Image Slider

NU Giliraja Kembangkan Dakwah Aswaja Lewat Majelis Ta’lim

Giliraja, NU Online Sumenep

Beragam ikhtiar dilakukan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Giliraja dalam mengembangkan dakwah dan menjalin keakraban bersama nahdliyin. Salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan Majelis Ta’lim. Perkumpulan yang diisi dengan istighatsah dan kajian kitab Al-Mawa’idh Al-Ushfuriyyah ini telah berjalan puluhan tahun, dan rutin digelar setiap Jumat malam setengah bulan sekali.

Setelah diliburkan sejak menjelang ramadlan 1442 H lalu, majelis ilmu yang diberi nama Majelis Ta’lim Al-Khairat ini kembali dilaksanakan. Kali ini bertempat di kediaman Bapak Hoyyimah Abdurrahman, Desa Jate Giliraja, Sumenep, Jumat (21/02/2021) malam.

K Abd Hafidh, Mustasyar MWCNU Giliraja yang dipercaya memimpin majelis ini meminta kepada jamaah, agar tetap berusaha mempertahankan dan meningkatkan amalan atau ibadah yang telah dilakukan selama ramadlan. Sebab ibarat dalam perang, Bulan Ramadlan adalah ujian sesungguhnya.

“Mari kita pertahankan amalan atau ibadah yang telah biasa kita lakukan selama ramadlan. Bahkan kalau bisa, tingkatkan kualitas dan kuantitas menjadi lebih baik,” ucapnya.

Selanjutnya, Pengasuh Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja ini memulai kajian kitab Al-Mawa’idh Al-Ushfuriyyah, membacakan hadist kesepuluh, tentang siksa neraka.

Diceritakan, bahwa sesaat setelah diturunkannya Al-Qur’an surat Al-Hijr, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya menangis. Lantaran betapa takutnya pada siksa api neraka.

Ia pun mengutip pesan yang tersirat dalam surat Al-Hijr ayat 43. Dijelaskan bahwa neraka jahannam itu benar-benar menjadi tempatnya syaitan dan pengikutnya. Fatimah, putri Nabi yang hanya mendengar ayat tersebut kemudian terjatuh, lalu berkata “Celakalah bagi orang yang masuk neraka,” Kiai Hafidh menimpali.

Masih berdasarkan hadist dalam kitab Al-Ushfuriyyah, para sahabat berandai-andai menjadi makhluk hewan, tumbuhan, hingga bayi yang baru lahir lalu mati. Coba bayangkan, kata Kiai Hafidh yang mencontohkan pengalaman para sahabat setelah diturunkannya Al-Qur’an tentang neraka.

Kiai Hafidh kemudian mengutip perkataan sahabat Salman kepada Bilal. “Celakalah aku dan engkau wahai Bilal, jika tempat kembali kita setelah memakai katun dan jerami, kita akan memakai pakaian dari potongan-potongan api”.

Lebih tegas lagi, Kiai  Hafidh meminta kepada jamaah agar tidak meremehkan ayat suci Al-Qur’an, khususnya terkait siksa neraka.

“Para sahabat dan ulama salaf menangis. Bahkan ada yang pingsan saat mendengar ayat suci yang menjelaskan tentang siksa neraka tersebut. Minimal, ketika mendengar tentang siksa neraka, hendaknya tidak diremehkan.

“Mari perbanyak istighfar, menyesali dosa yang telah kita perbuat. Janganlah sampai setelah bertaubat kembali mengulangi maksiat,” pungkasnya.

Editor: A Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga