Image Slider

Tradisi Menyumet Kembang Api saat Malam Lebaran

Oleh: Lukmanul Hakim

Tradisi menyumet kembang api saat malam lebaran acapkali menjadi bagian dari tradisi sebagian masyarakat saat menyambut lebaran. Bahkan, sejumlah daerah di Indonesia menjadikannya sebagai menu wajib di luar ketupat dan opor ayam.

Suara yang memekakkan telinga mulai terdengar dimainkan anak-anak di malam bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Juga saat menjelang malam lebaran, langit mendadak akan dihiasi pudaran cahaya kembang api.

Intensitas kembang api akan semakin meningkat saat malam takbiran dan juga pada hari raya Idul Fitri. Aktivitas ini bukan hal baru, tapi sudah terjadi sejak lama dan menjadi tradisi di seluruh daerah.

Sejarah mencatat, kembang api pada malam takbiran di Indonesia bisa dimaknai sebagai realitas agama dan budaya. Tradisi ini merupakan produk akulturasi budaya China dan agama Islam.

Bubuk mesiu yang jadi bahan, awalnya dibawa dari China. Sesampainya di Indonesia, berakulturasi dengan budaya lokal.

Bukan hanya dengan agama Islam, tapi juga budaya lain seperti hajatan dalam budaya Betawi. Kembang api digunakan untuk menyemarakkan suatu acara agar lebih meriah yang kemudian dalam masyarakat Indonesia saat Ramadhan petasan ini seolah dipinjam agar lebih meriah dan menggugah.

Dalam perjalanannya, upaya menyemarakkan ini tidak selalu berujung positif dan cenderung menciptakan citra negatif. Misalnya, digunakan secara berlebihan dan dianggap mengganggu kenyamanan masyarakat serta memicu keresahan masyarakat.

Ini pula yang membuat pemerintah memunculkan peraturan membatasi peredaran petasan dan kembang api saat Ramadhan sehingga muncul beragam modifikasi dengan daya ledak rendah dan aman digunakan.

Ketika di suatu daerah sudah menyalakan, maka sebagian warga, terutama anak-anak berkumpul di berbagai lintas jalan atau di rumah dengan halaman luas. Berbekal dengan berbagai ukuran yang ada di genggaman, saling beradu kekuatan bunyi dan warna warni yang menghiasi langit. Saat dibunyikan dan menimbulkan suara yang menggelegar kencang, semuanya bersorak girang.

Meskipun bunyi petasan yang dihasilkan kerap mengejutkan warga, pada akhirnya semua wajib memaklumi. Bagi warga sekitar tradisi tetaplah tradisi yang bisa dijaga, meski cukup menganggu.

Ada satu pandangan umum yang menarik dari sejumlah warga yang beranggapan bahwa semakin penuh halaman rumah tinggal dengan kertas-kertas bekas ledakan, maka identitas lebaran semakin nyata. Wallahu A’lam.

*) Mahasiswa Semester VIII Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga