Oleh: Muhtadi
Judul Buku: Rahasia Nabi Khidir
Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani
Penerbit: Turos Pustaka
Tahun Terbit: II, Juli 2020
Tebal Buku: 240 hlm/ 14×21 cm
ISBN: 978-623-7327-22-6
Banyak kitab yang mengatakan bahwa Nabi Khidir masih hidup sampai saat ini. Hal ini dibuktikan dengan berbagai pengalaman yang dilalui oleh beberapa ulama. Terlepas dari bukti validnya, pasti akani ada ulama yang tidak sepakat bahwa Nabi Khidir masih hidup, mengingat tidak adanya nabi setelah Nabi Muhammad Saw. Bahkan ada yang menyatakan kalau Nabi Khidir itu bukan nabi melainkan wali yang hidup di beberapa periode nabi. Perdebatan ini banyak mengundang konflik di kalangan umat islam.
Pernyataan Nabi Khidir masih hidup sampai saat ini menjadi tanda-tanya besar, bahkan tidak jarang menjadi perbincangan serius dikalangan ulama. Sebab ada statemen autentik di al-Qur’an perihal cerita Nabi Khidir dan Nabi Musa yang cukup familiar. Hal ini menjadi bukti bahwa Nabi Khidir adalah nabi karena tidak mungkin seorang wali bisa lebih cerdas dari seorang nabi. Cerita tersebut sangat fenomenal dan menjadi sebuah pertanyaan besar terkait nabi yang lebih akrab dengan air ini.
Terlepas dari beberapa ulama yang menyatakan bahwa Nabi Khidir masih hidup sampai saat ini. Ulama kompatibel juga ada yang tidak meyakini keberadaan Nabi Khidir, karena (ualam yang menolak) menganggap takhayul jika masih meyakini keberadaan Nabi Khidir dengan dalil al-Qur’an di Surah al-Anbiya’ ayat:34 kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad) inilah alasan kuat para ulama yang tidak meyakini kalau Nabi Khidir masih hidup.
Barangkali hal inilah yang memantik ulama hadis Ibnu Haja al-Asqalani untuk menulis kitab—A-Zahru an-Nadhir Fi Naba ‘I al-Khadir—sebagai penengah pertikaian yang masih menjadi tontonan asyik terkait keberadaan Nabi Khidir. Buku ini diterjemahkan dengan judul “Rahasia Nabi Khidir” dengan bahasa yang ringan serta data-data komprehensif dari berbagai ulama kelas kakap dan juga serta dalil-dali qot’i. Ibnu Hajar al-Asqailani tidak latas memprovokasi atau menvonis pendapatnya benar, juga tidak memprovokator pembacanya. Karena dalam buku ini, Ibnu Hajar al-Asqalan,i tidak secara tegas mengikuti pendapat-pedapat yang sudah bertebaran. Sebab, anggap penulis, hal ini dilakukan agar tidak menjustifikasi pendapat yang pro ataupun yang kontra. Dengan begitu semua orang yang membacanya bisa mengoreksi atau memilih jalan sendiri yang sudah disediakan oleh ulama hadis tersebut.
Buku ini secara teoritis menghadirkan berbagai macam pendapat yang setiap argumennya dilakukan penelusuran untuk diverifikasi karena dikhawatirkan ulama yang bersangkutan matruk atau tadlis. Hal inilah yang dihindari oleh Ibnu Hajar al-Asqalani agar kebenaran (atau sebaliknya) Nabi Khidir bisa dibuktikan dengan dalil-dalil yang disepakati ulama.
Pendapat yang paling kuat—menurut penulis—datang dari cerita Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang bertemu dengan Nabi Khidir. Cerita ini juga tersaji meski dalam bentuk potongan (tidak utuh). Menurut pengakuan Khalifah ke-5 tersebut, dirinya sampai bercakap-cakap sehingga Nabi Khidir berkata kalau dirinya akan menjadi pemimpin yang baik. Aku pernah melihat Nabi Khidir berkata sambil berjalan dengan cepat. (hal.179) cerita ini mashur dikalangan ulama kerena ada beberapa perawinya tidak matruk. Akan tetapi menurut sebagian ulama lain, pendapat atau hikayat ini dhaif.
Simpang siur perihal keberadaan Nabi Khidir (saat ini) menjadi topik hangat dikalangan pakar hadis. Sebab untuk membenarkan keberadaan Nabi Khidir masih hidup atau tidak jika berpatokan pada dalil-dali qot’i, tentu tidak mudah, karena tidak ada dokumen yang memiliki otoritas kebenaran mutlak sebab tidak ada ulama kaliber menyatkan bahwa Nabi Khidir akan hadir kalau kita melakukan ritual ini-itu. Disinilah yang menjadi atensi bagi ulama atau pakar-pakar sejarah dalam memberikan argumentasi logisnya. Pembuktian dari statemen ini bisa dengan mencicipi buku ini, bahwa Ibnud Hajar al-Asqalani yang secara personal menghadirkan argument tanpa mengintervensi individu dan golongan lain.
Di samping itu, buku yang sangat baik untuk dinikmati bagi siapapun ini memiliki kelebihan tersendiri. Seperti doa-doa Nabi Khidir yang jarang diketahui oleh banyak kalangan. Bukan hanya itu, wasiat-wasiat Nabi Khidir juga terekam jelas dalam buku bermutu ini. Bukan hanya itu kelebihan buku ini, dengan kekonsistenan yang ciamik, Ibnu Hajar al-Asqalani, menghadirkan kisah-kisah selain bersama Nabi Musa a.s. tentu kelebihan buku ini menjadi pengetahuan plus bagi pemabaca yang sudah mengantonginya.
Dengan dalil-dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis, buku ini menjadi hidangan nikmat untuk pembaca yang haus akan pengetahuan baru. Bukan hanya itu, isi buku ini juga bisa menjadi pijakan awal bagi mereka yang tidak meyakini keberadaan Nabi Khidir, karena secara histori sulit untuk dibuktikan. Kehadiran buku ini seolah ingin menepis sikap pesimitis tersebut. Sebab tidak ada kebenaran yang mutlak, akan tetapi tidak ada kesalah yang mutlak pula.
Jember, 2021
Muhtadi, Penulis kelahiran Gedangan, Sukogidri, Ledekombo, Jember ini sedang mengabdikan diri untuk ilmu di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa.

