Image Slider

Pertanyaan Sri

Cerpen: Fandrik Ahmad

Namanya Sri. Ya, Sri. Sangat singkat bukan? Nama yang hanya tersusun atas tiga huruf: s, r, dan i. Semula Sri merasa jengkel kenapa orang tuanya memberikan nama sesingkat itu, yang membuatnya sering dibuli oleh temannya. Namun ketika mengetahui betapa nama itu menyimpan makna dasar dan mendalam atas filosofi kehidupan, ia yang semula merasa racuh menjadi acuh tak acuh.

Ya. Teman-temannya kerap memanggil Sri dengan panggilan turunan. Memang ketika mereka memanggil hanya dengan nama Sri, tetapi ketika kusuma itu menoleh, muncullah suara tambahan: gala, gunting, ti, kaya, dan mulat.

Namanya Sri. Ya, Sri. Sangat singkat bukan? Ia sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. Tiga tahun terakhir Sri selalu mempertanyakan namanya sendiri. Ia sering bertanya kepada ibunya, tetapi tak pernah ada tanggapan. Pagi hari, ia sibuk mengurusi dapur, menyiapkan bekal makanan untuk Sri dan untuknya sendiri. Ia sering keluar sebelum Sri berangkat sekolah. Siang hari, Sri sering menemukan rumahnya masih kosong. Sore hari, ketika matahari hampir menyentuh garis horizon, ia mendapati ibunya baru pulang dengan raut letih-lesu. Keringat membasahi pelipis. Sepasang kaki belepotan lumpur. Apabila memaksa bertanya dalam keadaan seperti itu, Sri hanya akan mendapat sorotan mata tajam dan membara.

“Tidak lihat kalau ibu habis bekerja! Apa apalah arti sebuah nama!”

Suara ibunya nyaris selalu membentak. Pernah sesekali Sri bertanya soal bapaknya, tetapi ia langsung berkata: belajarlah untuk hidup tanpa seorang bapak! Meski begitu Sri tahu kalau sesungguhnya perempuan itu sangat menyayanginya. Ia selalu menyiapkan bekal ke sekolah dan menasihati supaya rajin belajar.

Sri tidak berani lagi bertanya. Ia hanya memerhatikan perempuan itu masuk dari pintu belakang dengan caping lusuh dan tampi berisi gabah tak seberapa banyak. Jalan satu-satunya ialah lari ke pangkuan kakek. Mengadukan perihal apa yang terjadi satu detik sebelumnya. Lagi, pertanyaan Sri tetap sama.

“Kamu beruntung memiliki nama sebagus itu,” tukasnya.

“Apa bagusnya, Kek? Hanya namaku di sekolah yang paling singkat. Mungkin juga paling jelek. Guruku tak ada yang bisa mengartikan namaku. Terlalu singkat, katanya. Tak seperti nama teman-teman yang lain yang bagus-bagus.”

Sejenak kakek diam. Ada sekelebat bayangan sosok guru di batok kepalanya. Kakek tersenyum membayangkan rupa sosok guru yang tidak bisa mengartikan nama cucunya. Apakah ia tidak memahami sejarah? Atau tidak pernah belajar sejarah? Atau memang tidak lulus pelajaran sejarah?

“Kakek yang memberikan nama itu.”

Sri bangkit. Sorot matanya yang teduh seketika seperti mata elang yang menemukan mangsa. Ada letupan kecil di dada gadis itu. Bara meluap. Ia sudah menemukan siapa dalang yang harus bertanggungjawab atas namanya.

“Kenapa kakek memberikan nama itu?”

Ia tidak menjawab. Ceruk mata renta itu menatap senja yang hampir jatuh di atas bebukitan. Sementara tubuh gadis mungil di depannya mulai meronta. Sri tidak kuat lagi menahan gemuruh perasaan atas pertanyaan yang telah lama menggantung di batok kepalanya. Kedua tangannya berontak memukul-mukul dada sang kakek. Sambil terisak, Sri terus memburu jawaban.

“Jika Sri ingin tahu, mari ikut kakek ke sawah.”

