Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*
“Tuhan, Kenapa Aku Dilahirkan Kalau Harus Menderita?”. Pernahkah kita mengeluh seperti ini? Kalau harus jujur, kita, ya kamu dan aku pasti pernah mengeluh seperti itu. Paling tidak pernah bergumam dalam hati. Ini pertanyaan yang perlu dijawab dan diluruskan. Jangan apatis dengan pertanyaan ini biar kita tidak cenderung skeptis.
Keluhan ini simple tapi jawabannya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Bukankah kehadiran kita ke dunia ini tanpa pernah kita minta sebelumnya?. Bukankah kita tidak pernah memohon pada Tuhan untuk dilahirkan di rahim ibu kita? Bukankah kita tidak pernah berharap untuk menjadi bagian dari bangsa ini?. Bukankah kita tidak pernah berdoa untuk menjadi manusia? Andai jadi hewan atau makhluk lain, mungkin tak seruwet ini yang kita alami atau kita tidak diciptakan sama sekali.
Namun, ingatlah keluhan-keluhan itu menandakan ketidakberdayaan kita sebagai manusia dan menandakan bahwa kita adalah lemah. Itu juga menyadarkan kita bahwa kita punya sifat kebergantungan. Ya minimal bergantung pada ketidakmampuan kita untuk menolak tidak diciptakan.
Jadi, secara sederhana buat apa kita sombong kalau dalam diri kita masih ada kebutuhan. Ya minimal butuh akan jawaban itu. Buat apa kita angkuh kalau hadirnya kita menunjukkan ketidakberdayaan. Ya manusia tidak berdaya, tidak kuasa dan tidak punya kekuatan apapun untuk menolak tidak menjadi manusia. Terus, kalau kita tidak kuasa, siapa yang menguasai kita?. Jawabannya pasti Tuhan. Ya pasti Tuhan karena itu yang selalu didengungkan orang.
Apa itu Tuhan dan Siapa Dia?
Pertanyaan ini seolah tabu. Padahal di zaman yang serba keterbukaan ini – maaf bukan telanjang – sesuatu yang dulu dianggap tabu hari ini perlahan sudah mulai tidak. Ya minimal untuk saya pribadi dan untuk kamu yang membaca ini.
Tuhan kalau dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dan sebagainya. Sementara Tuhan kalau dalam Bahasa Inggris disebut dengan God . Dalam Oxford Learner’s Dictionaries disebutkan definisi God adalah Makhluk (the being) atau roh (spirit) yang disembah dan diyakini telah menciptakan alam semesta.
Sampai di sini saya terus terang tidak sepakat kalau Tuhan itu disebut the being (makhluk) atau paling tidak mengartikan the being itu dengan makhluk. Sama juga dengan spirit yang diartikan roh karena makhluk dan roh keduanya adalah diciptakan (makhluk) bukan Pencipta.
Mungkin saja definisi ini terjebak pada definisi yang diberikan kaum materialis pragmatis, tapi tetap itu kita tolak. Minimal bagi kita yang beragama Islam terutama bagi kita yang NU. Ya kita tolak karena konsep kita tentang Tuhan berbeda. Jelas berbeda karena perbedaan ini berimplikasi pada bagaimana kita menjalani kehidupan di dunia ini.
Orang Arab -sebelum ke Tuhannya orang Islam- menyebutnya dengan ilah (اله). Maaf, Arab bukan Islam dan begitu juga sebaliknya Islam bukan Arab. Ini untuk mengclearkan bahwa yang datang dari Arab belum tentu Islam. Biar tidak salah paham anda. Nah, ketika kita menyebut Tuhan, God, Ilah, ini berarti tuhan secara umum yang adakalanya berhak untuk disembah dan ada yang tidak berhak untuk diibadahi. Itu sifatnya general.
Secara spesifik orang-orang di dunia juga berbeda dalam menggambarkan atau menyebut Tuhannya. Ada yang menyebutnya dengan Brahman atau Sang Hyang Widhi bagi orang Hindu dengan konsep trimurti (Brahman, Wisnu dan Siwa), orang Buddha menyebut Tuhannya ada yang Sang Hyang Adi, Parama Buddha, dan ada yang menyebutnya Tathagatha. Ini sependek yang saya pahami. Kalau salah boleh dibenarkan ya.
Penyebutan Yahweh bagi orang Yahudi, ada juga yang El Elyon, Tengri bagi orang Mongol, Ahura Mazda bagi Zoroaster, Waheguru bagi orang Singh. Kristen juga punya konsep Trinitas dalam bertuhan. Sementara Islam menyebut Tuhannya dengan Allah. Perbedaan Penyebutan tentang Tuhan tersebut menunjukkan bahwa Tuhan setiap agama itu tidak sama. Ya tidak sama dan jangan dipaksakan sama. Menyamakan sesuatu yang jelas berbeda itu dungu dan membedakan sesuatu yang sama itu idiot. Mohon maaf kalau agak kasar.
Memang Allah ku yang aku sembah berbeda dengan tuhan yang lain. Kenapa? Coba kita perhatikan. Allah kalau ditulis dengan Bahasa Arab seperti ini اللّٰه. Lafadz ini kalau dihapus satu persatu secara berurutan tetap bermakna kembali pada-Nya. Tidak percaya? Mari kita mulai. Alif (ا) dalam lafadz الله dibuang, maka jadi لِلّٰهِ “hanya kepada Allah semuanya akan kembali”. Kalau lam (ل) yang pertama juga dihapus, maka akan menjadi لَهُ “milik Allah segala yang ada”. Semua akan kembali pada Allah karena semua milik Allah. Ini juga bermakna bahwa Allah adalah asal segala sesuatu dan tujuan segala sesuatu. Dia Yang Awal tidak diawali dengan apapun, Dia Yang Akhir tidak diakhiri dengan apapun. Sebentar belum selesai. Sabar ya..!
Kemudian kalau lam yang kedua (ل) juga di hapus, maka tinggal هُ “dia” maksudnya adalah Allah. هُ (hu) adalah Dhamir Muttashil (kata ganti bersambung) yang biasanya melekat pada akhir kata benda (isim), kata kerja (fi’il), atau huruf untuk menunjukkan kepemilikan atau objek (“nya”). هُ ini bentuk ringkas dari هُوَ “dia”. Ini juga kembali pada Allah (الله). Jadi, الله itu adalah lafadz yang paling sempurna yang hanya dimiliki oleh orang Islam sebagai simbol ketuhanan mereka yang tentu berbeda dengan yang lain. Ingat berbeda dengan yang lain.
Terus bagaimana kalau semuanya dihapus? Maka, jelas tidak ada yang bisa dibaca dan tidak ada kehidupan. Kalau Allah tidak ada, maka tidak akan ada alam semesta dan tidak ada kita. Ya kita tidak ada. Tapi ingat, tidak mungkin Allah itu tidak ada karena ada-Nya tidak tergantung dengan adanya yang lain. Maka, biasanya kita mengatakan adanya Allah adalah wajib ada-Nya (واجب الوجود) sedangkan manusia dan alam semesta ini adanya adalah ketergantungan, bisa ada bisa juga tidak ada (ممكن الوجود). Ini sama dengan yang dikeluhkan oleh kebanyakan manusia “kenapa kita diciptakan?” menunjukkan kelemahan kita dan kebergantungan kita. Kita tergantung ya tergantung tapi tidak untuk mati. Sampai di sini mungkin sudah mulai ada sedikit jawaban ya. Tapi sedikit, belum tuntas. Untuk sementara bolehlah kiranya kita berteriak “Tuhan kita berbeda bung!”.
Kenapa Kita Dilahirkan?
Pertama, Kita ini tidak mampu menolak untuk tidak dilahirkan. Ini juga sebagai justifikasi bahwa kita di dunia ini ada yang menciptakan bukan ada dengan sendirinya. Maka, kita harus patuh pada yang menciptakan yaitu Allah. Kita dituntut untuk pasrah total pada kehendak-Nya. Ya hanya kepada Allah tidak pada yang lain. Kepasrahan itu disertai dengan tunduk dan patuh pada perintah-Nya karena itu inti kita dalam berislam. Islam akan menjadi rahmat bagi semesta alam manakala kita mau patuh, tunduk dan pasrah hanya kepada Allah yang menciptakan alam semesta ini. Termasuk kepasrahan adalah penerimaan dengan baik kenapa kita diciptakan dan kenapa harus menjadi manusia. Tentu sambil merenung dengan tujuan apa kita diciptakan?.
Kedua, kita diciptakan dengan tujuan untuk menghambakan diri (ibadah) pada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ini lagi. Biasanya kita yang pesimistis sering mengumpat “dilahirkan saja saya tidak mau, malah disuruh ibadah lagi.” Ibadah itu bagian terpenting dalam hidup manusia karena manfaat ibadah akan kembali kepada kita yang melaksanakan ibadah. Ibadan itu untuk kesehatan baik fisik, psikis, maupun spiritual. Sehat secara lahiriah maupun batiniah karena dalam manusia itu bukan hanya jasad tapi juga roh.
Ya, ibadah itu memang untuk kesehatan manusia. Contoh dalam shalat. Gerakan shalat yang diawali dengan takbiratul ihram kemudian ada rukuk, sujud sampai pada salam salah satu manfaatnya adalah untuk memperlancar peredaran darah dalam tubuh manusia. Kalau peredaran darah lancar bisa meningkatkan fungsi organ, jantung lebih kuat, dan dapat mencegah resiko penyakit serius. Bacaan dan doa dalam shalat juga dapat membantu menyehatkan psikis, emosional dan spiritual. Begitu juga dengan ibadah yang lain baik mahdhah maupun ghairu mahdhah .
Jadi, ibadah yang diwajibkan itu yang sering bersifat personal imperatif adalah bentuk kasih sayang Allah pada manusia. Apalagi kita menyandang predikat sebagai seorang khalifah (pemimpin). Tugas seorang pemimpin adalah memakmurkan bumi (عمارة الارض) dan tentu juga menjaga agama (رعاية الدين). Itu semua dapat berfungsi dengan baik manakala kita beribadah dengan baik dan benar. Jadi, korelasi tujuan kita diperintahkan untuk beribadah dan visi Allah menciptakan kita sebagai khalifah (pemimpin) adalah semakin baik kualitas ibadah yang kita lakukan, maka akan semakin baik pula kualitas kepemimpinan kita.
Nah, di sini sudah mulai jelas ya kenapa kita diciptakan dan kenapa harus beribadah. Bukan untuk membuat kita menderita tapi untuk membuat kita bahagia. Sampai di sini dulu insyaallah nanti kita lanjut diskusinya lagi.
*Penulis adalah santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Sumenep.

