Pragaan, NU Online Sumenep
Jika berkunjung ke kota Keris, kurang pas para pelancong tidak mampir ke Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan. Pasalnya setiap hari di torotoar jalan Provinsi diramaikan dengan minuman khas orang Madura, yakni la’ang atau legen dan kelapa muda. Juga menjual buah ta’al yang bentuknya mirip dengan kolang kaling.
Salah satu pedangan asal desa Pekamban Laok Muamar mengutarakan bahwa selama bulan Ramadhan, dagangannya ludes terjual.
“Selain la’ang, kami juga menyediakan kelapa muda. Yang mana kami juga menyediakan susu instan, telor ayam kampung, beserta madu asli khas Kecamatan Pragaan yang nantinya dijadikan pembatal puasa. Jadi, jika para pelancong lokal, terutama yang sedang mudik bisa menikmati jamu tradisional ini,” ujarnya saat dimintai keterangan oleh reporter NUOS, Selasa (20/4/2021).
Mujiburrahman selaku petani pohon lontar menjelaskan bahwa la’ang diambil dari pohon siwalan atau tarebung yang memiliki bunga berbentuk sulur. Bunga tersebut akan dipotong menggunakan pisau untuk disadap airnya.
“Setelah kami sadap, bunga tersebut akan meneteskan air nira yang kami tampung dalam wadah yang terbuat dari daun lontar. Demi menjaga kebersihan, maka kami bungkus lagi menggunakan plastik atau karung atau kain agar kotoran tidak masuk ke dalam wadah tersebut,” ungkapnya pria kelahiran desa Prenduan.
Warnanya agak keputih-putihan, kekuning-kuningan, dan ada pula kemerah-merahan. Jika diminum saat mentah, khasiatnya lebih baik daripada la’ang yang sudah direbus.
“Manfaat la’ang adalah bisa memperbaiki ginjal, menyembuhkan asma, dan impotensi. Sedangkan daunnya bisa digunakan sebagai kerajinan tangan berbentuk tikar pembungkus tembakau atau tikar dapur,” imbuhnya alumni Madrasah Aliyah (MA) Al-Amien Tegal Prenduan.
Tak sampai di situ, warga Karduluk kerap kali menggunakan la’ang sebagai bahan membuat jubede. Sedangkan warga Prenduan dijadikan gula aren setelah direbus mendidih. Terkadang pula dijadikan dodol khas Madura.
Di kesempatan yang sama, pria yang pernah aktif di organisasi pecinta alam tersebut menegaskan bahwa harga buah ta’al saat ini naik. Jika saat masuk pada musimnya, maka bisa jadi hargnya Rp. 2.000,- per bungkus.
“Buah ta’al inilah yang saat ini diminati oleh para kaum muslim untuk dicampurkan pada minuman sirup. Rasa terasa kenyal, sama jika kita mengkonsumsi kolang kaling atau pun minuman bermerk nasional seperti inaco atau nata de coco,” tambahnya.
Di kesempatan yang berbeda, Yanto pedagang asal Pragaan Laok mengajak kepada para warga Sumenep untuk mampir ke Pragaan untuk memburu dagangannya yang setiap hari mangkal di torotoar jalan.
“Selain bulan puasa, seluruh warung-warung yang ada di sini, ramai dikunjungi. Terutama bagi warga yang hobi dengan traveling atau pria yang hobi naik sepeda gunung,” tandasnya.

