Oleh: Fajri Andika
Judul: Wajah Islam Madura
Penulis: A. Dardiri Zubairi
Penerbit: TareBooks, Jakarta
Cetakan: September, 2020
Tebal: viii + 140 Halaman
ISBN: 978-602-5819-74-2
“Jika mendengar kata Madura, maka yang terlintas di benak kita adalah seratus persen Islam. Jadi, jangan mengajari orang Madura tentang Islam, karena mereka telah diajari oleh para ulama terdahulu, seperti Mahaguru Mbah Kholil Bangkalan yang sampai sekarang namanya semerbak,” ujar seorang kiai ketika ditanya tentang Islam di Madura. Apa yang diucapkan kiai tersebut memang benar. Nyaris seratus persen masyarakat Pulau Garam beragama Islam. Meskipun demikian, yang sering ditanyakan oleh orang-orang non-Madura ialah apakah benar semua orang Madura itu NU? Nah, jawaban atas pertanyaan tersebut termuat dalam buku berjudul “Wajah Islam Madura” ini.
Dalam buku ini dijelaskan bahwa bicara Islam di Madura berarti bicara bagaimana Islam diperkenalkan, diajarkan, dan dilembagakan pada dan oleh orang Madura. Di sini kita tidak bisa menafikan peran langgar (surau), madrasah, dan pesantren sebagai penerus dakwah para wali di Madura. Tiga institusi yang menjadi pusat pengembangan keislaman tersebut mengajarkan Islam yang memiliki mata rantai keilmuan dengan jaringan ulama Nusantara. Berarti Islam yang diajarkan adalah Islam ala ahlussunah waljamaah di mana NU sebagai organisasi yang memintal dan memeliharanya. Jadi, wajar jika kemudian dikenal bahwa agama orang Madura adalah “agama” NU (halaman 1).
Selain itu, akar historis juga menjadi faktor kenapa orang Madura identik dengan NU di mana ormas terbesar di Indonesia ini tidak akan berdiri tanpa restu Syaikhona Kholil Bangkalan, ulama besar Madura yang juga merupakan guru Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Karena itu, orang Madura memiliki tanggung jawab ke-NU-an yang tidak ringan. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut ialah orang Madura harus merawat dan mengkampanyekan Islam Rahmatan lil Alamin, yaitu konsep yang mengembangkan pola hubungan antar manusia yang pluralis, humanis, dan toleran, sebagaimana yang sering disuarakan oleh para ulama NU terdahulu seperti Gus Dur dan KH. Hasyim Muzadi. Hal ini penting karena kelompok radikal dan intoleran akhir-akhir ini semakin merajalela. Kasus terbaru ialah aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Jika warga nahdliyin Madura abai, bukan tidak mungkin kelompok-kelompok radikal tersebut juga akan merangsek masuk ke Pulau Garam.
Dalam buku setebal 140 halaman ini penulis juga menyatakan bahwa orang Madura juga memiliki tanggung jawab merawat persoalan-persoalan agraria. Madura pasca beroperasinya Jembatan Suramadu menjadi sasaran investasi melalui masifnya penguasaan lahan yang dalam jangka panjang diyakini akan menjadikan orang Madura terpinggirkan. Tidak hanya secara sosial-ekonomi, tapi juga secara budaya. Jika di lahan-lahan yang sudah dikuasai para investor itu nantinya dibangun aneka macam industri, maka tradisi warga nahdliyin juga akan dipinggirkan. Maka ke depan dibutuhkan rencana-rencana strategis yang dilakukan secara sinergis antar PCNU se-Madura (halaman 93-94). Jika upaya-upaya seperti itu tidak dilakukan, maka secara tidak langsung orang Madura telah “mengkhianati” warisan Syaikhona Kholil, dan secara pelan-pelan membiarkan kekayaan pulau mereka kepada para pemodal.
*) Fajri Andika, alumnus Sosiologi FISHUM UIN Suka Yogyakarta. Kini mengelola Arsip Prosa Madura.

