Image Slider

Puisi-puisi Khalil Satta Èlman

Ziarah IV

kubawa doa
[lebih harum dari kamboja]
kutabur di antara nisan tengadah
dan di atas sekujur masa lalu.

:nisan itu, seperti mengajakku
untuk mengalirkan air sungai
yang lama beku
setelah menyaksikan anak-cucu
tak lagi tahu
di mana terkuburnya para sesepuh.

Songennep, Maret 2021

Puisi Bernada Minor
:fazlur rahman
1/
“tinggal menghitung hari
kita akan pergi
ke sebuah negeri
di mana kata dilahirkan
yang kedua kalinya.”

dipetiknya enam senar.
sunyi angkat kaki dari kamar.
sedang di atap rumah
hujan tak henti menampar.
daun-daun puisi
menolak untuk gelepar.

2/
“sebenarnya hidup ini
tidak asu. hanya kau
yang tak paham cara
berbagi rindu.”

ditepuknya tabung gitar.
kata-kata keluar.
lewat denting.
menjadi isyarat bagi gelombang
yang rindu pelukan.

Gappora, Maret 2021

Himne Kopi

nanti kau akan tahu sendiri
bagaimana cara kopi menunda tidurmu
:lewat seduhanya yang sekental rindu
atau aromanya yang semerbak puisi.

pekatnya menukil malam
bahwa seluruh cinta adalah jahanam
tapi kita tetap setia menunggu ampasnya
meski pada akhirnya dibayar gerhana.

bila sepi bertanya:
lebih berserakan mana,
kenangan apa ampas kopimu?
jawablah:
kenangan dan ampas kopi
itu sama saja.

tiba-tiba angin dari balik jendela kedai
menjemput bekas-bekas masalalu
tapi kita sama sekali tak menyambutnya
sebab, menyeruput kopi
adalah ibadah paling sempurna.

Gappora, Maret 2021

Pernyataan

[katakanlah,
sebelum perkutut
kehabisan bunyi
untuk bernyanyi.]

di dusun ini:

bukit mengirim
surat cinta
kepada laut
lewat sungai.

tuhan memberi
musim hujan
berisyarat capung.

kumbang kepada kembang
menyatakan cinta
lewat kecupan.

aku mengabadikan
senyummu.
lewat puisi.

Songennep, 17 Maret 2021

Yadan

aku membacamu sebagai mawar
yang tumbuh di antara batu terjal
tanpa duri. tanpa merah gincu.

kata-kata tumbuh di tebing rindu.
menjelma tangga. hingga kugapai
senyummu sebagai bahasa.

ini bukan himne dari seorang pemuja setia
karena: mutiara tetaplah mutiara.

Talango, 18 Maret 2021

Surat Rindu kepada Pilu

daun-daun menguning
lalu jatuh setelah angin
menamparnya tanpa alasan.

apa aku harus menakwilnya
sebagai kekalahan dalam bertahan?

syahdan, baru kumengerti
bahwa gendhewa sakti
telah kuterima sebagai hujan.

Gappora, Maret 2021

*pertama kali menulis puisi dengan bahasa Madura. Siswa kelas akhir MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura. Anggota Komunitas Semenjak, Asap, dan Sanggar Biru Laut

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga