Image Slider

Peringati Harlah Ke-72, Fatayat NU Saronggi Gelar Talk Show Parenting

Saronggi, NU Online Sumenep

Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) yang ke-72, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Saronggi menggelar talk show parenting dan halal bihalal dengan tajuk ‘Optimalisasi Perempuan yang Terdidik dalam Mendidik’, Rabu (11/05/2022) di kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat.

Ning Vivi Nafidzatin Nadhor yang hadir sebagai penyaji menyampaikan bahwa perempuan itu harus mendidik diri dulu sebelum mendidik buah hatinya. “Di samping itu, mau mengupgrade diri, belajar dari kesalahan, dan tidak lupa selalu menirakati anak, seperti puasa di hari lahirnya, memberikan makanan yang halal dan baik,” jelas alumni Pondok Pesantren Al-Badi’iyah Kajen, Pati.

Dirinya juga menegaskan, bahwa perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Hal yang lebih penting lagi adalah ibu perlu lebih fokus pada proses pertumbuhan si kecil.

“Pencapaian memang penting, akan tetapi proses untuk meraihnya merupakan aspek yang lebih penting. Pintar bukan berarti harus memiliki nilai yang baik di sekolah atau juara dalam berbagai kompetisi,” tegasnya.

Menurutnya, cara mendidik anak yang sebaiknya dilakukan adalah agar kelak si kecil pintar dalam menjalani hidup dan selalu termotivasi untuk menjadi lebih baik.

“Sebagian besar orang tua sudah pasti akan menghabiskan waktu bersama si kecil. Namun, juga dianjurkan untuk tidak hanya menemani mereka bermain saja, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatannya sebagai salah satu cara membuat anak cerdas dan pintar,” terang beliau.

“Ajak si kecil untuk bermain bersama, contohnya seperti membaca buku atau aktivitas fisik seperti jalan-jalan santai. Selain itu, pelajari juga bagaimana cara ia bersosialisasi apabila sudah memasuki usia sekolah,” tambah Ning Vivi.

Lantas, ia meneruskan, perumpuan juga menjadi contoh baik agar si kecil mengikutinya. Apabila ibu berekspektasi si kecil untuk memiliki perilaku tertentu, lakukan terlebih dulu perilaku tersebut. “Anak-anak akan lebih mudah belajar dengan melihat kebiasaan atau perilaku yang dilakukan orang tua,” jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, ia menerangkan, perempuan juga harus mendorong anak untuk mengambil risiko dan mengalami kegagalan.

“Meski orang tua secara alami akan selalu melindungi si kecil dan menjauhkannya agar tidak merasa kesal atau marah, membiarkan ia mengambil risiko, dan merasakan kegagalan dapat mengajarkan ia skill penting dalam hidup sejak dini,” pungkasnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua MWCNU Saronggi, Kiai Rifa’ie mengapresiasi terhadap kegiatan ini. Karena Fatayat NU Saronggi sudah mempunyai peran di masyarakat.

“Kami juga berharap agar Fatayat NU terus mampu berbenah untuk mewujudkan program yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” terangnya.

Sementara itu, Ketua PAC Fatayat NU Saronggi, Ny Fatimatuz Zahroh menuturkan kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan perempuan sebagai orang tua dalam mendidik anak sesuai fitrahnya. Sehingga diharapkan orang tua memiliki peran penting untuk menumbuhkan keimanan pada diri anak.

Menurut tDewan Pengasuh Pondok Pesantren Darut Thayyibin Saroka, Saronggi itu, pendidikan ini akan ada sepanjang masa. Dari itu, upaya perempuan menjadi orang tua sangat perlu dibekali dengan ilmu dan tanggung jawab.

“Tanggung jawab ini akan dipikul bersama, hingga kelak anak sebagai amanah darinya menjadi jariyah yang tidak pernah putus,” pungkas alumni Universitas Hasyim Asy’ari (Unhas) Jombang itu.

Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga