Gapura, NU Online Sumenep
Restrukturisasi kepengurusan membawa angin segar bagi PP Nasy’atul Muta’allimin Gapura. Beberapa agenda besar telah dipersiapkan untuk membangun generasi santri masa depan. Salah satu agenda cukup penting di Pondok Pesantren yang sudah berusia lebih setengah abad itu adalah pengenalan pesantren. Kegiatan yang dikemas dengan Orientasi Pembinaan dan Pengenalan Pesantren itu berlangsung selama empat hari sejak hari Selasa (03/08/2021).
Ustadz A. Ruhan, ketua pengurus PP Nasy’atul Muta’allimin Gapura menjelaskan, bahwa tujuan dari diadakannya orientasi tersebut adalah untuk memberi pemahaman kepada santri baru tentang dunia pesantren. Santri perlu diajari tatakrama pesantren serta penyamaan persepsi pada aturan-aturan yang harus dipatuhi.
Beliau juga menambahkan, salah satu materi penting adalah praktik ibadah. Latar belakang santri yang berbeda-beda menunjukkan keragaman cara santri dalam beribadah. Hal itu karena ketidaksamaan bimbingan tata cara ibadah sebelum mondok, sehingga perlu adanya bimbingan.
“Harapan kami, anak-anak bisa mengerti (posisinya) sebagai santri dan apa yang harus dilakukan oleh santri, sehingga mereka bisa mendapatkan ilmu yang manfaat dan barokah,” ungkapnya saat dihubungi disela-sela acara.
Pada kegiatan tersebut, santri juga diajak mengelilingi lingkungan pesantren agar mereka tahu tempat-tempat yang harus mereka kunjungi seperti maqbaroh muassis pondok pesantren, serta tempat-tempat yang tidak boleh mereka datangi.
“Yang paling berkesan bagi saya, saya bisa mempraktikkan secara langsung hal-hal yang tidak saya ketahui dalam beribadah, juga saat mendengar ceramah tentang akhlak seorang santri ketika ada Kiai,” kata Imam Dainuri santri baru asal Giliyang.
“Beda sekali dengan saat ada di rumah, misalnya saat ada orang tua lewat. Dulu biasa-biasa saja, sekarang sudah tahu tatakramanya seperti apa,” tambahnya lagi.
Ada empat materi yang disampaikan dalam orientasi tersebut, yaitu Kepesantrenan, Akhlaq Santri, Praktik Ibadah, dan Pengenalan Lingkungan Pesantren. Para santri baru begitu khidmat dan serius mengikuti acara itu setiap sesi materi, meskipun ada beberapa kegiatan yang terkendala karena berbenturan dengan kegiatan rutin pesantren.
“Kami hanya menyiapkan keperluan-keperluan acara, seperti konsumsi, soundsystem, dan tempat. Sementara yang menyusun materi adalah pengurus pesantren. Kendala yang kami hadapi adalah waktu yang molor karena berbenturan dengan kegiatan rutin pesantren,” ujar Agus Shaleh salah satu panitia yang bertugas pada kegiatan tersebut.
Pewarta: A. Zainol Hasan
Editor: A. Warits Rovi

