Image Slider

Ranang dan Kebenaran yang Diyakininya

Cerpen: Rumadi

Tepat saat azan subuh berkumandang, saat Surti baru saja membuka pintu depan untuk mengambil air wudu, matanya dikagetkan oleh kehadiran seorang laki-laki yang duduk di balai bambu depan rumahnya. Surti membelalakkan mata, berkali-kali mengucek-ucek matanya, barangkali ia masih terbawa mimpi. Namun, seorang lelaki yang sekarang berada di depannya nyata adanya. Lelaki itu menoleh, berdiri, dan tersenyum. Tiba-tiba Surti merasa lututnya gemetar. Bibirnya hendak berkata-kata, tetapi sampai lelaki itu mencium kedua tangannya, tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Lelaki itu segera menghamburkan diri ke tubuhnya, memeluk tubuhnya erat. Surti tak bisa lagi menahan kesedihan yang bercampur kerinduan yang tertuntaskan. Tangis Surti tertumpah ruah. Sudah terlalu lama ia memendam kerinduan terhadap anak semata wayangnya itu.

Lelaki itu dikontrak kerja sebuah perusahaan sawit di Kalimantan. Tiga tahun lamanya ia tak pulang. Surti melewati malam-malam yang begitu sunyi seorang diri, dengan tangis yang ia simpan sendiri. Setiap lebaran para tetangga bertanya, ke mana anak laki-lakinya, kenapa tak pernah pulang saat lebaran? Surti hanya menjawab Ranang disibukkan dengan pekerjaan, sehingga belum sempat pulang. Saat Ranang luang, pasti akan pulang. Ia sempat merasakan gunjingan yang menyesakkan, mengatakan Ranang anak lelaki tak tahu diri, tak tahu membalas budi kepada ibu yang telah membesarkannya. Surti semakin tersakiti, tetapi ia hanya berkeluh kesah kepada Sang Maha Kuasa. Ia yakin, Ranang tak seperti yang dibicarakan orang-orang.

Yang ia kagetkan, Ranang pulang dengan penampilan yang berbeda. Rambutnya diurai panjang sebahu, jenggot yang seperti sudah sangat lama tak dicukur, dahi yang sedikit menghitam, juga celana yang menggantung di atas mata kaki. Surti merasakan sorot mata amarah dan kebencian dari anaknya. Namun Ranang selalu tersenyum saat ditanya, senyum yang menyembunyikan banyak persoalan.

Ketika Surti meminta Ranang mengantar berbelanja ke pasar untuk selamatan almarhum ayahnya, lelaki itu menolak. Surti terbelalak dengan penolakan anaknya.

“Selamatan itu tidak ada tuntunannya di dalam ajaran Islam, Bu. Sebaiknya kita menghindari segala sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam ajaran Rasulullah,” tegas Ranang.

Surti tak memaksa. Ia biarkan saja anaknya dengan apa yang diyakininya. Firasatnya benar, anaknya telah berubah. Ranang bukan lagi anaknya yang dikenal dulu. Bahkan saat ia meminta Ranang untuk ziarah kubur ke makam ayahnya ia juga menolak.

“Kalau ziarah untuk mengingat kematian itu sangat diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan. Tetapi kalau kita mendoakan, menyiram air kembang, tahlilan, ini tidak ada tuntunannya. Nabi tidak pernah mengajarkannya.” katanya.

Surti hanya mengelus dada sambil menahan tangisnya sendiri. Kepulangan anaknya yang ia harapkan, tak sebahagia yang ia pikirkan. Meski tahu Ibunya meneteskan air mata, Ranang bersikap acuh tak acuh. Ranang melihat jam dinding, waktu zuhur telah tiba, maka ia berpamitan.

“Aku mau salat di langgar dulu, Bu. Masih untung desa ini tidak kubakar, Bu. Rasulullah pernah mengancam orang-orang yang salat sendirian di rumah.”

