Image Slider

Takbiran di Madura: Harmoni Iman dan Solidaritas dalam Gema Malam Kemenangan

Oleh: Damanhuri *)

Kalau kita sedang di Madura saat malam Idulfitri, lupakan soal kesunyian. Di sana, malam takbiran bukan sekadar tanda berakhirnya puasa, melainkan sebuah “festival” iman dan sosial yang berpadu penuh makna.

Tradisi takbiran di Madura adalah bukti nyata bagaimana nilai keagamaan dan solidaritas sosial melebur jadi satu, menciptakan vibe yang unik dan perekat sosial yang meruntuhkan sekat-sekat kelas.

Dalam dimensi keagamaan, takbiran di Madura adalah bentuk “Takbir Mursal”, yaitu takbir yang tidak terikat waktu salat dan disunahkan untuk dikumandangkan sejak terbenamnya matahari hingga imam salat Id memulai takbiratul ihram.

Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim as-Syafi’i dalam Fathul Qarib al-Mujib dengan merujuk pada anjuran hadis: 

من أحْيَا لَيلَةَ الْعِيد، أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْت القُلُوبُ

 “Barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya, Allah akan menghidupkan hatinya di saat hati-hati orang sedang mengalami kematian.” (Lihat: Ibrahim Al Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri, [Thaha Putra], h:227).

Bagi masyarakat Madura yang mayoritas berafiliasi dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU), menghidupkan malam hari raya dengan takbir adalah cara menjaga agar “hati tidak mati” di saat hati orang lain mengalami kematian spiritual.

Di pelosok desa, bakal kita dengar lantunan takbir yang sahut-menyahut dari masjid ke langgar-langgar kecil tanpa henti sejak sore sampai pagi hari. Bahkan, dimensi religius ini makin kental dengan adanya tradisi membawa hantaran makanan ke rumah Kyai atau guru ngaji sebagai bentuk takzim dari orang tua yang anaknya belajar mengaji.

Namun, takbiran di Madura tidak melulu soal ritual di dalam masjid. Di sinilah dimensi sosialnya bermain dengan sangat apik melalui takbir keliling. Di beberapa daerah seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, takbiran dikemas dengan parade obor, lampion raksasa, hingga musik Daul yang energetik.

Musik Daul sendiri awalnya adalah alat pengaman lingkungan (pratol) dan pembangun sahur, namun kini bertransformasi menjadi hiburan massal yang mempercantik malam kemenangan. Dalam konteks di atas, takbir keliling bukan sekadar pamer keramaian, tapi berfungsi sebagai sarana mempererat tali silaturahmi, terutama bagi para perantau yang baru pulang kampung.

Ini adalah momen “temu kangen” kolektif di mana warga tumpah ruah di jalanan, saling menyapa, dan merayakan identitas mereka sebagai orang Madura yang religius sekaligus dinamis. Karenanya, takbir keliling tidak perlu dilarang, melainkan harus dikelola secara tertib, edukatif, dan tetap menjaga Marwah kesuciannya.

Jangan lupakan juga tradisi “Ter-ater” atau mengantarkan makanan. Di malam takbiran, ibu-ibu di Madura memegang kendali dapur untuk mengirimkan masakan ke sanak keluarga. Bahkan hal ini sudah dimulai menjelang 10 hari terakhir bulan Ramadhan yang bagi masyarakat lokal disebut “amaleman” dilakukan pada malam-malam ganjil.

Secara sosiologis, tradisi ini adalah aset sosial yang membangun kehidupan masyarakat yang kondusif karena mengajarkan kesalehan sosial dan simbol kebersamaan. Memang, belakangan ini ada pro-kontra, terutama soal keamanan atau gangguan suara dari musik “dugem” yang terkadang menyusup di sela takbir keliling.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, tradisi takbiran ini adalah “lem” yang menjaga integrasi sosial masyarakat Madura.Takbiran di Madura adalah ekspresi kegembiraan yang tulus, sebuah perpaduan antara ketaatan pada sunah nabi dan kearifan lokal yang harus terus dilestarikan. Adalah tugas berat kita semua buat menjaga agar tradisi yang penuh makna ini tidak hilang ditelan zaman atau cuma jadi tontonan tanpa esensi spiritual.

Jadi, tradisi takbiran di Madura itu bukan cuma soal berisik, tapi soal bagaimana iman, budaya, dan persaudaraan berdenyut dalam satu irama yang sama. Kita koreksi dan benahi hal-hal yang kurang baik serta pertahankan yang sudah baik. “Al-Muhâfadatu ala Qodîmi as-Shaleh wa al-Ahdu bi al-Jadîdi al-Aslah” [dr]

*) Sekretaris PCNU Sumenep masa bakti 2025-2030.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga