Batuan, NU Online Sumenep
Di edisi Kamis (21/1/2021) dari kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Radio Nusa FM 95.4 Megahertz melaunchingkan program baru, yaitu Suara Publik dengan tema ‘Meneguhkan Pers NU Menuju An-Nahdlah Ats-Tsaniyah.
Firdausi, selaku host yang bertugas memandu program Suara Publik ini mengundang Ibnu Abbas yang saat ini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) pcnusumenep.or.id. untuk menjadi tamu atau narasumber yang olehnya diwawancarai terkait jurnalistik.
“Kami telah menyiapkan point-point pertanyaan seputar jurnalistik yang selama kurang lebih dua jam ke depan akan dijadikan bahan diskusi dengan Pemred NU Online Sumenep ini,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep itu saat memberikan pengantar pembuka.
Sebelum masuk ke fokus utama, Ketua Divisi Jurnalistik Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep itu memperkenalkan nama-nama yang terlibat sebagai kru, mulai dari Dewan Pembina, Redaktur Ahli, Direktur, Wakil direktur, Pemred, Wakil Pemred, Redaktur Pelaksana (Redpel), Redaktur, Tim IT dan Medsos, Humas, Manajer Iklan dan Bisnis, dan Kontributor yang tersebar di masing-masing Kecamatan atau Mejelis Wakil Cabang Nahdlatul (MWCNU) setempat.
Acara yang disiarkan langsung di Studio Nusa FM itu, membahas perihal yang menjadi tugas pokok dan fungsi para kru NU Online Sumenep sebagai kepanjangan tangan daripada perjuangan Nahdliyin di Kabupaten Sumenep.
“Media yang kita kelola bersama ini tentu merupakan wadah untuk nahdliyin dalam mengakses informasi seputar realitas ke-NU-an yang ada di akar rumput. Dari itu harapan kami adalah dengan sajian-sajian informasi yang tersedia, bisa menjadi inspirasi untuk semua pihak,” ujar Abbas, sapaan akrabnya.
Tak kalah penting dari itu, host juga menanyakan tentang bagaimana sikap yang harus dilakukan ketika menghadapi berita-berita hoaks yang bertebaran di media sosial. Karena menurutnya, sebagai salah satu dampak dari berita-berita hoaks tersebut, kondisi kehidupan sosial masyarakat terganggu.
Menyikapi realitas tersebut, menurut Abbas, sebaiknya masyarakat hari ini harus lebih selektif dalam menerima informasi-informasi yang bertebaran di media sosial. Ia seolah menyayangkan adanya fakta bahwa tidak jarang ada di antara mereka yang terpengaruh oleh berita yang tidak memiliki sumber terpecaya. Akibatnya pertikaian dan pertentangan menjadi perihal yang sering dijumpai.
“Ada baiknya kita bijak dalam bermedia sosial. Berusaha untuk menghargai di setiap perbedaan. Dengan demikian hidup guyub dan rukun sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Muassis NU bisa tetap dilestarikan oleh kita,” ungkapnya penuh harap.
Ia menambahkan bahwa tantangan di kehidupan yang serba tekhnologi ini, harus betul-betul bisa memanfaatkannya dengan bijak. Karena kalau tidak maka yang akan terjadi adalah antara menjadi pelaku atau korban, daripada penyebar konten- konten berit provokatif itu.
“Tentu tidak semua informasi yang ada itu tidak baik. Masih banyak kita jumpai konten-konten yang positif. Tetapi kita harus tetap benar-benar selektif,” imbuhnya.
Lebih jauh, dirinya juga mengaku bahwa tidak bisa dipungkiri realita yang terjadi hari ini adalah ada banyak media-media online yang tidak memiliki sifat independensi. Karena media tersebut cenderung dibuat atas dasar kepentingan tertentu.
“Maka independensi pers ini harus tetap kita tegakkan. Idealnya, keberadaan media online harus menyampaikan informasi yang sebenarnya, dan tetap sejalan dengan kode etik pers yang berlaku. Ini yang terus diupayakan oleh NU Online Sumenep. Agar tidak tergerus oleh keadaan seperti itu,” tegasnya.
Sebelum diakhiri, Cak Fir, sapaan akrab host di program Suara Publik itu meminta narasumber untuk memberikan closing statement, atau pesan-pesan moril yang berkaitan dengan bagaimana seharusnya menyikapi media informasi yang bertebaran saat ini.
“Ada lima hal yang perlu kita lakukan, dan harus berjamaah, sebagai tradisi yang selama ini terus dijaga dengan baik oleh NU. Pertama, hindari berkomentar kasar dan kotor di media sosial. Kedua, hindari pembicaraan yang berunsur SARA, provokatif dan pornografi. Ketiga, selektif dalam mengonsumsi berita, dengan cara budayakan mengkonfirmasi keabsahannya. Keempat, budayan apresiasi. Hargai karya orang lain meskipun itu hal kecil. Dan yang kelima, lebih hati-hati dalam memberikan informasi pribadi di publik,” ungkapnya saat sebelum mengakhiri pembahasan.
Editor : A. Warits Rovi