Ia masih seorang Ranang yang suka pergi ke langgar. Para jamaah yang melihat Ranang menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Mereka berangkulan sejenak, melepaskan kangen yang sudah terpendam begitu lama. Mereka meminta Ranang untuk mengumandangkan azan. Mereka seperti sudah rindu dengan suaranya yang membelah udara. Melengking mengagungkan kekuasaan Tuhan.
Allaahu Akbar Allaaaahu Akbar
Allaaahu Akbar Allaaaaaahu Akbar

Mereka takjub. Suara Ranang semakin indah, memanjakan telinga. Orang-orang yang sedang berada di rumah dan mengenali suara itu, seperti dilempar ke masa lalu. Mereka seperti merindukan masa yang begitu jauh, merindukan orang-orang yang telah meninggalkan mereka terlebih dulu.

Namun setelah selesai azan, salah seorang jamaah kebingungan. Ranang hanya duduk sambil berzikir setelah salat qabliyah Zuhur. Maka ia menepuk bahu Ranang, berbisik pelan di telinganya, meminta Ranang untuk menyenandungkan salawat. Ranang tersenyum sinis, menghela napas panjang, kemudian berkata pelan.
“Panggilan salat itu hanya azan dan iqamah. Tidak ada nyanyian apa pun di antara keduanya. Rasulullah tidak pernah melakukannya. Barangsiapa melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam agama, dan menganggapnya sebagai ibadah, maka amalan itu bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka,” jelasnya panjang lebar.

Sekitar lima orang yang berada di sana—yang mendengar kata-kata yang Ranang ucapkan—memandangnya aneh, tak menyangka Ranang mengatakan hal serupa itu. Hampir saja salah seorang jamaah menghardiknya, tetapi segera dicegah oleh Pak Imam. Ranang tak bergeming sedikit pun. Dia tetap tenang. Tak terpancing amarah. Pak Imam menyuruh Ranang untuk malafalkan iqamah. Ranang menurut, dan segera melaksanakannya. Para jamaah membentuk barisan shaf sambil berbisik satu sama lain. Mata mereka tak lepas dari Ranang yang di mata mereka tampak berbeda. Bukan seperti Ranang yang selama ini mereka kenal. Apakah otaknya telah dicuci? Jangan-jangan Ranang mengikuti organisasi terlarang. Pikiran mereka berkelana entah ke mana, meski mereka telah bertakbir. Mereka lebih sibuk mengamati Ranang daripada salat mereka sendiri.

Sepulang dari musala, seorang tetangga yang mendengar Ranang pulang, mengundang Ranang untuk datang ke upacara selamatan manaqib di rumahnya, tetapi raut wajah Ranang seperti tak suka. Mimik wajah penolakan.

“Maaf, saya tidak bisa datang karena ….”

“Ranang lagi banyak pekerjaan di rumah. Mungkin yang lain saja ya, Bu.” Surti muncul tiba-tiba memotong pembicaraan. Ia menyunggingkan senyum. Tetangganya maklum, dan Surti langsung mnenggamit tangan Ranang dan berpamitan.

Surti mendudukkan anak laki-lakinya dan mengajaknya bicara dengan serius. Tentang kejanggalan-kejanggalan perilaku anaknya. Surti sudah bisa menebak, seandainya ia tidak memotong pembicaraan itu, Ranang akan beralasan lagi tidak ada ajarannya dalam Islam. Surti tidak mau Ranang yang dulu dicintai banyak orang, harus dibenci karena apa yang terucap dari bibirnya.

“Aku tidak peduli apa kata orang, Bu. Bukankah kebenaran harus dikatakan sepahit apa pun kenyataan yang harus kita hadapi? Saya sudah hijrah, Bu. Saya tidak ingin menghabiskan waktu saya yang tersisa dengan hal yang sia-sia, yang tidak bermanfaat, juga termasuk sesuatu yang seolah-olah ibadah dan mendapatkan pahala, tetapi ternyata hanya menambah dosa.” Ranang mengatakannya tanpa beban.

Surti memandang anaknya tanpa berkedip. Ia tak tahu apakah yang disampaikan anaknya adalah sebuah kebenaran, ataukah anaknya yang terlalu polos telah dicuci otaknya oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

“Ibu yang membesarkanmu, Nak. Ibu yang tahu bagaimana kamu dulu. Dan sekarang, lihatlah kamu, Nak. Bahkan Ibu tak mengenali dirimu. Secara badani, kamu anakku, tetapi apa yang ada di dalam hati dan jiwamu, Ibu sama sekali tak tahu!” jawab Surti sambil terisak. Matanya berkaca-kaca, ada mendung yang tetesnya ingin segera turun meleleh di pipinya.

Setiap selepas magrib ia dilarang mengajar anak-anak. Pak Imam yang melarangnya. Padahal dulu, sebelum ia pergi ke Kalimantan, ia sering mendampingi, bahkan tak jarang ia menjadi pengganti ketika Pak Imam sedang berhalangan mengajar mengaji. Pak Imam khawatir apa yang disampaikan oleh Ranang akan menjadi bumerang buat dirinya sendiri. Pak Imam tidak ingin murid kesayangannya saat mengaji dulu dibenci oleh masyarakat hanya karena salah persepsi. Maka selepas Isya, Pak Imam mengajak Ranang ke rumahnya.

Setelah panjang lebar bercerita mengenai pekerjaan dan pengalamannya selama di Kalimantan, Pak Imam berdehem. Ia mendekatkan duduknya, menepuk pundak lelaki itu yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.

“Ranang, tidak ada yang salah dengan apa yang kamu yakini. Yang salah adalah saat kamu menyampaikan apa yang kamu yakini terhadap orang yang belum mengerti,” tutur Pak Imam lembut.

“Kebenaran harus disampaikan Pak Imam. Sepahit apa pun, seburuk apa pun. Saya tidak peduli apa tanggapan orang. Rasulullah bahkan dimusuhi, dilempari batu, dilempari tahi bahkan,” balas Ranang dengan mata memicing tajam.

Pak Imam menghela napas panjang, mengelus kepala lelaki itu sebagaimana seorang bapak mengelus kepala anaknya.

“Ada yang lebih penting dari kebenaran.”

Ranang terdiam. Menunggu Pak Imam selesai berucap.

“Apa itu Pak Imam?”

“Caramu menyampaikan tak kalah penting dari kebenaran yang kamu sampaikan. Dengan caramu yang sekarang, kamu justru membuat orang-orang menjauh dari kebenaran. Kamu tidak kasihan dengan ibumu? Sudah sebegitu tua. Setidaknya, bahagiakanlah ia. Jangan membuat ia semakin bersedih dengan perilaku dan kata-katamu. Kamu harus belajar menyampaikan dengan tutur lembut, belas kasih, bukan dengan nada memberontak. Bukankah Rasulullah adalah sebaik-baik manusia yang memiliki akhlak paling terpuji? Jika dia sanjunganmu yang tertinggi, maka lakukanlah dan sampaikanlah dengan penuh kelembutan, cinta, dan kasih sayang.”

Dug. Hatinya serasa dihantam. Ranang terdiam. Matanya terbelalak. Keningnya berkerut, berusaha berpikir keras.

“Pulanglah! Bahagiakan ibumu, jangan lagi sakiti dengan perkataan yang membuatnya semakin sedih.”

Ranang pulang dan mencium tangan Pak Imam penuh penghormatan, sudah lama ia tak mencium tangan itu, sudah lama tak merasakan keteduhan seperti itu.

Ranang berjalan dengan penuh perenungan. Ia mengingat setiap kata yang ia ucapkan kepada penduduk kampung. Ia tak pernah berpikir, apa yang ia ucapkan akan menyakiti perasaan mereka yang mendengarnya.

Saat sampai di rumah, Ranang langsung memeluk ibunya erat, mencium tangannya takzim. Ranang melihat wajah ibunya yang keriput, yang selama ini luput dari pandangan matanya.

Ciputat, 6 Mei 2019

Rumadi, lahir di Pati 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di FLP Ciputat dan komunitas Prosatujuh. Cerpennya pernah dimuat harian Republika, kompas.id, cendananews.com dan detik.com. Penulis bisa dihubungi lewat Whatsapp 085711734787 atau instagram @pendekar_hati.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga