Sumenep, NU Online Sumenep
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep menegaskan arah baru organisasi melalui pemaparan Rencana Strategis (Renstra) berbasis amanah konferensi. Fokus utama diarahkan pada penguatan ekonomi dan kesejahteraan umat, disusul peningkatan kualitas pendidikan dan pesantren, serta pelayanan kesehatan dan sosial.
Penegasan itu disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sumenep, K.H. Md. Widadi Rahim, dalam acara Silaturrahim dan Ta’aruf Pengurus Harian Tanfidziyah bersama Pengurus Lembaga dan Aswaja Center, Rabu (18/02/2026), di Aula Lantai 2 Kantor PCNU Sumenep.
Dalam sambutannya, Kiai Widadi menegaskan bahwa ber-NU berarti menunaikan dua mandat besar: menjaga kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan menghadirkan kemaslahatan nyata di tengah masyarakat.
“Ber-NU berarti meneguhkan komitmen pada ri‘āyatud dīn dan imāratud dunyā. Kita menjaga kemurnian ajaran, sekaligus bekerja nyata memakmurkan umat,” tegasnya.
Ekonomi Umat Jadi Prioritas
Berdasarkan rekomendasi konferensi cabang, aspek ekonomi dan kesejahteraan menempati porsi perhatian terbesar, yakni 37 persen. Disusul bidang pendidikan dan pesantren sebesar 14 persen, serta kesehatan dan sosial 11 persen.
Menurut Kiai Widadi, arah ini menunjukkan bahwa PCNU Sumenep ingin menjawab kebutuhan riil jamaah, terutama dalam penguatan ekonomi keluarga dan kemandirian warga nahdliyin.
“NU harus hadir dalam problem konkret umat. Ekonomi keluarga, pendidikan generasi muda, dan pelayanan sosial adalah ruang-ruang khidmah yang harus kita perkuat secara sistematis,” ujarnya.
Tujuh Pilar Khidmah dan Lima Fase Peta Jalan
Untuk merealisasikan amanah tersebut, PCNU Sumenep merumuskan tujuh pilar khidmah, meliputi penguatan kelembagaan dan kemandirian, ekonomi-pertanian-keluarga, peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan pemikiran keagamaan, seni dan budaya, pelayanan kesehatan dan lingkungan hidup, serta pelayanan hukum dan publik.
Ketujuh pilar itu akan dijalankan melalui lima fase periodik: konsolidasi dan penataan organisasi, peningkatan kapasitas dan literasi, implementasi layanan, advokasi dan penguatan jejaring, hingga fase kemandirian dan evaluasi.
Kiai Widadi menegaskan bahwa tata kelola kepengurusan juga disusun berbasis meritokrasi, dengan mempertimbangkan kompetensi, profesionalisme, integritas, komitmen, kaderisasi, dan zonasi.
Dari 143 orang yang mengisi formulir biodata, sekitar 80 persen berada pada usia produktif dengan latar belakang pendidikan S1 hingga S3, serta mayoritas berprofesi sebagai akademisi dan wirausaha.
“Ini adalah ikhtiar kita membangun NU yang amanah, profesional, dan adaptif. Kita ingin NU Sumenep kokoh secara nilai, tetapi juga kuat dalam manajemen dan berdampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Melalui Rencana Strategis ini, PCNU Sumenep meneguhkan perannya sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menata masa depan umat dengan langkah terukur dan berkelanjutan.