Bagai sapi yang dicocok hidungnya, Sri menguntit. Ia kembali jinak. Keduanya bergegas pergi ke sawah. Caping bercokol di kepala lelaki tua itu. Sebilah parang dipegang erat. Sejatinya perjalanan ini bukanlah hal baru bagi Sri. Ia sudah sering ke sawah. Ikut membajak, mengairi, menyemai bibit, menyiangi gulma, hingga menuai hasil panen. Berburu belalang merupakan pekerjaan yang paling disenanginya. Sering pula Sri bermain di pancuran, menggodai ikan-ikan kecil sepanjang aliran bandar. Namun sore itu, perjalanan itu, sungguh terasa berbeda. Seperti ada sebongkah misteri yang siap terpecahkan.

Sesampai di dangau,—tempat paling nyaman menikmati sedapnya nasi jagung dan ulam daun kelor, melinting rokok dan menyeruput kopi bergantian—bulir padi menguning terhampar luas. Cericit burung pipit melompat-lompat di antara batang dan bulir padi. Seketika kakek menarik seutas tali yang melilit di salah satu pilar dangau. Tali itu adalah pusat yang menghubungkan pada tali-tali lain. Menjadi sebentuk jaring laba-laba yang menghubungkan ke beberapa titik orang-orangan sawah.

Seperti heroik pasukan berkuda di medan perang, kakek menarik tali sambil berteriak. Orang-orangan sawah dari jerami dan tempurung kelapa itu berayun seperti ondel-ondel. Sri juga ambil bagian. Ia memegang seruas bambu yang sudah dibelah dua sampai ke buku, yang ketika bambu itu dikepak akan menimbulkan bunyi seperti orang bertepuk tangan.

Sekumpulan burung pipit lari terbirit-birit. Keduanya tertawa. Senang. Sebentar. Sri kembali teringat pada pertanyaan yang belum dijawab. Ia mematung di pinggiran sawah dengan mulut merunjung menahan amarah. Kakek merangkul Sri. Ia memberikan sebiji gabah. Kuning. Bernas. Kelopak mata gadis itu semakin menggantungkan pertanyaan. Bergantian, sorot mata itu menatap lekat pada sebutir gabah.

“Kau adalah padi yang menguning ini,” tukasnya. Jelas Sri tak paham. “Kau pasti sudah mendengar, bukan, ungkapan: jadilah ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk?”

Sri mengangguk. Ia memang sering mendengar kalimat itu dari beberapa gurunya di sekolah. Tadi pagi guru kelasnya juga sempat menyinggung kalimat itu. Semakin banyak ilmu, kita harus semakin rendah hati, tidak sombong, dan sering menolong, kata gurunya.

Gurunya hanya tahu filosofi itu, tetapi tidak dengan nama Sri.

“Sri adalah Dewi Padi. Dewi Padi adalah Sri. Kaulah Dewi Padi itu. Dewi kesuburan!”

Sri belum paham.

“Dahulu kala, ada sesosok gadis cantik jelita bernama Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Ia lahir dari telur yang dierami dewa ular bernama Antaboga. Singkat cerita, gadis itu tumbuh menjadi perempuan yang kemudian disukai oleh Batara Guru. Takut menimbulkan bencana dan kekacauan, para dewa lain merasa resah dan akhirnya berencana memisahkan mereka berdua.”

“Kenapa mereka mau dipisahkan?”

“Karena Nyi Pohaci adalah anak angkat Batara Guru sendiri.”

Sri menyimak. Serius.

“Para dewa sepakat menaruh racun pada minuman Nyi Pohaci. Perempuan berkulit putih itu lalu meninggal. Jenazahnya dibawa ke bumi. Dikubur di tempat tersembunyi agar tidak ada yang mengetahui. Anehnya, dari kuburan itu lalu keluar berbagai jenis tanaman: kelapa dari kepalanya, jagung dari giginya, pisang dari jari-jarinya dan padi keluar dari sekujur tubuhnya. pusara Nyi Pohaci mampu mencukupi kebutuhan makanan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Oleh karena itu Nyi Pohaci Sanghyang Sri disebut sebagai Dewi Padi, dewi kesuburan.”

“Tapi teman-teman mengejekku, Kek. Namaku tidak sekeren nama mereka,” sanggah Sri.

“Tapi nama mereka tak memiliki arti seindah namamu, bukan?”

