Pragaan, NU Online Sumenep
KH Hafidzi Syarbini, Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep mengajak kepada segenap pengurus untuk bersyukur, karena mereka ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi pengurus.
Hal ini disampaikan di acara silaturrahim PCNU bersama pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) dan Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama (PARNU), lembaga dan badan otonom, Ahad (27/03/2022) di aula setempat.
“Menjadi pengurus NU wajib melaksanakan tanggung jawabnya. Kalau ditunjuk jadi pengurus, harus menerimanya, entah di tingkat manapun, termasuk di PAR. Itu semua semanta-mata disyukuri, karena ini adalah anugerah Allah. Kalian semua dipilih oleh Allah. Ingat, NU adalah siratal mustaqim yang memberi jalan ke surga,” tegasnya saat memberi tausiyah ke-NU-an.
Cara mensyukurinya, lanjutnya, minimal aktif di kumpulan ranting. Selebihnya melaksanakan kewajiban-kewajiban pribadi maupun di organisasi. “Sering-seringlah berkumpul di jam’iyah. Jangan sekali-kali memisahkan diri, seperti tidak hadir saat diundang oleh jam’iyah. Kami khawatir Allah tidak menyukai sikap kita, naudzubillahi
min dzalik,” ujarnya.
Alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah itu bangga, karena MWCNU Pragaan merupakan yang terbaik. Prestasi ini wajib disyukuri karena Allah memberikan kesempurnaan.
“Jangan bangga dulu dan sombong. Khawatir prestasi ini akan turun ke bawah. Karena, selain MWCNU Pragaan, masih ada yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Oleh karena itu, pertahankan kesolidan dan program terbaiknya,” pintanya.
Tak hanya itu, ia mewanti-wanti agar tidak bagga dengan jabatannya di NU, tetapi ia tidak sama sekali melaksanakan kewajibannya. “Itu bukan syukur. Namanya masuk dalam struktur, tetapi tidak mengerjakan tugasnya,” sergahnya.
Kiai Hafidzi mengimbau agar tidak merasa besar, bangga dan menang. Hal ini dicontohkan dalam kisah Nabi Musa a.s pada saat itu ditanya oleh umatnya tentang manusia yang paling alim di dunia. “Ketika ditanya seperti itu, Nabi Musa a.s mengakui bahwa dirinya yang paling alim. Sejak itulah Allah memerintahkan untuk belajar ke Nabi Khidir a.s,” curahnya.
Berangkat dari kisah tersebut, Kiai Hafidzi mengimbau agar tidak merasa paling benar. Semua yang diupayakan oleh pengurus harus diniatkan kepada Allah. “Kami hadir ke sini untuk saling mengingatkan. Karena dibalik kesempurnaan itu, terkadang kita membutuhkan ilmu yang dhahiran wa batinan,” jelasnya.
Sekali lagi, sambungnya, NU bukan wadah yang menjadikan seseorang pintar, tetapi pengurus yang menjalankan amanahnya dengan baik. “Tampakkan kalau kita adalah NU. Jika dijalankannya, maka al-jannatu rahmatan min Allah,” pungkasnya.

