Image Slider

Catatan Khidmah Hari Ke-91: Mencintai NU

Oleh: Abdul Hadi )*

Sore menjelang Maghrib. Puasa hari ke-17 WhatsApp Grup (WAG) dipenuhi obrolan yang tidak sepenuhnya ringan. PCNU Sumenep akan mengundang kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) yang kini duduk di lembaga legislatif—lintas partai, lintas warna, lintas kepentingan politik.

Respons pengurus beragam. Ada yang menyambut penuh semangat, ada yang tampak biasa saja. Ada yang sangat hati-hati menimbang kata, ada pula yang hanya tersenyum tipis, seolah menyimpan banyak tafsir di balik senyumnya.

Diskusi dimulai sederhana, tetapi cepat menghangat. Tujuannya jelas: mempertemukan kader-kader NU yang berada di parlemen agar peran kebangsaan mereka lebih terarah, lebih terkoordinasi, dan lebih tepat sasaran.

NU tidak pernah didirikan untuk menjadi kekuatan politik praktis. Namun sejarah menunjukkan, banyak kadernya berada di ruang-ruang pengambilan keputusan. Di situlah perlunya pertemuan, dialog, dan penguatan visi bersama.

Karena pada hakikatnya, NU adalah rumah besar. Rumah besar itu oleh para kiai sering disebut sebagai “pesantren besar.” Istilah ini pernah disampaikan oleh KH Miftah Faqih: NU adalah pesantren besar, sedangkan pesantren-pesantren adalah NU kecil. Metafora ini sederhana, tetapi sangat dalam.

Secara historis, NU memang lahir dari rahim pesantren. Para pendirinya adalah para kiai pesantren, dengan figur utama Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng di Jombang. Dari lingkungan pesantren inilah lahir tradisi keilmuan, etika keagamaan, dan komitmen kebangsaan yang menjadi fondasi NU. 

Pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo di Kediri, Sarang di Rembang, Krapyak di Yogyakarta, Tegalrejo di Magelang, hingga Cipasung di Tasikmalaya menjadi simpul-simpul kultural yang menjaga napas keilmuan dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.

Di Madura sendiri, pesantren-pesantren seperti Annuqayah Guluk-Guluk, Nurul Islam Bluto, Al-Karimiyah, dan banyak lainnya menjadi mata air yang tak pernah kering bagi kehidupan ke-NU-an masyarakat.

Dari pesantren-pesantren itulah lahir nilai-nilai utama NU. Nilai-nilai itu tidak lahir dari ruang seminar, tetapi dari kehidupan pesantren yang panjang, sederhana, dan penuh keikhlasan. Karena itu, mencintai NU tidak cukup dengan slogan. Ia harus tumbuh dari pemahaman.

Dalam Ihyā’ Ulūmiddīn, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta lahir dari pengetahuan dan pengenalan. Seseorang tidak mungkin mencintai sesuatu yang tidak ia kenal. Beliau menulis:

الحُبُّ عِبَارَةٌ عَنْ مَيْلِ الطَّبْعِ إِلَى الشَّيْءِ الْمُلَذِّ

Cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang dirasakan indah dan menyenangkan.

Artinya, cinta bukan sekadar emosi. Ia adalah kecenderungan batin yang lahir dari pengalaman dan pengenalan. Begitu juga dengan NU. Orang yang mengenal NU hanya dari permukaan mungkin hanya melihat organisasi. Namun orang yang mengenal NU dari dekat akan melihat lebih dari itu: tradisi keilmuan, sanad ulama, kearifan budaya, dan komitmen kebangsaan.

Di situlah cinta kepada NU lahir. Bukan cinta yang sempit. Bukan pula cinta yang fanatik buta. Tetapi cinta yang sadar bahwa NU adalah warisan ulama, tempat nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dirawat dengan sabar.

Diskusi di aula PCNU Sumenep semakin hangat menjelang Maghrib. Argumen mulai tajam, sindiran mulai terasa, dan beberapa wajah mulai terlihat lelah. Mungkin karena lapar. Di sela-sela diskusi, tiba-tiba terdengar celetukan ringan.

“Saya mau memimpin tahlil jelang buka,” kata Kiai Mosa Faris.

“Saya harus mengisi dialog Ramadhan di RRI,” sahut Kiai Halqi.

“Saya ada undangan buka puasa bersama,” tambah Gus Aying.

“Saya ikut Gus Aying saja,” celetuk Cak Hadi sambil terkekeh-kekeh.

Semua tertawa kecil. Ketegangan mencair. Diskusi kembali menjadi hangat, bukan panas. Begitulah NU. Kadang perdebatan keras terjadi, kadang kritik terasa pedas. Kadang perbedaan pandangan muncul tajam. Namun di ujungnya tetap ada tahlil bersama, doa bersama, dan makan bersama.

Karena mengurus NU memang tidak cukup dengan logika organisasi saja. Ia harus dirawat dengan cinta. Cinta yang membuat orang rela bekerja tanpa pamrih. Cinta yang membuat orang tetap bertahan meski sering disalahpahami. Cinta yang membuat orang terus mengabdi meski tidak selalu mendapat tepuk tangan.

Semakin sore, diskusi semakin hidup. Semakin dekat waktu berbuka, semakin terasa kebersamaan itu.

Pada akhirnya, mungkin benar satu hal sederhana: Mengurus NU bukan sekadar tugas organisasi. Ia adalah pekerjaan hati. Dan pekerjaan hati hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mencintainya.

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga