Oleh : Lora Ahmad Herzi
Saat ini yang banyak menjadi perbincangan publik ialah invasi militer Rusia ke Ukraina. Semua orang banyak membicarakan itu, semua media banyak menggabarkan itu. Namun sebagian pihak tidak mau membahas itu secara umum.
Yang menarik untuk dibahas adalah kunjungan Duta Besar kedua negara yang sedang terjadi konflik tersebut ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jl. Kramat Raya No. 164, Jakarta. Selain Dubes kedua negara itu, masih banyak Dubes negara lain yang berkunjung ke PBNU, termasuk Arab Saudi, Mesir, Jepang, bahkan Amerika Serikat. Bahkan sejumlah Dubes dari berbagai negara berebut dijadwalkan untuk berkunjung ke Kantor PBNU bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Dari hal ini jelas bahwa keberadaan NU di mata dunia Internasional sangat penting dan diperhitungkan.
Tidak hanya saat ini, peran NU sejak dulu di kancah Internasional bukan kaleng-kaleng. Salah satunya adalah ketika Arab Saudi dikuasi kerajaan Saud (yang sudah maklum diketahui berpaham Wahabi) ingin mengasaskan satu mazhab pada pelaksaan ibadah haji, salah satunya melarang ziarah ke makam-makam sahabat bahkan Nabi, dan lainnya. Tidak hanya itu, mereka juga ingin membongkar makam Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam.
Atas tindakannya itu, kerajaan Saud mendapat protes atau teguran dari negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Berangkat dari fenomena tersebut, muassis membentuk Komite Hijaz. Adapun tugas utama Komite Hijaz adalah sebagai berikut.
- Meminta pada Raja Ibnu Saud untuk tetap memberlakukan kebebasan bermazhab seperti Maliki, Syafi’i, Hanafi, dan Hambali.
- Meminta supaya tempat-tempat bersejarah tetap diramaikan, karena tempat tersebut telah diwakafkan untuk masjid. Contohnya tempat kelahiran Siti Fatimah, bangunan Khaizuran, dan bangunan lainnya.
- Meminta kepada Raja Ibnu Saud agar setiap menjelang musim haji tiba, hal ihwal mengenai haji disebarluaskan ke seluruh dunia.
- Memohon semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz ditulis sebagai Undang-Undang (UU) agar tidak terjadi pelanggaran hanya karena belum ditulisnya UU tersebut.
Delegasi Komite Hijaz tersebut meminta jawaban tertulis yang menjelaskaan bahwa utusan sudah menghadap Raja Ibnu Saud dan sudah pula menyampaikan usulan tersebut.
Berkat Komite Hijaz (yang saat itu diwakili oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, Mantan Rais Aam PBNU), Pemerintah Arab Saudi tidak melanjutkan gagasannya yang sangat merugikan paham Ahlussunah wal Jamaah.
Dari sini Nahdliyin tahu, organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi organisasi Islam terbesar di dunia sangat dinantikan suaranya ketika ada konflik Internasional. Makanya, tak jarang dari tokoh-tokoh NU yang keliling dunia menyampaikan misi perdamaian, bahkan datang ke negara yang mengalami berkonflik. Seperti di Afrika dan bahkan Israel, negara yang menindas saudara Muslim Palestina.
Kedatangan para tokoh ke negara yang mengalami carut marut perpolitikan dan peperangan, dan datang ke negara-negara yang mayoritas non muslim, dianggap tidak pro Palestina. Meski kenyataannya NU sangat pro Palestina dan mengupayakan perdamaian di Palestina.
Untuk membendung propaganda, masyarakat bisa mengecek di google terkait bantuan NU ke Palestina. Bukan hanya materi, obat-obatan dan peralatan medis, bahkan pembangunan rumah sakit, sekolah dan aspek yang lain. Dan itu sudah sejak dulu, bahkan NU dengan lantang menyuarakan kedaulatan Palestina.
Penulis menegaskan, ini bukan soal fanatik pada salah satu organisasi, tetapi organisasi ini adalah organisasi yang diamanahkan para guru yang harus dijaga. Jikalau ada oknum NU yang tidak selaras dengan pendiri NU, itu oknum. Kenyataannya, mereka menyerang NU-nya. Ibarat ada santri di pondok pesantren yang melakukan kesalahan, lalu pesantrennya yang disalahkan, maka itu sebuah kritik yang sangat keliru.
*) Kepala Bidang (Kabid) IT TVNU Sumenep
Editor : Firdausi