Sri diam. Mulutnya manyun. Pipinya menggelembung. Ia tidak menjawab. Apalah arti nama di balik nama. Orang-orang lebih suka melihat apa yang tampak daripada apa yang tersembunyi. Gadis itu tetap tidak terima dengan namanya yang hanya terdiri dari tiga huruf itu.

Senja terus beringsut. Lembayung menyapu langit. Ada lambaian rimbun bambu. Ada daun kering dipermainkan angin. Sementara, awan berarak membentuk gugusan ombak kecil. Beberapa petani menuju jalan pulang. Melewati pematang sebelum disambut hangat oleh anak dan istri mereka.

“Lihatlah biji padi ini. Kita harus menumbuk dulu, mengeluarkan isinya supaya dapat dimakan. Atau biji ini harus pecah terlebih dulu untuk menumbuhkan tunas muda. Sekam memiliki banyak miang, sebagai pelindung dari keindahan biji padi yang sebenarnya. Seperti namamu, pelindung dari kerendahan hatimu,” tukasnya.

Sri bungkam. Ia menatap lekat wajah kakek. Mata itu tampak mencari keyakinan pada setiap kerutan pada kulitnya. Mereka beringsut. Duduk khidmat di dangau. Angin mempermainkan rambut gadis mungil itu. Sri tidak berontak lagi.

“Hal yang paling membahagiakan bagi petani adalah ketika menuai hasil panen. Pasti akan ada pesta rakyat sebagai rasa syukur. Lumbung tak pernah kering. Tak punya uang pun, kita masih bisa makan. Hampir semua tumbuhan bisa tumbuh di tanah ini. Hampir semua yang tumbuh bisa kita makan. Gemah ripah loh jinawi.”

“Lumbung itu apa, Kek?”

“Lumbung itu adalah tempat petani menyimpan hasil panen.”

“Kita punya lumbung, Kek?”

“Iya, ada. Hampir semua petani memiliki lumbung, Sri.”

“Di mana?”

“Itu, di belakang dapur kita.”

“Kandang maksud kakek?”

“Bukan, lumbung. Sebelah kandang kita itu namanya lumbung.”

“Oh, tempat menyimpan rumput itu, ya, Kek? Yang banyak perkakasnya? Tempat menyimpan pakaian yang sudah tak terpakai? Kok, tidak pernah ada padi di sana?”

Kakek Sri diam. Pertanyaan polos yang sulit menemukan jawaban. Ia sadar satu hal betapa kehidupan gadis kecilnya sudah jauh berbeda dengan kehidupan kecilnya sendiri. Lumbung memang tidak pernah kering. Bahkan ia sering bersembunyi di balik tumpukan padi jika orang tuanya—buyut Sri—mengetahui jika ia bolos mengaji. Sering ia sampai terlelap tidur di sana.

Kehidupan yang dialami Sri sungguh berbeda. Gadis kecil itu tidak lagi tumbuh di lingkungan yang gemar menyimpan hasil panen. Tak ada padi pada ketiding. Tak ada singkong atau ubi bersarak di lumbung. Sri hidup di dunia yang instan. Dunia percepatan. Termasuk hasil panen yang cepat ludes karena tandas dijual. Jarang menyisakan sebagian untuk disimpan. Apabila tiba musim paceklik, semua bingung mencari jalan keluar, hingga berduyun-duyun pergi ke kota. Hidup dalam perantauan. Meninggalkan keluarga di tanah seberang.

“Kek?”

“Ya.”

“Kakek memikirkan apa?”

“Tahukah kau, Sri? Betapa setiap keringat yang jatuh saat bekerja adalah kenikmatan. Pori-pori yang membersitkan peluh dan terik matahari yang membakar punggung seolah terasa sahabat seperjalanan. Berselang-seling, padi, tembakau, dan sayuran panen tiga kali setahun. Mereka sudah hafal membaca dan menghitung musim tanpa harus melihat almanak. Cukup membaca arah angin dan melihat gugusan bintang. Tembakau dan sayuran bisa kita jual, tetapi padi seharusnya kita simpan,” tukasnya mengalihkan pikirannya sendiri.

“Tanah kita sangat subur, ya, Kek?”

