Image Slider

Rezeki dalam Perspektif Madura: Apapun Pekerjaannya, Santri Akhlaknya

Rezeki adalah apa yang bermanfaat bagi seseorang. Rokok yang sedang Anda nikmati, meskipun pemberian orang adalah rezeki Anda. Sebaliknya, 5 bungkus rokok di tangan Anda, namun tidak Anda nikmati bukanlah rezeki, namun sebatas harta. Harta adalah apa yang kita miliki, sedangkan rezeki adalah apa yang berguna bagi kita, meski bukan milik sendiri.

Rezeki tidak terbatas pada materi. Sehat, gembira, tawa dan aneka hal berguna lainnya adalah rezeki. Manusia sebenarnya mencari rezeki, bukan harta. Pasalnya, materi dikumpulkan tidak lain kecuali karena keyakinan bahwa materi tersebut berguna bagi manusia. Uang dicari, karena ia berguna untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan serta kebutuhan lainnya. Seandainya manusia dapat makan, minum, rekreasi, berbelanja tanpa uang, maka mereka takkan mencari uang. Jadi, sebenarnya manusia mencari guna dari harta dan selainnya. Guna itulah yang disebut rezeki.

Watak dasar manusia ialah menginginkan hal-hal yang menyenangkan dan enggan kepada hal-hal yang menyedihkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa uang merupakan alat penghasil kesenangan dan penghindar kesedihan. Benar bila Ust. Tibyanto Ahmad, M.Pd.I, pengajar di MA 1 Annuqayah dan Instika berkata, “Uang memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang. Uang memang tidak dibawa mati, tapi hidup tanpa uang bagaikan mau mati.” Islam datang tidak untuk memberantas kebutuhan akan uang, tapi mendewasakannya.

Salah satu pendewasaan Islam berkenaan ini terabadikan dalam pepatah Madura, “Pangeran tak adhu’um lakoh, tape adhu’um rajhekkeh”: Tuhan tidak membagi kerja, tapi membagi rezeki. Untaian kata singkat dan padat ini menyebarkan spektrum makna yang luas. Di antara keluasannya ialah poin-poin berikut.

Pertama, modal paling ampuh dan paling mampu menjaga harga diri dalam menghasilkan uang ialah kerja. Tak heran, beberapa muda-mudi masa kini mengejar jurusan yang berpotensi kerja dan tentunya uang. Kecondongan ini tidaklah keliru seperti anggapan sebagian orang bahwa yang demikian telah melenceng dari ikhlas. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa Islam tidak datang memberantas kebutuhan, tetapi mendewasakannya. Ikhlas bukan hanyasematakarena Allah. Ikhlas macam ini adalah tingkatan tertinggi. Adapun di bawahnya masih berderet tingkatan-tingkatan ikhlas yang sesuai dengan kemampuan manusia kebanyakan. Mengharap kerja dan uang dari ilmu pengetahuan tidak salah, karena itu kebutuhan. Yang salah ialah ketika menggunakan uang tadi untuk kemaksiatan.

Hanya saja, sering orang berpatokan bahwa suatu jurusan besar kemungkinan – untuk tidak disebut pasti – mendatangkan uang. Patokan ini menggeser peran jurusan lainnya menurut anggapan, bahkan keyakinan mereka. Di sinilah relevansi pepatah Madura tadi. Kerja bisa ditiru, tapi rezeki tidak bisa. Mengapa? Karena rezeki sudah diatur Tuhan. Apakah dengan demikian, kita tidak perlu berusaha? Tentu saja bukan begitu maksudnya. Usaha tetap harus, namun apakah hasil melimpah atau tidak itu adalah misteri. Oleh sebab misteriusitasnya, maka tak heran orang yang tidak kuliah sukses, sedangkan yang lulus kuliah – mohon maaf – menganggur. Fakta demikian tidak bisa dijadikan acuan bahwa kuliah itu tidak penting. Pasalnya, masih banyak mereka yang jauh lebih sukses melalui kuliah. Deretan fakta ini adalah bukti bahwa rezeki tidak bisa diukur secara pasti melalui kerja, jurusan dan perantara lain yang dinilai lumrah oleh manusia. Pun juga, kegagalan atau kesuksesan sebagian tidak bisa dibuat tolok ukur mutlak atas kegunaan atau kesia-siaannya. Lulusan kuliah yang nganggur bukan berarti kuliah tidak penting. Lulusan kuliah yang sukses bukan berarti kuliah pasti membuat Anda sukses. Demikian pula dengan bidang lainnya. Jadi, terhampar samudera kemungkinan tanpa hingga di hadapan kita. Pepatah Madura tersebut selaras dengan filsafat absurditas Albert Camus, filsuf besar Prancis bahwa manusia ditakdirkan bertarung menghadapi aneka kemungkinan tanpa hingga.

Kedua, pepatah Madura di muka mengajarkan kita untuk tidak iri-dengki atas kesuksesan orang lain atau sombong atas kesuksesan sendiri atau main curang demi meraih kemenangan. Pasalnya, rezeki kita diatur Tuhan. Iri-dengki berarti tidak rela pada keputusan Tuhan dalam pembagian rezeki. Sombong berarti lupa bahwa rezeki diperoleh bukan karena usaha, tapi karena kehendak dan kasih sayang-Nya. Main curang berarti lalai bahwa rezeki sudah diatur. Jadi, untuk apa curang atas hal-hal yang sudah pasti aturan mainnya? Dengan demikian, persaingan tetap harus berjalan, namun segala sikap dan cara negatif disingkirkan. Ini berlaku di semua lini kehidupan. Inilah salah satu makna dari anak judul, “Apa pun pekerjaannya, santri akhlaknya”, nasihat K.H. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum, penasihat PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Adapun “santri” sebenarnya tidak terbatas pada mereka yang mondok. Santri adalah dia yang menerapkan akhlak, meski dia tidak mondok. Demikian pesan Gus Mus (K.H. Ahmad Mushtafa Bisri), kiai sekaligus budayawan. Wallahu A’lam.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga