkan prasangka buruk yang justru secara validitas data sangat diragukan.
Imam Nawawi, lanjut Kiai Zainur, juga mengutip pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. ‘Hindarilah hal-hal yang otomatis mengundang pengingkaran hati orang lain, sekalipun engkau memiliki alasan (atas hal tersebut). Banyak orang yang mendengar apa-apa yang ia ingkari, yang tak bisa kau upayakan agar mau mendengar (dan mengerti) alasan(nya)’.
Editor: Abdul Warits