“Iya, Sri. Tanah kita sangat subur. Karena tanah ini banyak yang rela gugur di ujung senapan. Ya, karena tanah ini awal mula tumbuh semangat kemerdekaan. Jadi, cara terbaik mencintai tanah air adalah belajar bertani dengan baik. Bersyukurlah kita hidup di negeri ini, Sri. Apapun bisa tumbuh hanya sekali tancap,” tukasnya. Matanya yang sudah rabun tampak berkaca-kaca.

“Tetapi kenapa bapak pergi, Kek? Apakah di luar sana ada tanah yang lebih subur daripada tanah kita?”

Pertanyaan Sri seperti sebuah cambuk kerinduan yang melesat tanpa haluan. Kakek mengelus rambutnya yang berponi. Ada sungging senyum. Senyum yang berat. Senyum yang dipaksakan. Tiga tahun, Sri dan ibunya ditinggal merantau ke luar negeri. Pulang hanya setahun sekali, yakni saat menjelang Idul Fitri. Ibu Sri berjuang sendiri mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ia pernah ngotot ingin menjual sepetak sawah sisa hasil bagi dengan saudaranya. Tentu keinginan itu ditolak mentah-mentah. Tanah adalah warisan. Tanah adalah titipan. Pantang seorang petani menjual tanah, jawabnya saat beradu alasan. Ia pun tak jadi menyusul suaminya di perantauan.

Nasib bisa diubah tetapi takdir harus diterima. Ia tidak sepenuhnya menyalahkan menantunya. Hasil panen belakangan ini memang tidak bisa diandalkan. Modal dan hasil hampir imbang. Modal produksi yang pelan tapi pasti merangkak naik kerap berbanding terbalik dengan harga gabah yang naik turun. Belum lagi serangan hama wereng dan tikus yang mengganas. Lebih ganas lagi permainan tengkulak yang membeli gabah dengan harga rendah.

“Kenapa bapak pergi, Kek? Adakah tanah yang lebih subur di luar sana?” Ulang Sri.

Bibir Sri sungguh mungil. Bibir Sri sungguh imut. Tetapi pertanyaan yang keluar dari mulutnya seperti peluru yang keluar dari moncong senapan. Melesat telak ke jantung lawan. Sri adalah benih. Sri adalah tunas. Kakeknya tidak mau benih itu jatuh ke tanah yang salah hanya karena kesalahan dalam memahami jawaban.

“Tak ada tanah yang lebih subur dari tanah kita, Sri. Tanah kita adalah tanah surga. Setiap waktu kakek selalu berdoa semoga anak cucu kakek kelak dapat menggarap sawah dengan baik, termasuk dirimu. Makanya kakek memberimu nama Sri. Apakah kau masih keberatan dengan nama itu?” tanyanya mengalihkan.

Mata itu memang sudah tak sejernih asalnya, tetapi mata itu masih tetap seperti gravitasi yang dapat menyerap segala macam keraguan.

“Tidak, Kek,” jawabnya. Ada simpul senyum terkembang.

“Alam senantiasa mengajari kita, Sri. Mari pulang. Sudah hampir petang. Bukankah kau masih harus mengaji?”

Tanpa harus menunggu jawaban, kakek menggamit tangan Sri. Keduanya beriringan menelusuri jalan setapak. Sesekali tangan kanannya menyapu ilalang. Lepas pandangan ke arah Timur, pepohonan berdiri kokoh seurut bidang tanah yang miring. Hamparan padi menunduk takzim. Semua berjalan alami tanpa polesan.

Dalam perjalanan pulang, beberapa kali Sri menoleh ke belakang. Tampak ada sesuatu yang masih tertinggal; sebuah pertanyaan yang belum terselesaikan.[]

Jember, 3 Oktober 2018


Fandrik Ahmad, bernama asli Fandrik Haris Setia Putra, cerpenis sekaligus jurnalis. Menulis cerita di sejumlah media: Kompas, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Jurnal Nasional, Nova, Republika, Horison, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Femina, dll. Alamat: Dusun Gedangan RT/RW: 016/006 Desa Sukogidri Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember, Jawa Timur 68196 Telp: 082331021747. Email: ranting.cahaya@gmail.com

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga