Batuan, NU Online Sumenep
Di acara Halaqoh Aswaja An-Nahdliyah dan pengukuhan pengurus Aswaja NU Center Sumenep, KH M Ma’ruf Khozin memperlihatkan foto makam ahlul bait di Baqi’ sebelum di bumi diratakan oleh Wahabi. Foto tersebut ditampilkan di layar monitor saat beliau mempresentasikan materi pada audien, Selasa (30/11) di aula Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat.
Ketua Aswaja NU Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu menegaskan bahwa foto itu ada sebelum NU berdiri dan didapatkan dari pejuang Aswaja dari Suriah.
“Walaupun makam diruntuhkan, tapi data tidak pernah hilang. Seperti halnya tertuang dalam beberapa sejarah, yaitu adapun makam-makam yang terkenal saat ini di Madinah adalah makam Abbas bin Abdil Muthallib, makam Hasan bin Ali, dan orang yang bersamanya. Di atas makam-makam mereka ada kubah tinggi. Ibnu An-Najar berkata: kubah itu besar, tinggi dan bangunan kuno yang memiliki dua pintu,” tuturnya saat menyitir temuannya di Khulashat Al-Wafa 1/262.
Diperkuat juga di syiar A’lam an-Nubala’ 2/97 yang berbunyi, Abbas (paman Rasulullah) meninggal pada tahun 32 H. Dishalati oleh Utsman, dimakamkan di Baqi’ dan di atas kuburannya ada kubah besar yang dibangun oleh khalifah keluarga Abbas.
“Ketika ulama Hijaz asal Indonesia pindah ke Indonesia, yakni Sykeh Nawawi Al-Bantani, Syekh Khatib Al-Minangkabau, Syekh Khatib As-Sambasi, Hadratussykeh KH M Hasyim Asy’ari, Arab Saudi berubah total. Hal ini senada dengan dawuh KH R As’ad Syamsul Arifin, Sunan Ampel dirawuhi Nabi Muhammad SAW, kemudian diminta untuk membawa ajaran Nabi, yakni Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” ungkapnya.
Beliau tidak kaget saat tradisi Yasinan malam Jum’at atau dikenal mengirimkan doa kepada ahli kubur dibid’ahkan.
“Hanya persoalan Yasinan, terlontar pertanyaan, anda mau ikut kiai atau nabi? Padahal ulama pendahulu dalam karyanya telah menjelaskan dengan dalilnya. Jika warga NU Yasinan, maka secara otomatis ikut nabi. Contoh lainnya, menghadiahkan Al-Fatihah pada ahli kubur dibid’ahkan pula, padahal Imam Ahmad bin Hambal telah menjelaskannya,” terangnya.
Tak hanya itu, Wahabi memiliki keinginan untuk mengeluarkan makan Nabi dari masjid Nabawi.
“Beruntung ada KH Abd Wahab Chasbullah. Di mana beliau meminta kepada raja agar tidak mengganggu makam nabi. Jika dilancarkan, maka akan berhadapan dengan umat Islam se-dunia. Berterima kasih lah pada Kiai Wahab, berkat beliau, kita bisa berziarah ke makam nabi, sahabat, dzurriyah lainnya, serta mengetahui situs sejarah Islam lainnya. Kisah ini diakui oleh ulama Suriah,” pungkas alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri itu.
Editor: A Habiburrahman

