Image Slider

Podcast Ramadhan, Kiai Izzul Imbau Pelajar Menghormati Guru

Pragaan, NU Online Sumenep

Belajar ilmu umum dan agama, sama halnya dengan orang yang ingin bercocok tanam. Langkah pertama kalinya adalah mempersiapkan ladang. Artinya, seorang pelajar harus mensterilkan hati agar pantas dan mudah menerima ilmu.

Penegasan ini disampaikan oleh Kiai Izzul Muttaqin saat mengisi podcast Ramadhan dengan tema ‘Strategi Mempelajari Agama yang Tepat Menurut Hadaratussyekh KH M Hasyim Asy’ari’ di Studio 2 TVNU Sumenep, Cecce’ Laok, Kamis (6/5/2021).

Kiasan yang disampaikan oleh Bendahara Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep saat mengawali muqaddimahnya menandakan bahwa tanaman dan buah akan akan berkualitas jika ladangnya siap serta terhindar dari hama tanaman.

Untuk mensucikan hati dari kecurangan dan kotoran, Wakil Ketua LDNU Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Ganding tersebut menyarakan untuk meningkatkan spiritulismenya lewat shalat, berdzikir, mengaji Al-Qur’an, berbuat kebajikan, dan lainnya.

“Hal terpenting adalah berniat suci untuk menuntut ilmu di jalan Allah SWT, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekannya. Lewat inilah, kita akan menghidupkan syariat sehingga bisa menyinari lentera hati,” ujarnya saat merumuskan permasalahan yang pertama.

Selanjutnya, pelajar harus mengatur waktu, seperti halnya ulama-ulama Nusantara menghafal pelajarannya saat bepergian haji dengan mengendarai perahu. Ada juga kebiasaan sesepuh menghafal Alfiyah sembari menunggu baju satu-satunya kering di jemuran.

“Waktu ideal untuk menghafal pelajaran adalah saat memasuki waktu saur atau subuh. Jika ingin mengkaji ilmu, di pagi harinya. Bagi yang gemar di bidang literasi atau tulis menulis, disarankan saat pertengahan siang. Sedangkan bagi pelajar yang ingin mempelajari ulang pelajarannya, paling pas di malam hari,” ulasnya saat menyitir pesan mbah Hasyim dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim.

Ketua Program Studi (Prodi) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk memberikan tips dalam memilih guru. Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah mempertimbangkan sanad dan keluasan ilmunya. Jika ragu, maka dianjurkan untuk shalat istikharah.

“Ciri-ciri guru yang baik, antara lain: memahami ilmu syariat, terkenal berguru kepada salah satu tokoh atau bisa dikatakan berguru pada beragam kiai. Mohon, hindari berguru pada seorang kutu buku, karena mereka tidak memiliki guru yang jelas,” urainya.

Tak sampai di situ, penceramah kondang tersebut mewanti-wanti agar patuh pada guru. Maksudnya, seorang tholabul ilm harus mengagungkan gurunya dan tidak boleh meremehkannya sekalipun profesi gurunya saat di luar sekolah menjadi seorang pemulung.

“Fenomena saat ini terbalik, mentang-mentang muridnya memiliki kemampuan berpikir yang luas atau melebihi gurunya, lalu ia meremehkannya dan membicarakan kelemahannya. Mestinya seorang murid beretika kepada gurunya dalam segala hal, mulai dari cara duduk, beridiri, perkataan, dan sebagainya,” pintanya saat menyampaikan pesan moril pada khalayak.

Ketika guru lupa membawa bolpoin, pelajar memberikan pinjaman dengan membuka tutupnya terlebih dahulu. Jangan berikan dalam keadaan tegak atau pun miring. Upayakan guru bisa mudah menulis saat menerima bolpoin dari siswanya.

“Juga saat bertamu pada guru, siswa wajib memanggil salam. Jika tidak dijawab, ketuklah pintunya dengan ketukan yang super halus, kalau bisa gunakan ujung kukunya. Jika tidak keluar, tunggulah. Jika tidak merespon, kita boleh pulang. Tapi menurut muassis, menunggu lebih baik daripada pulang,” sergahnya saat memberikan saran.

Pria yang berprofesi sebagai tenaga pendidik di Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Latee itu mengutarakan, terlebih dahulu pelajar harus belajar ilmu yang fardhu (wajib), seperti tauhid sehingga tertanam akidah Ahlu Sunnah wal Jamaah. Setelah itu berlanjut mempelajari ilmu akhlak, tasawuf, dan fikih. 

“Pelajar yang menaruk buku atau kitab di jok sepeda motornya, tandanya ia tidak menghormati pelajarannya walaupun berbahasa Indonesia,” tegasnya.

Setelah mempelajari ilmu-ilmu yang fardhu, pelajar bisa mempelajari Al-Qur’an. Namun bukan hanya cukup sampai ilmu tajwid dan terjemahannya semata, tetapi belajar tafsir, hadits, nahwu, sharraf, balaghah atau kesusastraan.

“Selalu berkonsultasi pada gurunya saat menemukan argument tokoh dalam kitab. Tujuannya kita bisa menentukan kebenaran isi kitab tersebut. Lalu jangan buru-buru pindah ke kitab yang lainnya sebelum paham total, kecuali ada yang menyebabkan kita pindah ke kitab lainnya, seperti jadwal pelajaran yang berlaku di pesantren. Juga jangan boro-boro pindah ke pesantren lainnya sebelum dinyatakan lulus, itu tandanya orang yang gelisah,” ucapnya menggebu-gebu.

Wakil pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Huda Gadu Barat Ganding meminta untuk tidak sekedar menjadi mustami’ saat hadir ke majlis. Upayakan dicatat hal-hal penting yang disampaikan guru.

“Jangan sampai salah dalam memilih guru. Dan yang perlu digaris bawahi adalah guru adalah manusia. Saat ini kita sulit mencari guru yang 100% akhlaknya sempurna. Minimal lebih banyak kebaikannya dan tidak banyak keburukannya,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga