Judul : Maqasid Al-Quran
Penulis : Syekh Izzudin Bin Abdussalam
Penerbit : Qaf Media Kreativa
Cetakan : Maret, 2021
Tebal : 195 halaman
ISBN : 978-602-5547-959
Peresensi : Abdul Warits*
Dalam menyampaikan tujuan-tujuan pokok yang terkandung dalam Al-Quran, tentu ada berbagai metode dan strategi agar pesan-pesan Al-Quran membumi di dada suatu kaum. Salah satunya disampaikan melalui metode majas yang sangat kaya di dalam Al-Quran dengan maqasid di dalamnya. Sebagaimana juga terdapat di dalam buku yang dikarang oleh Imam Al-Izzuddin Ibnu Abd As-salam dan ditahqiq oleh Ayman As-Syawwa ini.
Mafhum dikalangan nahdliyyin bahwa tradisi bertaklid menjadi sangat penting dalam madzhabnya. Akan tetapi, sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Imam Al-Izzuddin Ibnu Abd As-salam. Beliau memang dikenal sebagai seorang Imam yang tidak bertaklid kepada gurunya, tidak pula kepada kitab-kitab yang ia baca atau dibacakan kepadanya. Bahkan, Imam Izzuddin tidak mau menerima begitu saja pendapat Imam Madzhabnya. Ia tidak fanatik terhadap Imam Madzhab yang dianutnya. Obsesi terbesarnya adalah mencari kebenaran dan pendapat paling shahih pada setiap bahasan dalam bidang ilmu apapun, kecil atau besar dengan pertimbangan akal, pengkajian berulang dan proporsional. (hal. 06)
Buku terjemahan dengan nama kitab asli Nubadz Min Maqasid Al-Kitab Al-Aziz ini. An-Nubadz artinya adalah sesuatu yang sedikit. An-nubdzah adalah bentuk singular dari an-nubadz yang berarti selintas dari sesuatu (hal. 13). Sedangkan, mayoritas maqasid Al-Quran, menurut pengarang kitab ini, adalah perintah untuk mencapai kemaslahatan dan hal-hal yang menjadi sebabnya serta larangan untuk melakukan kerusakan (mafsadat) dan semua hal yang menyebabkanya. Sebab itulah, maqasid Al-Quran merupakan salah satu objek kajian paling mulia dalam ranah ilmu Al-Quran. Sebuah bahasan yang layak dipahami dan dipelajari oleh setiap orang karena mengandung kebenaran, penjelasan dan bukti-bukti kuat yang dapat dijadikan sebagai dalil. (hal. 18)
Maka, tidak heran jika Imam Izzuddin menyebutkan bagian bagian penting dari aspek hukum, perintah dan larangan Al-Quran di dalam buku ini. Bahasan-bahasan tersebut diakhiri dengan penjelasan qurani tentang sifat-sifat Allah yang indah. Di satu sisi, beliau juga menjelaskan dengan khusus bahasan tentang keistimewaan Al-Quran (I’jaz). Menurutnya, bagian penting dari Al-Quran adalah kemukjizatannya yang mencakup model penyampaian yang singkat, keindahan retorika, kedalaman penjelasan, kefasihan ungkapan, kesatupaduan yang melampaui kebiasaan bangsa Arab dalam syair dan lainnya. (hal. 19)
Tidak hanya sebatas itu saja, Izzudin bin Abdis Salam mengatakan bahwa pendapat dalam tafsir adalah apa yang ditunjukkan oleh Al-Quran itu sendiri pada bagian lain dari dirinya (self reference), hadits Nabi, Ijmak, atau konteks kalimat. Beliau menegaskan bahwa wajib hukumnya menawarkan makna Al-Quran yang paling shahih dan pendapat paling kuat. Karena sebagian ulama nahwu kadang hanya mementingkan kaidah ilmu nahwu meski berlawanan dengan dalil-dalil syara’. (hal. 21)
Dicontohkan di dalam kitab ini Surat Al-baqarah ayat 271 tentang pujian Allah terhadap sesuatu adalah sebagai pemikat. Pada ayat tersebut Allah memuji sedekah yang dipertontonkan sebagai bentuk perintah agar orang melaksanakan sedekah dengan benutuk demikian. Pada saat yang sama,Allah menegaskan bahwa bersedekah dengan sembunyi-sembunyi lebih baik dari pada mempertontonkannya sebagai penekanan agar hamba-hambanya lebih memilih untuk mnyembunyikan sedekah ketika mengeluarkanya. (hal. 44)
Di akhir buku ini, dijelaskan bahwa Al-Quran itu dzalul yaitu ditaati oleh orang yang membacanya dari semua pengguna bahasa dan Al-Quran juga memiliki banyak wajah, maka bawalah ia pada wajahnya yang paling baik. Al-Quran memiliki banyak wajah karena al-Quran mencakup semua bentuk perintah, larangan, penghalalan dan pengharaman. Wajah yang paling baik maksudnya adalah agar Al-Quran dimaknai dengan maknanya yang paling baik.

