Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Sesuai surat edaran Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tentang kembalinya santri ke pesantren, maka untuk santri putra kembali pada Rabu (11/05/2022) dan santri putri pada Kamis (12/05/2022).
Menanggapi hal itu, Sekretaris Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Kiai Ubaidillah Tsabit memberikan beberapa arahan terkait hal tersebut.
“Kembali ke pesantren tepat waktu, sebisa mungkin jangan terlambat. Ikutilah prosedur kembali ke pondok sesuai surat edaran pengurus, meliputi kembali menggunakan rombongan, mematuhi protokol kesehatan, dan tidak melalukan kegaduhan ketika di perjalanan,” tuturnya.
Ketua Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) PCNU Sumenep ini juga menegaskan kepada seluruh santri agar tidak membawa kebiasaan tidak baik yang mungkin dilakukan ketika berlibur.
“Nah, dari itu santri diharapkan agar mempunyai catatan-catatan yang akan menjadi rambu-rambu untuk meningkatkan nilai kesantrian selama menimba ilmu di pesantren,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Nurul Hikmah Guluk-Guluk itu.
Dalam hal belajar, Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini mengimbau agar para santri meningkatkan semangat belajar ketika sudah kembali ke pesantren.
“Cara yang bisa dilakukan oleh para santri yaitu memperbarui niat menimba ilmu dan berkhidmat di pesantren. Karena, dengan niat dan komitmen, maka mereka akan bertekad untuk menjadi seseorang yang dapat membanggakan dan membahagiakan kedua orang tuanya nanti,” tambahnya.
Alumni Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga mengajak kepada para santri untuk memaknai libur Ramadhan sebagai titik awal kembali menjadi pribadi santri yang lebih baik lagi ke depannya.
“Biasanya ketika sudah berlibur agak lama, maka santri sulit untuk kerasan di pesantren. Nah, cara mengatasinya yaitu harus berangkat dari kesadaran diri santri bahwa kesempatan mencari ilmu di pesantren tidak dimiliki oleh setiap orang. Hal itu perlu disyukuri. Mengingat mondok itu sebagai jihad, tidak ada jihad yang nyaman pasti membutuhkan perjuangan dan pengorbanan,” tandas Kiai Ubaid.
Misalkan dengan cara tadi santri tetap tidak kerasan, maka pindahlah ke pesantren daerah yang lain, ketimbang berhenti mondok di Annuqayah. “Di samping itu, juga bisa sowan ke pengasuh Annuqayah dalam rangka meminta nasihat dan meminta doa kepada kedua orang tua,” terangnya.
Pihaknya juga menyatakan, untuk santri baru dan lama, meminta kepada seluruh pihak baik wali santri atau santri, jika sudah kembali ke pesantren Annuqayah, mohon meminimalisir membawa barang-barang yang menyebabkan sampah plastik.
“Karena hal itu mengganggu terhadap kebersihan di Annuqayah. Untuk santri baru, kami ucapkan selamat datang, karena sudah bisa menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Annuqayah, semoga diberikan rasa kerasan,” harapnya.
“Semoga santri yang akan kembali ke pesantren mendapatkan rahmat, taufiq, dan hidayah dari Allah SWT sehingga mendapatkan ilmu manfaat dan barakah,” pungkasnya.
Editor : Ach. Khalilurrahman

