Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*
Tuhan dan Allah itu jelas berbeda. Ini harus diclearkan dulu. Ya minimal setelah membaca artikel ini.
Diskusi tentang Tuhan memang agak panjang dan harus tuntas karena ini menyangkut jati diri dan keimanan manusia.
Tergelincir sedikit bisa fatal dan masuk gubang kehancuran. Wah ngeri juga ini. Ya memang kalau sudah tuntas dalam ketuhanan, maka tuntas dalam menjalani kehidupan.
Tidak sedikit orang yang pintar dengan gelar sarjana yang mentereng tapi masih saja terjerumus pada jurang kenistaan. Ayat dan hadits mereka keluarkan tapi masih suka cabul, zina, dan korupsi.
Itu bagi saya salah satu indikasinya mereka tidak tuntas dalam bertuhan. Di bibir bisa saja kita mengakui bahwa kita bertuhan, tapi di hati dan tindakan kita jauh dari Tuhan.
Maka, memperjelas tentang konsep ketuhanan itu penting. Di sini saya tertarik mendiskusikan Tuhan dengan konsep Tuhan dalam Bahasa Arab yaitu اله dan الله.
Tuhan Yang Dirindukan
Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa Tuhan dalam Bahasa Arab itu adalah الٰه (ilahun). Ada yang menyebutkan bahwa ilah itu berasal dari اله alaha yang bermakna tenang, nyaman atau tentram. Berarti ilah (tuhan) itu adalah yang membuat hati kita menjadi tenang. Ini terbukti bilamana kita sering menyebut Tuhan, maka hati kita menjadi tentram. Ini yang diisyaratkan dalam QS. Ar-Ra’d 28.
Ada yang menyebutnya dari وله walaha yang merujuk pada perasaan rindu yang mendalam atau kebingungan karena cinta. Kalau ini sudah ada buktinya, tapi orang yang masuk pada tingkatan tertentu. Di mana mereka tergila-tergila dengan kerinduan yang sangat dalam pada Tuhan. Seperti Rabi’ah Al-Adawiyah misalkan. Sementara kalau kita sendiri belum masuk pada maqam itu. Yakin masih belum.
Di sini kita dapat memahami manakala kita benar-benar bertuhan, maka kita akan selalu merindukan-Nya. Kerinduan itu bisa ditandai dengan banyak menyebut-Nya bahkan Tuhan menjadi nafasnya. Dalam setiap hirupan nafas selalu ada nama-Nya. Ya mungkin mirip-mirip saat kita merindukan orang yang kita cintai. Tidak ingin jauh darinya walaupun sedetikpun dan ingin selalu bersamanya, di sampingnya dan dipelukannya.
Ini bagi kita yang pernah mencintai seseorang tapi kalau belum jangan coba-coba. Lebih baik kita alihkan cinta kita pada Tuhan. Seperti Zulaikha misalkan yang cintanya pada Nabi Yusuf a.s. sebelum terbalaskan, maka ia mencintai Tuhannya dengan sangat sempurna yang pada akhirnya setelah itu cintanya berbalas dengan dinikahi Nabi Yusuf. Ini barangkali efek suka nonton film Nabi Yusuf atau Yuzarsif. Bagi kamu yang belum menonton disarankan menonton.
Di situ kita bisa belajar bahwa cinta pada Allah haruslah yang utama dan pertama. Nabi Ya’kub berkumpul kembali pada anak kesayangannya yaitu Nabi Yusuf saat beliau merelakan kehilangan Yusuf atas kehendak Allah. Ini mirip juga dengan cerita Nabi Ibrahim yang merelakan Nabi Ismail dikorbankan atas perintah-Nya kemudian Allah menggantinya dengan kambing dari surga.
Begitulah kiranya kerinduan yang benar adalah kerinduan pada Tuhan. Cinta yang hakiki adalah cintanya hamba pada Sang Khalik. Tidak boleh cintanya kita pada Allah kalah pada cintanya kita pada makhluk. Gus Baha’ pernah guyonan bahwa Allah itu Maha Pecemburu.
Saat kerinduan pada Tuhan sudah sempurna, maka kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Justru menjadi kebanggaan karena rindu untuk bertemu Tuhan. Bukankah nikmat terbesar ketika kita dapat berjumpa dengan-Nya. Tapi tunggu dulu. Kebanyakan orang tidak mau mati dulu ya termasuk kamu yang membaca ini.
Mereka masih mencintai dunia, tapi secara logis kita takut karena masih berlumuran dosa. Padahal takut akan kematian karena dosa yang kita perbuat menandakan cinta kita pada Tuhan perlu dipertanyakan. Kita tidak benar-benar bertuhan. Yakinlah dulu seperti itu untuk instrospeksi nanti.
Saat cinta kita pada Tuhan itu suci, maka pasti rela kita pada kehendak-Nya. Itulah ilah (اله) yang kita sembah dan yang kita rindui. Walaupun kalau masih menyebut dengan ilah (اله) tidak pasti tertuju pada Allah, bisa jadi tertuju pada tuhan-tuhan lain yang tidak berhak untuk disembah. Sementara ketika menyebut dengan Allah, Dia adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk kita sembah.
Allah Yang Disembah
Nah, sebenarnya terjadi diskusi juga tentang nama Allah yang ditulis dalam Bahasa Arab الله kalau dilihat berdasarkan asalnya. Apakah itu isim jamid (isim yang bentuknya asli dan tidak memiliki kata dasar atau akar kata) atau isim musytaq (kata benda turunan atau hasil tasrif dari kata dasar)?. Jangan bingung dulu ya?. Beginilah kalau dipreteli satu persatu sampai ke akar-akarnya. Seperti belajar filsafat saja. Ya memang minimal untuk menepis keragu-raguan kita.
Walaupun mayoritas ulama menyebutnya sebagai isim jamid , tapi ada beberapa ulama yang masih membahasnya sebagai isim musytaq seperti Imam Sibawaih, Al-Kisa’i dan Al-Farra’. Begitu juga dengan Al-Qurthubi, Ar-Razi dan lain-lain. الله ada yang menyebut berasal dari الاله ( al-ilah )yaitu dari أَلَهَ يَأْلَهُ أَلْهًا وإِلاهَةً yang bermakna menyembah atau mengabdi. الٰه ( ilahun ) ikut wazan فعال yang bermakna مَفْعُوْل. Ini seperti kata كِتَابٌ yang bermakna مَكْتُوْبٌ. Sehingga إِلٰه artinya مَأْلُوْهٌ yang bermakna yang disembah. Memasukkan alif dan lam pada الٰه menjadi الإله sebagai ganti dari hamzah, maka jadilah الله.
Sekali lagi ini salah satu pendapat untuk mengurai akar kata dari الله walaupun ulama mayoritas menyebutnya dengan isim jamid yang tidak mempunyai akar kata untuk menunjukkan nama Allah yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.
Memang berbeda antara اله dengan الله , seperti yang dikatakan oleh Ali As-Shabuni bahwa lafadz الله adalah isim ‘alam khusus bagi Dzat yang suci yang tidak dapat dipersekutukan dengan selain-Nya. Adapun maknanya adalah yang berhak untuk disembah. Sementara الإله adalah isim musytaq dari اله dan maknanya adalah yang disembah baik itu yang memang berhak untuk disembah atau yang tidak.
Tidak ada seorangpun yang memberi nama berhala dengan الله. Walaupun kata beliau saat mereka ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka mengatakan adalah الله. Ini seperti dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 38.
Wah, ternyata orang Arab jahiliah juga mengakui yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah, tapi mereka masih menyembah berhala. Itulah mungkin salah satu alasan kenapa mereka disebut jahiliah karena ketidaktangkasan mereka dalam membedakan mana Tuhan yang benar dan mana yang tidak, sehingga mereka menyekutukan Allah dengan patung atau berhala.
Begitu juga kalau kita suka minta pertolongan pada gunung, lautan atau jin ataupun benda-benda yang lain, maka kita gagal mengakui Allah sebagai Tuhan kita.
Kalau menyebut Tuhan atau ilah atau God itu masih umum belum definitif tertuju pada Tuhan yang benar-benar berhak untuk dipertuhankan, maka akan lebih baik tidak berdoa dengan menyebut “Ya Tuhan” atau “duh Gusti Pangeran” dan yang lain. Biasakanlah menyebut Tuhan dengan “Ya Allah” agar doa langsung tertuju pada-Nya.
Mungkin kalau kita merasa doa-doa kita belum terjawab karena kita salah menyebut Tuhan kita tidak dengan Allah. Tapi ini mungkin ya karena doa itu dijawab atau tidak adalah hak mutlak Allah. Kita tidak boleh mengatur-ngatur Allah dengan doa kita.
Memangnya siapa kita? Sadar dirilah, baru saja sujud sudah minta ini dan itu. Padahal banyak perintah Allah yang kita langgar. Benarkan?kewajiban kita hanya berusaha dan berdoa, tapi Allah yang menentukan semuanya.
Satu hal lagi, kalau di Jawa atau Madura kadang tuhan disebut dengan “Pangeran” atau “Gusti Pangeran”. Padahal sebutan “Pangeran” tidak hanya dapat merujuk pada Tuhan (Allah SWT), tapi juga bisa bermakna gelar bangsawan atau raja.
Dengan demikian, maka penyebutan pada Tuhan dengan menyebut Allah itu akan lebih baik karena sudah pasti definitif merujuk pada tuhan yang benar-benar berhak untuk disembah. يا الله
اياك نعبد واياك نستعين
*Penulis adalah santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Sumenep.

