Bluto, NU Online Sumenep
Setelah turun bareng ke Pragaan dan Kalianget, kini Rabu (20/01/2021) malam Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep turun di kumpulan rutin dwi mingguan ‘Lailatul Ijtima’ Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bluto. Kegiatan ini dipusatkan di kediaman Ustadz Fathorrazi, Desa Errabu, Kecamatan Bluto, Sumenp, Rabu (20/01/2021) malam.
Sekretaris LDNU PCNU Sumenep, K. Surya Fajar Rasyid mengatakan bahwa, tugas LDNU ialah mendakwahkan faham Islam Ahlussunnah wal Jamaah, baik dengan tatap muka maupun melalui media sosial.
“Dakwah media sosial di era digital hari ini sangat penting. Mari dukung channel media LDNU Sumenep. Setidaknya nahdliyin dapat merespon, meskipun dengan sekedar nge-like. Kita ini besar dan kuat jika respon warga positif,” ujarnya.
K. Imam Sutaji, Ketua LDNU PCNU Sumenep, pada kesempatan itu mengajak pengurus yang hadir mengenal NU lebih dalam, dengan mengemukakan empat alasan ber-NU :
Pertama, karena NU mengajarkan kita untuk oposisi biner. Di antara dua kutub yang selalu berhadapan atau bersinggungan, NU selalu ramah dengan perbedaan.
“Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan bukan perpecahan. NU ramah berbudaya. Bahkan menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama,” ujarnya mengurai esensi perbedaan.
Kedua, Sanad NU itu jelas. Sanad adalah mata rantai ketersambungan ilmu, amal dan akhlaq dari guru-guru serta ulama hingga sampai kepada baginda Rosulullah SAW.
“Kenapa menjaga sanad NU mata rantai ulama penting, karena melalui ulama otentisitas agama dapat terjaga,” ungkapnya.
Beliau katakan, Al-Isnadu min al-Din yang bermakna bahwa sanad itu bagian dari agama. Laulal Isnad laqala man sa’a ma sa’a, kalau tanpa sanad, maka orang boleh bicara apa saja semau-maunya.
“Maka, sanad inilah sebagai kontrol penyeimbang agar ilmu dan perilaku kita tetap sesuai ajaran agama yang benar,” tambahnya.
NU hadir dengan ajaran yang moderat. Maka, ketika kita hendak memperbaiki orang lain maupun pemerintah, tidak perlu caci maki di jalanan. Tarik tangannya ke tempat yang sepi, atau gunakan institusi negara. Jangan dipermalukan di jalanan.
“NU punya seribu cara untuk menegur orang lain. Yakni mengajak kebaikan dengan cara tidak menyakiti yang lain,” ungkapnya lagi penuh nasehat.
Ketiga, di NU punya ajaran Barokah. Barokah adalah Ziyadatul Khair min Allah, tambahan kebaikan dari Allah SWT. Dan barokah didapatkan hanya dengan cara berkhidmah.
“Di NU, berbagai profesi, dari yang paling alim sampai yang paling rendah dalam pandangan manusia itu ada. Semua lahir karena barokah. Menjadi NU bukan mengejar nominal, tapi mengharapkan barokah dan ridha Allah,” tuturnya disambut serius peserta yang hadir.
Keempat, NU sukses mengonsolidasi kehidupan keagamaan, sosial dan kebangsaan. Beliau pun menyinggung agama yang belakangan ini dipahami dengan menegangkan bahkan menakutkan.
“Agama jangan hanya dipahami tekstual, tapi juga kontekstual selalu relevan dan interaktif dengan perkembangan zaman dan keadaan. Agama tak boleh dijadikan alat melakukan tindakan kekerasan. Ini semua agar wajah agama tak terlihat menakutkan. Ekspresi Islam ini ramah, lembut penuh kasih sayang,” ujarnya.
Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk ini juga menceritakan awal berdirinya NU. Menurutnya, kenapa Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asyari tidak segera mendirikan NU, waktunya cukup lama dari isyarah tongkat dan tasbih, karena saat itu masih ada gurunya.
“Bagaimana mungkin akhlaq santri dapat mendirikan organisasi padahal gurunya Syaikhana Khalil Bangkalan Madura masih ada,” ungkapnya menyusuri perjalanan sejarah ke-NU-an.
Tahun 1925, Syaikhana Khalil Bangkalan Madura meninggal dunia, keadaan tak dapat diurai lagi dengan kekuatan tokoh saja, maka berdirilah organisasi bernama Nahdlatul Ulama, yang juga lahirnya atas respon pada masalah internasional, yaitu keterkekangan bermadzhab di Timur Tengah dan perlawanan pembrangusan makam Nabi dan situs bersejarah.
Penceramah muda yang juga instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) ini juga mengingatkan warga NU agar tidak mudah terjebak pada pertanyaan yang menipu. Di zaman Ghazwul Fikr ini, kita terkadang dihadapkan pada pertanyaan yang menjebak, pilih Islam atau Pancasila, seolah Pancasila tidak Islami.
“Pancasila bukan agama tapi Pancasila tak bertentangan dengan agama. Sehingga keduanya bukanlah dua hal yang bertentangan, sehingga tak perlu dihadap-hadapkan,” ujarnya mengulas panjang lebar hubungan Islam dan Pancasila.
Terakhir, beliau menjelaskan tentang NU dan perangkatnya hadir mengabdi pada ulama dan kiai. Seberapa pun NU punya kekuatan semi-militer tapi tak akan pernah kudeta pada negara.
“NU punya pasukan Banser yang jumlahnya jutaan, tapi NU tak pernah berpikir untuk kudeta, karena kehadiran NU untuk melanjutkan perjuangan wali songo, merawat NKRI di tengah keberagaman dan kemajemukan,” pungkasnya mengakhiri penjelasan.

