Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Pengurus Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep menggelar praktik melipat kertas dengan seni origami. Tajuk yang diusung ‘Melipat Seni Origami Berkarakter’, Kamis (09/06/2022) di gedung Laboratorium setempat.
Kegiatan tersebut menghadirkan Aniyatin, mantan pengurus HMP PIAUD Instika. Ia mengawali penjelasannya dengan mengurai sejarah seni melipat kertas atau origami. “Origami merupakan sebuah seni dari Jepang, yang pada umumnya dibuat dari kertas. Tujuannya untuk menghasilkan model-model objek sesuai dengan imajinasi si pembuat,” jelasnya.
Menurutnya, sejarah seni melipat kertas atau seni origami tidak terlepas dari bahan yang digunakan, yaitu kertas. “Origami diperkirakan mulai dikenal sejak manusia mulai memproduksi bahan kertas. Nah, produksi kertas ini terjadi di Tiongkok (China) pada abad pertama sekitar tahun 105 M,” kata alumni Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tarbiyatul Banat Desa Moncek Tengah, Lenteng.
Setelah itu, lanjutnya, di abad ke-6, orang-orang Arab membawa cara pembuatan kertas ke Spanyol. Lalu pada tahun 610 M, seni origami dibawa ke Jepang oleh Doncho (Dokyo), seorang Biksu Budha dari Goguryeo (semenanjung Korea).
“Doncho mulai memperkenalkan bagaimana kertas dan juga tinta pada masyarakat Jepang. Ini terjadi pada masa pemerintahan Kaisar wanita yaitu Suiko. Sejak itulah, origami pun menjadi dikenal oleh masyarakat Jepang, sampai saat ini secara turun-temurun,” tambah alumni Madrasah Aliyah Raudhatul Ulum, Desa Bilapora Rebba, Lenteng.
Ia juga mengungkapkan, fakta-fakta menarik tentang seni melipat kertas. Pertama, seni melipat kertas pertama kali digunakan sebagai bagian dari ritual keagamaan.
“Menurut kepercayaan Shinto, seni melipat kertas bagian dari ritual memohon pada Dewa. Bentuk kupu-kupu yang dibuat dari origami, digunakan sebagai adat pernikahan yang melambangkan kedua pengantin,” ungkapnya.
Kedua, sambungnya, adanya desain modern pada seni melipat kertas merupakan pengaruh dari bangsa Eropa. “Desain-desain modern yang dikenal sampai sekarang, merupakan pengaruh yang diberikan oleh bangsa Eropa yang memperkenalkan teknik baru origami dengan cara yang lebih mudah diikuti oleh anak-anak,” tukasnya.
Aniyatin menegaskan, keunggulan seni melipat kertas merupakan seni tanpa memotong atau menyobek, tetapi mampu membentuk suatu objek yang diinginkan. Mulai dari bentuk hewan, tumbuhan, bahkan karakter kartun.
Dirinya juga mengajarkan kepada seluruh mahasiswi PIAUD Instika dalam membuat lipatan kertas origami berkarakter. Banyak aneka macam dalam pembuatan seni melipat, seperti membuat mahkota, gantungan dinding berbentuk awan, dan kelinci lucu.
“Dalam melipat origami kecepatan bukanlah kunci dalam membuat seni origami, ini suatu hal sangat memerlukan konsentrasi serta kejelian yang cukup agar nanti hasilnya sangat baik,” paparnya.
Menurutnya, kegiatan ini dapat diaplikasikan di lembaga-lembaga pendidikan saat mahasiswi diberikan amanah dalam mendidik anak, atau bisa juga diajarkan pada teman yang memiliki ketersambungan dalam hal mendidik anak.
“Manfaat melipat origami dalam perkembangan anak sangat banyak. Sehingga kita sangat perlu mengajarkan anak ikut serta dalam hal ini, diantaranya mampu meningkatkan kemampuan berpikir anak, belajar berkreativitas, megikuti arahan, membaca gambar/diagram, menemukan solusi dan banyak lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Husnul Khatimah, Ketua HMP PIAID Instika Guluk-Guluk mengatakan, dengan kegiatan tersebut, mahasiswi merasa bahagia dan antusias dalam mengerjakan praktiknya.
“Semoga kegiatan ini membuat mahasiswi memiliki kreativitas yang nantinya akan dibawa untuk mangasah kreativitas anak. Karena seorang pendidik membutuhkan kelincahan, kreatif, dan inovatif, dan lainnya,” tandasnya.
Editor : Firdausi

