Image Slider

Silogisme Nabi Ibrahim dan Rasionalitas Kebertuhanan dalam Al-Qur’an

ADVERTISIMENT

Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*

Umumnya ketika menyebut istilah silogisme, kita tertuju pada Aristoteles seorang filsuf Yunani. Akan tetapi, di sini kita akan berbicara silogismenya Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an terutama dalam menggambarkan kebenaran Allah sebagai realitas absolut satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Kita sering mendengar bahasa logis, tapi kadang tidak paham apa itu logis. Kadang kita juga suka menyamakan antara logis dan rasional padahal itu berbeda.

Logis itu valid berdasarkan penalaran, argumennya terstruktur, konsisten, dan mengikuti aturan berpikir sistematis. Sementara rasional itu masuk akal, beralasan, dan mempertimbangkan kenyataan empiris. Kesesuaian antara tindakan atau pemikiran dengan akal sehat.

Silogisme dikenal sebagai bentuk penalaran deduktif logis dari umum ke khusus untuk menarik kesimpulan (konklusi) dari dua pernyataan yang sudah diketahui sebelumnya yaitu pernyataan umum atau premis mayor dan pernyataan khusus atau premis minor.

Ayat-ayat Al-Qur’an pastinya rasional dan logis. Di mana tidak ada satu ayat pun yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Di sini saya akan menggambarkan salah satu contoh ayat Silogisme dalam Al-Qur’an yang menggambarkan tentang Tuhan.

Silogisme Kategoris Nabi Ibrahim
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 76-78:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًاۗ قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ. فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ.فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ .

Artinya: “Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.” Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 76-78).

Kalau kita gambarkan ayat di atas bahwa Nabi Ibrahim tidak jadi menuhankan bintang, bulan dan matahari karena semuanya tenggelam. Walaupun bintang dan bulan menerangi bumi di saat malam, tapi tidak di waktu siang.

Begitu juga dengan matahari dapat menerangi alam di siang hari, tapi tidak di malam hari. Artinya benda-benda langit tersebut tidak konsisten dalam memberikan manfaat. Mereka bergerak dan terikat ruang dan waktu, sehingga tidak bisa dipertuhankan atau disembah. Ini menunjukkan kecerdasan Nabi Ibrahim dan logikanya berjalan.

Kalau kita rumuskan logika Nabi Ibrahim menggunakan Silogisme Kategoris seperti ini. Pertama, kita tentukan pernyataan umum dari ayat di atas yang kita sebut dengan premis mayor. Kedua, kita temukan pernyataan khususnya yang ini nanti disebut dengan premis minor. Kemudian ketiga tarik sebuah kesimpulan atau konklusi. Mari kita mulai.

Pernyataan umum atau premis mayor yang kita ambil akan seperti ini.

Semua yang tenggelam (=A) bukan Tuhan (=B)

Sementara pernyataan khususnya atau premis minornya adalah:

Bintang, bulan, dan matahari (=C) adalah tenggelam (=A)

Setelah itu kita tarik sebuah kesimpulan atau konklusinya:

Bintang, bulan dan matahari (=C) adalah bukan Tuhan (=B)

Maka rumus sederhana yang saya buat adalah:

A = B (Premis Mayor)
C = A (Premis Minor)
C = B (Konklusi)

Contoh yang lain misalkan di dalam surat Al-Anbiya’ ayat 57-63 yang menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim mematahkan argumentasi kaumnya dengan logika yang benar.

Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya dengan menyisakan hanya satu patung yang paling besar.

Ketika kaumnya bertanya, Nabi Ibrahim mengatakan bahwa patung yang besar itulah yang menghancurkan kemudian meminta kaumnya untuk bertanya langsung pada patung tersebut.

Jawaban Nabi Ibrahim cukup mencengangkan kaumnya. Ia bermaksud menyadarkan kaumnya bahwa patung yang dipuja itu jangankan berbuat sesuatu berbicara pun tidak.

Argumentasi itu dapat menggugah kesadaran kaumnya akan kekeliruan mereka dalam meletakkan argumentasi mereka tentang Tuhan. Kemudian Nabi Ibrahim menyimpulkan:

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْـًٔا وَلَا يَضُرُّكُمْ

Artinya: “Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” (QS. Al-Anbiya’ 66).

Silogisme Hipotesis Nabi Ibrahim
Nah, kalau kita mau rumuskan cerita Nabi Ibrahim di atas menggunakan Silogisme Hipotesis, maka akan ketemu seperti ini:

Premis 1: Jika patung tidak bisa berbicara (A), maka tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat (B)

Premis 2: Jika tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat (B), maka tidak bisa dipertuhankan (C)

Kesimpulan: Jadi, jika patung tidak bisa bicara (A), maka tidak bisa dipertuhankan (C)

Artinya jika berbicara saja tidak, bagaimana bisa berbuat dengan memberikan manfaat dan mudharat?

Silogisme Sorites Nabi Ibrahim
Kalau mau diperpanjang dengan menggunakan Silogisme Sorites atau bersusun atau dalam Ilmu Manthiq disebut lawahiqul qiyas, maka bisa kita rumuskan seperti ini:

  1. Patung yang disembah itu tidak bisa berbicara (A=B)
  2. Patung yang tidak bisa bicara itu tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat (B=C)
  3. Patung yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat itu tidak layak dipertuhankan (C=D)
  4. Kesimpulan patung yang tidak bisa berbicara itu tidak layak dipertuhankan (D=E)

Sebenarnya logika Nabi Ibrahim sudah mulai bisa diterima oleh kaumnya, namun sayang kalah dengan rasa ketakutan yang dalam.

Mereka takut pada hegemoni penguasa yang sangat kejam bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan.

Dalam rangka membenamkan argumentasi Ibrahim tentang Tuhan, atau paling tidak untuk menguji hipotesis Ibrahim bahwa Tuhan Ibrahim yang disebut dengan Allah itu dapat memberikan manfaat dan mudharat, maka ia diperintahkan untuk dibakar. Namun, lagi-lagi Ibrahim dapat membuktikan lagi kebenaran logikanya, seperti dalam Al-Qur’an:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Artinya: “Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatan lah bagi Ibrahim.” (Qs. Al-Anbiya’: 69).

Nabi Ibrahim menjadi selamat dari kobaran api. Padahal umumnya hukum alam adalah adanya hukum kausalitas.

Di mana terjadinya sesuatu menjadi sebab terjadinya yang lain. Seperti makan misalnya menjadi sebab kenyang. Api menjadi sebab terbakarnya sesuatu. Akan tetapi, di sinilah iradah Allah yang menjadi salah satu sifat wajib bagi Allah yaitu Allah berkehendak untuk tidak menjadikan sesuatu kecuali dengan kehendak-Nya.

Itu yang disebutkan oleh Syeikh Thahir Al-Jazairi dalam Kitab Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahi ‘Aqidah al- Islamiyah. Allah dapat mengubah sifat api yang harusnya dapat membakar menjadi dingin yang menyejukkan sehingga jadi penyelamat bagi Nabi Ibrahim.

Dari sini kita sudah mulai mengerti tentang silogisme ya. Ya minimal Silogisme Kategoris, Hipotesis dan Silogisme Sorites. Insyaallah selanjutnya kita akan bahas Silogisme Disjungtif.

Namun, sebelumnya kita paham bahwa ayat dalam Al-Qur’an itu pasti logis dan rasional seperti yang dicontohkan di atas.

Logika Nabi Ibrahim tentang konsep ketuhanan untuk membantah dan meruntuhkan sistem kepercayaan Raja dan kaumnya tidak berhenti sampai di situ. Ibrahim berargumen tentang konsep ketuhanan bahwa:

رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ

Artinya: “Tuhanku kata Nabi Ibrahim adalah yang bisa menghidupkan (dari yang tidak ada sebelumnya menjadi ada) dan juga bisa mematikan (dari yang ada menjadi tidak ada).”

Argumentasi itu dibantah dengan:

قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ

Artinya: “Orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”.

Seolah-olah ia bisa menentukan nasib seseorang dengan membiarkannya untuk hidup dan menghukum yang lain untuk mati.

Argumentasi selanjutnya yang diberikan Ibrahim adalah:

قَالَ إِبْرَٰهِيمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ

Artinya: “Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.”

Silogisme Disjungtif Nabi Ibrahim
Dengan argumentasi ini, maka membuat orang-orang kafir terdiam. Di mana argumentasi Ibrahim dapat mengalahkannya.

Kalau kita rumuskan menggunakan Silogisme Disjungtif di mana bentuk silogisme yang premis mayornya atau pernyataan umumnya berupa keputusan disjungtif (pilihan “atau”), sedangkan premis minornya atau pernyataan khususnya mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang ada.

Sementara kesimpulannya adalah menegaskan salah satu alternatif yang tersisa. Contoh:

Premis Mayor (1)
Berhala dapat memindahkan posisi terbitnya matahari dari timur ke barat atau tetap posisi terbitnya matahari dari timur

Premis Minor (2)
Ternyata posisi terbitnya matahari tetap dari timur

Kesimpulan:
Jadi, berhala tidak bisa memindahkan posisi terbitnya matahari dari timur

Sehingga berhala bukan yang menciptakan matahari karena tidak bisa memindahkan terbitnya matahari dari timur. Allah Swt. kuasa untuk melakukan itu semua karena Allah penciptanya. Ini yang disebut dengan Silogisme Disjungtif Alternatif Kontradiktif.

Realitasnya memang tidak ada yang bisa memindahkan terbitnya matahari dari timur dan menunda datangnya malam.

Begitu juga tidak akan ada yang dapat mengadakan sesuatu dari bahan baku yang tidak ada sebelumnya atau menghidupkan sesuatu yang sudah mati.

Tidak ada yang dapat mematikan sesuatu dari bahan baku yang ada menjadi tidak ada. Artinya Allah Maha Kuasa untuk melakukan segalanya.

Argumentasi Nabi Ibrahim ini yang gagal dipatahkan oleh raja dan rakyatnya. Itulah kehebatan Ibrahim karena berani berargumentasi di depan raja dan rakyatnya kemudian dapat mengalahkannya.

Padahal melawan penguasa pasti berisiko besar dan nyawa menjadi taruhannya. Dari yang awalnya keberanian melawan penguasa dan sistem kepercayaannya dianggap tabu menjadi tidak.

Keberanian dan kecerdasan Ibrahim mendapatkan apresiasi yang sangat luar biasa, sehingga ia dijuluki dengan bapak Tauhid menolak kesyirikan secara total. Semoga kita dapat mencontohnya. Amiin.

*) Penulis adalah santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga