Oleh : Ahmad Herzi
Sea Games di Vietnam yang sempat tertunda tahun 2021 akibat pandemi, akhirnya sebentar lagi akan di mulai. Tentunya dari cabang sepakbola, Indonesia selalau tampil di turnamen tersebut. Timnas Indonesia berada satu grup dengan tuan rumah, di susul Myanmar, Filipina dan Timor Leste.
Perkembangan timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih Shin Tae-yong berkembang pesat, meski masih belum membuahkan tropi, tetapi dari segi kualitas tim semakin baik.
Kali ini penulis tidak mau membahas soal perkembangan timnas Indonesia, tetapi bagaimana semua lini turut mendukung dalam perjuangan Indonesia di cabang apapun untuk menuai hasil positif.
Salah satu faktor pendukung suksesnya peradaban Indonesia baik di sepakbola ataupun hal lain adalah bagaimana dunia entertainment, perteleviasian nasional ataupun konten kreator juga berperan.
Lihat saja di Jepang, saat negara mereka hancur akibat kalah telak di Perang Dunia ke-2, Jepang segera bangkit lewat teknologinya yang luar biasa, bahkan diterima dalam industri dunia.
Jepang juga melihat potensi-potensi lain untuk dibangun – selain perekonomian dan otomotif – agar bisa juga diakui kehebatannya oleh internasional. Salah satu contoh adalah banyak memproduksi film-film yang di sukai anak-anak, seperti film robot, kartun, kesatria super hero, dan sejenisnya.
Selain diterima oleh banyak kalangan di dunia, Jepang juga tidak main-main untuk sekedar keuntungan materi, tetapi lebih bagaimana memtotivasi generasi muda lewat sebuah serial animasi dan lainnya.
Dulu pada dekade 80 hingga awal 90-an, Jepang bukan kekuatan yang terbilang di takuti di sepakbola Asia. Bukan juga langganan piala dunia, hingga suatu ketika muncullah serial anime Captain Tsubasa.
Jepang memiliki motivasi luar biasa untuk memajukan sepakbola mereka. Khalayak sudah tahu serial kartun Captain Tsubasa yang tujuannya jelas untuk memotivasi para pemuda Jepang untuk bermain sepakbola dan juga mimpi untuk membawa negaranya sukses lolos ke Piala Dunia. Awalnya di sana lebih suka olahraga Basball, tetapi perlahan mulai memudar oleh sepakbola. Terbukti tahun 1998 Piala Dunia di Prancis, Jepang berhasil lolos untuk pertama kalinya dipentas sepakbola terbesar itu.
Penulis yang merupakan pribumi asli Indonesia, terkadang saat menonton film Captain Tsubasa sangat termotivasi untuk menggapai impiannya. Karena sebenarnya dalam film kartun tersebut bukan hanya tentang sepakbola, tetapi bagaimana seseorang meraih impiannya.
Berangkat dari film tersebut, penulis berharap bagaimana dunia perfilman di Indonesia mampu memotivasi generasi muda, khususnya di serial film kartun yang mampu memompa semangat nasionalisme sehingga membela Tanah Air sejak dini dan termotivasi berkhidmat menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semisal membuat suatu program yang di sukai anak-anak kendati masih belum ada yang serius untuk memassifkan hal ini.
Untuk itu, generasi muda Indonesia yang saat ini melek pada teknologi, bisa membuat suatu program untuk memtotivasi seseorang cinta bertani, cinta pada lingkungan dan lainnya.
Ketika negara- negara lain banyak memotivasi rakyatnya atau melupakan sejarah kelamnya lewat entertaiment dan semacamnya. Indonesia masih berkutat dengan sinetron-sinetron percintaan, drama artis yang tak kunjung habis dan adu domba politik yang tidak ada habisnya. Jangan harapkan generasi muda termotivasi dengan hal-hal kemajuan jikalau ini yang di pertontonkan.
Mengimplementasikan nilai-nilai nasionalisme adalah kewajiban semua lini pada umumnya dan pemerintah pada khusunya untuk lebih mensosialisasikan pada warga negaranya, termasuk dengan memotivasi sejak usia dini lewat program yang edukatif.
Jepang berhasil memberikan sesuatu pada anak-anak, pada pemuda untuk termotivasi memajukan negaranya, bahkan dengan sesuatu yang kekinian yang oleh sebagian orang di anggap hanya hiburan semata.
*) Kabid IT TVNU Sumenep
Editor : Firdausi

