Oleh: Firdausi
Sebagaimana dalam grass root, politik sering disebut sebagai pentas silat lidah. Terkadang kawan bisa jadi lawan; tiba-tiba lawan dirangkul sebagai kawan. Benar-benar abu-abu, dan yang salah bisa jadi dibenarkan. Dalam politik praktis, yang abadi bukan kebenaran, melainkan kepentingan dan kemenangan atas kelompoknya.
Berdasarkan permasalahan di atas, ciri khas NU bukan bercorak politik yang safilah atau praktis yang memiliki kepentingan sesaat. Tetapi NU lebih mengarah pada corak politik yang aliyah atau kebangsaan. Terbukti sejak dulu hingga sekarang, NU menjadi pegulat yang handal dan disegani oleh semua pihak. Sebab sejak awal menyongsong kemerdekaan Republik Indonesia, NU ikut andil membantu pemerintah dalam mengusir penjajah. Bahkan, para laskar Hizbullah dan Sabilillah didominasi oleh kalangan kiai dan santri.
Berdirinya Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, dan Tashwirul Afkar merupakan langkah awal untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara. Bukti konkritnya, ketika pemerintah bersikap diam dan apatis saat G30SPKI muncul menggemparkan Indonesia, NU tampil paling depan menyatakan perang. Gerakan inilah yang serentak menghadang dan mengganyang PKI hingga akarnya. Selanjutnya, ketika penjajah hendak mengambil alih negara ini, Para kiai NU berani mengambil sikap menentang dengan melahirkan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Lewat gerakan inilah menjadi pintu perlawanan arek-arek Surabaya terhadap kompeni yang dipersenjatai lengkap.
Dari dua fenomena bersejarah tersebut, benang merahnya adalah kemerdekaan, kesejahteraan, dan kecerdasan umat adalah agenda prioritas perjuangan NU. Keberhasilan ini ditentukan oleh peran ulama yang bersatu dalam satu wadah atau satu shaf.
Menurut kaca mata NU, ulama menjadi sumber moral dalam konteks kehidupan masyarakat. Karena jenis politiknya bisa dimaknai sebagai kejernihan pikiran dan nilai moral keulamaan. Hal ini terbuka politik NU diejawantahkan dalam wujud pemberdayaan masyarakat berbasis nilai keulamaan yang sejatinya berorientasi pada tertatanya kesadaran dan pembentukan masyarakat yang terarah.
Dengan paradigma inilah yang disebut quality politik yang menyentuh dan memecahkan problematika sosial yang melilit kehidupan masyarakat. Kunci suksesnya adalah ‘kejujuran’. Seperti halnya dawuh Nabi “pegang teguh kejujuran, karena itu menjadi penuntun pada kebaikan.”
Jujur adalah ibadah dan pastinya memberikan barokah. Pekerjaan apapun termasuk politik yang tidak dilandasi kejujuran, tidak akan bernilai ibadah. Itulah yang diyakini warga NU hingga saat ini.
Politik yang dipijakkan pada nilai amanah akan sangat mulia, jernih, bersih, dan akuntabel. Inilah corak politik yang dicontohkan oleh para ulama pendahulu. Bahkan, nilai amanah dijadikan hukum dalam perilakunya. Sedang kemunafikan akan menjauhkan dari nilai-nilai keteladanan.
Dengan demikian, NU bukan politik iris tebu atau dimaknai habis manis sepah dibuang. Ini bukan tipologi politik warga NU. Akan tetapi justru sebaliknya, yakni politik kebangsaan yang mementingkan kebutuhan umat secara universal, bukan kepentingan kelompok.
*) Direktur NU Online Sumenep

