Kehidupan ini berpasang-pasangan. Ada lelaki-perempuan, siang-malam, indah-jelek dan lain sebagainya. Di antara peristiwa berpasangan yang pasti dialami manusia ialah temu dan pisah. Pertemuan yang berkepanjangan melahirkan malas dan bosan, sedangkan pisah yang berkepanjangan melahirkan rindu dan kegelisahan. Itulah simfoni kehidupan, mengalun secara bergantian, sebagai medan juang manusia menuju pucuk zaman.
Temu dan pisah – dari segi objek – secara umum dibagi dua. Pertama, temu dan pisah dengan Tuhan. Temu dengan Tuhan adalah kepastian, sedangkan pisah dari-Nya adalah kemungkinan. Pasalnya, setiap manusia sejak lahir sudah bertemu dengan-Nya. Pertemuan dengan Tuhan pada fase pra kehidupan dunia oleh Seyyed Hossein Nasr disebut perjanjian primordial. Ia merupakan momen di mana manusia mengikat janji bahwa ia menuhankan Allah SWT atau lebih jelasnya, memeluk Islam. Momen ini tertanam abadi dalam diri manusia. Al-Qur’an dan hadits menyebutnya sebagai fithrah; watak dasar manusia untuk bertuhan dan memeluk agama yang benar. Jadi, kepastian bertemu Tuhan mewujud dalam bentuk kepastian Islamnya setiap orang semenjak lahir.
Manusia baru berpisah dari Tuhan ketika mengalami satu dari dua hal berikut atau keduanya sekaligus. Pertama, pindah agama. Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap orang sejak lahir sudah Islam. Kepindahannya pada agama lain dipicu oleh hal-hal di sekitarnya, seperti orang tua, masyarakat, lingkungan dan lain semacamnya. Kepindahannya pada agama lain adalah kemungkinan. Artinya, tidak bisa dipastikan bahwa orang yang lahir pasti akan memeluk agama selain Islam, meski ia lahir di lingkungan non-Islam. Pasalnya, segala yang menurut kebiasaan pasti terjadi sejatinya tidaklah pasti. Yang biasa tidak bisa dijadikan acuan bahwa itu adalah kepastian. Teologi Asy’ariyah menyebut kebiasaan sebagai mumkin ‘adi, yaitu kejadian berdasarkan kebiasaan, sehingga orang-orang menganggapnya sebagai kepastian. Pandangan teologis ini mendapat pengesahan dari teori ketidakpastian Werner Heisenberg, pakar Fisika. Menurutnya, selaksa peristiwa – betapa pun ia menjadi kebiasaan – tetaplah ia sebagai kemungkinan. Pasalnya, alam raya dengan segenap isi dan kejadian di dalamnya bergerak di antara sekian banyak kemungkinan tanpa batas. Dari sekian kemungkinan tanpa batas itu, ada beberapa hal yang terjadi secara biasa. Yang terjadi secara biasa tesebut tetaplah bukan kepastian, sebab ia masih mengandung kemungkinan melenceng dari biasanya. Lantaran ada kemungkinan melenceng, maka wajar para rasul dan nabi dibekali mukjizat, yakni peristiwa luar biasa dan tak tertandingi.
Ketidakpastian peristiwa memberi titik terang terhadap argumen di atas bahwa orang yang lahir di lingkungan non-muslim tidak bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi non-muslim. Ada keajaiban yang Allah SWT pertontonkan. Karenanya, berpisah dari Tuhan dalam bentuk pindah agama adalah kemungkinan. Sekadar contoh, di Afrika pernah ada kasus ada anak orang Kristen yang sejak kecil enggan dibaptis. Ketika akan dibaptis, ia terang-terangan mengaku Islam, padahal waktu itu, ia masih belia; sebuah usia yang secara kebiasaan memustahilkannya masuk Islam apalagi berani membeberkan keislamannya di hadapan orang-orang Kristen yang sangat berwibawa di masyarakatnya. Pun juga, anak tersebut tidak pernah bersentuhan secara mendalam dengan Islam. Akan tetapi, ia bersuara lantang bahwa ia adalah Islam.
Kedua, berpisah dari Tuhan dalam bentuk bermaksiat. Bermaksiat memang pasti, sebab Nabi SAW telah menegaskan bahwa manusia merupakan sarang salah dan dosa. Akan tetapi, maksiat apa yang akan dilakukan kita tidak bisa memastikan. Jadi, perpisahan manusia dengan Tuhan dalam bentuk maksiat yang jelas tidak bisa dipastikan. Karenanya, tidak sepatutnya kita mudah melayangkan penilaian maksiat kepada seseorang hanya karena kita menangkap satu isyarat. Orang yang pergi ke diskotik belum tentu dia ikut mabuk-mabukan dan berzina. Barangkali dia hendak berdakwah. Bukankah ada wali yang selama hidupnya pergi ke tempat maksiat semacam itu? Ketika beliau wafat, sang istri – dengan tangis penuh pilu – mengungkap fakta yang sebenarnya. Beliau – cerita sang istri – pergi diskotik untuk membeli beberapa botol minuman keras. Sesampainya di rumah, semua minuman tersebut dituangkan ke dalam WC. Beliau menggunakan sekian banyak uangnya untuk menghentikan miras. Lantaran beliau enggan kekerasan, akhirnya jalur normal yang ditempuh, yaitu dengan membeli sebanyak-banyaknya miras untuk kemudian dibuang. Sebuah fakta yang mencengangkan bukan?
Lebih lanjut, temu dengan selain Allah adalah kemungkinan, sedangkan berpisah darinya adalah kepastian. Kita tidak bisa memastikan akan bertemu dengan siapa. Akan tetapi, dengan siapa pun kita berjumpa, kita pasti bakal berpisah darinya. Tak ayal, Nabi SAW berpesan bahwa silakan kita mencintai siapa saja, tapi kita mesti sadar bahwa kita pasti berpisah darinya. Kesadaran ini bertujuan agar kita tidak berlebihan dalam mencintai seseorang dan tidak berlebihan membenci seseorang. Bagaimana pun juga, segala yang kita cinta dan kita benci dengan sendirinya bakal pergi, meninggalkan kita seorang diri. Yang tersisa ialah secuil kesempatan bahwa kita semua tanpa kecuali kelak menemui Ilahi Rabbi. Jadi, sepahit apa pun perpisahan, hadapilah dengan hati lapang! Semua adalah titipan. Adalah hak Allah, selaku sang penitip untuk mengambilnya kapan pun dan di mana pun Dia mau. Tugas kita adalah merelakannya pergi. Seberapa rela kita melepas kepergian sesuatu adalah tolok ukur keimanan kita bahwa temu yang pasti hanyalah dengan Allah SWT. Adapun temu dengan segala selain-Nya hanyalah kemungkinan tak bertepi. Wallahu A’lam.
We can’t keep hiding from the truth
Kita tidak bisa bersembunyi dari kebenaran
Maher Zain
*) Aldi Hidayat Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Jawa Timur

