Image Slider

Sang Syahid KH Abdullah Sajjad dalam Kesaksian Seorang Santri (Bagian 2)

Oleh: K Ahmad Fauzan Rofiq

Kidung Kiai Sajjad
Nama “Sajjad” menurut Kyae Rahman adalah nama asli dari Kiai Haji Abdullah Sajjad bin KH Muhammad Syarqawi al-Kudusi, bukan nama gelar (di mana beliau wafat dalam keadaan sujud sebagaimana versi Ahmad Baso), sebab saat masih hidup beliau biasa dipanggil “Kiai Sajjad” dan pasukannya disebut “Pasukan Kiai Sajjad”.

Kiai Sajjad adalah orang yang paling dicari oleh Belanda. Mereka tahu bahwa dalang sekaligus aktor yang menggerakkan rakyat untuk melawan dan menghadang pergerakan Belanda di daerah Pakong adalah Kiai Sajjad. Jadi wajar jika beliau selalu diburu oleh Belanda dengan berbagai cara. Akhirnya Kiai Sajjad bersembunyi (lebih tepatnya bergerilya) di daerah Karduluk.

Menurut Kiai Ali Wafa, seorang saudagar kaya di Prenduan yang pernah menyelamatkan Kiai Khazin Ilyas ke Sukorejo, bahwa Kiai Sajjad pernah ingin diungsikan ke daerah Sukorejo juga, namun beliau menolak. Beliau tidak sudi menumbalkan rakyat hanya demi keselamatannya sendiri, sehingga beliau tetap bertahan di Karduluk.

Ketika dalam pengungsian, Kiai Sajjad tidak melupakan tugas utamanya sebagai pengayom dan guru umat. Beliau masih sering morok ketika situasi dianggap benar-benar aman. Materi yang sering beliau berikan adalah tauhid.

Beliau juga sangat kreatif menyusun syair-syair berbahasa Madura yang dilantunkan bersama Shalawat Nabi. Saking seringnya syair-syair itu dilantunkan, banyak di antara laskar dan para pengiringnya yang hafal, termasuk Kyae Rahman. (Catatan: mengenai Kidung Kiai Sajjad ini pernah dimuat dalam buku “Jejak Masyayikh Annuqayah” dalam edisi terbatas).

Syair-syair itu terus beliau lantunkan, sampai suatu ketika datanglah sepucuk surat yang dihantar oleh seorang kurir.

Jika mengingat serta melantunkan Kidung Kiai Sajjad itu, Kyae Rahman laksana menyenandungkan kidung kematian, karena Kiai Sajjad senantiasa melantunkan kidung tersebut di masa-masa akhir hayatnya, sehingga tanpa terasa air mata Kyae Rahman meleleh di ujung kedua matanya.

Sebuah Pengkhianatan
Belanda yang masih bercokol di daerah Kemisan Guluk-Guluk terus berusaha mengendus keberadaan Kiai Sajjad. Mata-mata pun disebar, termasuk mengerahkan kaum pribumi yang kehormatannya bisa dibeli alias para pengkhianat.

Sebuah kabar angin menuturkan bahwa Kiai Sajjad bersembunyi di daerah Karduluk. Belanda pun menyusun siasat. Mereka tidak ingin buruannya lepas. Maka dipakailah siasat lama yang pernah digunakan Belanda untuk menjerat Pangeran Diponegoro, yakni “Surat Damai”.

Belanda kemudian menyewa seorang kurir untuk mengantarkan surat tersebut. Isi surat itu adalah meminta Kiai Sajjad untuk pulang ke Annuqayah karena situasi telah aman dan Belanda telah menarik diri ke daerah Pamekasan.

Di sini Kyae Rahman mencoba berspekulasi. Menurutnya, surat itu sebenarnya bukan bikinan Belanda, tetapi bikinan pribumi pengkhianat yang menginginkan kematian Kiai Sajjad. Surat itu sengaja dibuat oleh seorang pengkhianat agar Kiai Sajjad keluar dari persembunyiannya dan pulang ke Annuqayah, kemudian setelah beliau benar-benar pulang, si pengkhianat lalu melaporkan pada Belanda. Na’udzubillah.

Didorong oleh kerinduannya pada pesantren yang diasuhnya, Kiai Sajjad pun pulang ke Annuqayah. Dalam perjalanan, beliau merasakan adanya kedamaian tanpa curiga sedikit pun. Hingga menapakkan kaki di Annuqayah, masyarakat mengelu-elukan kedatangannya. Mereka datang silih berganti, siang dan malam, hanya untuk bertemu dengan beliau.

Setelah mengetahui bahwa Kiai Sajjad berada di Pesantren Annuqayah, maka Belanda langsung merencanakan penangkapan. Satu regu diterjunkan. Mereka bergerak senyap di malam hari menuju Latee.

Suasana di Latee yang semula penuh haru biru, tiba-tiba berubah menjadi tegang karena kehadiran pasukan loreng Belanda dengan senjata laras panjang. Kiai Sajjad juga terlihat sedikit panik saat mengetahui kehadiran Belanda. Beliau bukannya takut, tapi berpikir kenapa ada Belanda dan bagaimana menyelamatkan masyarakat yang sedang bersama beliau itu?

Satu pimpinan regu nampak tersenyum ketika melihat Kiai Sajjad. Sambil bergerak maju, ia meminta Kiai Sajjad agar mau dibawa ke Markas Belanda di Kemisan untuk bermusyawarah. Masyarakat berang, mereka paham dengan siasat licik Belanda ini, pasti akan terjadi apa-apa jika beliau sampai bersedia dibawa Belanda. Hal buruk pasti akan menimpa beliau.

Masyarakat berontak, tapi ditahan oleh Kiai Sajjad. Beliau berusaha menahan dan menjanjikan pada masyarakat bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Meski dihantui rasa curiga, masyarakat pun rela melepaskan Kiai Sajjad untuk dibawa ke Kemisan.

Dengan penuh ksatria, beliau melangkah tanpa meminta pengawalan orang terdekatnya sekalipun. Deru tangis kerabat, handai taulan, dan masyarakat mengiringi kepergian beliau.
[Selanjutnya di Bagian 3]

*) K Ahmad Fauzan Rofiq, alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenep, sekaligus Pengasuh LPI Babul Ulum Nyalaran Pamekasan.

____________
Sumber: https://www.facebook.com/100003286128943/posts/2372491029537078/ dikutip Senin, 16 Agustus 2021, pukul 22.45 WIB.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga