Image Slider

Pola Hidup Sehat ala Rasulullah saat Puasa Ramadhan

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Jadikan puasa Ramadhan sebagai sarana efektif hidup sehat baik fisik, mental maupun spiritual. Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita pola hidup sehat saat puasa.

Ramadhan adalah bulan mulia karena semua amal perbuatan yang baik atau ibadah yang dilakukan akan dilipatgandakan ganjarannya. Berpuasa bukan untuk menunda jatah makan atau memindahkan waktu makan dari siang hari ke malam hari. Akan tetapi, puasa harusnya dijadikan sebagai momentum untuk melatih hidup sehat dan sarana efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kita sering disuguhkan dengan sebuah hadits anjuran berpuasa untuk sehat, walaupun ada yang menyatakan itu hadits dhaif atau lemah. Akan tetapi, walaupun secara periwayatannya lemah, tapi maknanya secara medis dibenarkan berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan.

Hadits puasa untuk sehat tapi sering disebut hadits dhaif atau lemah adalah:

صوموا تصحوا

Artinya: “Berpuasalah, maka kalian akan sehat.”

Atau redaksi yang agak panjang:

“اغزوا تغنموا، وصوموا تصحوا، وسافروا تستغنوا”

Artinya: “Berperanglah, kalian akan dapat rampasan. Berpuasalah, kalian akan sehat. Bepergianlah, kalian akan berkecukupan.”

Walaupun status hadits ini diragukan, tapi tidak ada salahnya kalau kita jadikan sebagai motivasi kita dalam melaksanakan puasa untuk menjadi sehat. Apalagi dalam dunia kedokteran sudah diakui bahwa puasa dapat menyehatkan tubuh manusia.

Ajakan berpuasa untuk menjadi sehat itu harus menjadi kesadaran bersama atau gerakan hidup sehat saat puasa.

Hal tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan atau kedokteran.

Kalau kita pernah menemani pasien di rumah sakit yang sedang mau menjalani operasi, biasanya dokter menganjurkan untuk tidak makan dan minum selama 6 sampai 8 jam sebelum operasi dilakukan. Ini mungkin yang disebut dengan puasa medis.

Sementara yang kita lakukan dalam puasa Ramadhan adalah puasa syar’i yang itu juga berpengaruh positif pada kesehatan fisik atau tubuh manusia yang menjalani puasa.

Hindari Kebiasaan Buruk saat Berpuasa
Kita sering lupa bahwa puasa bukan menunda jam makan tapi berpuasa untuk hidup kita lebih sehat. Kalau puasa menyehatkan harusnya saat berbuka puasa kita meniru apa yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW atau mengikuti anjurannya. Seperti dalam sebuah hadits:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Artinya: “Dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah),  jika tidak ada ruthab , maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr , beliau meminum seteguk air.” (HR. Abu Dawud).

Beberapa kesimpulan penting makan buah kurma saat berbuka puasa dalam analisis kimia dan fisiologis dalam Dewi Susanto (2013: 153-154):

  1. Dengan mengkonsumsi kurma ruthab ataupun tamar, tubuh akan mendapatkan pasokan zat gula yang besar. Sehingga kondisi kekurangan zat gula bisa teratasi dan tubuh pun menjadi bugar:
  2. Saat lambung dan usus dalam keadaan kosong, penyerapan zat-zat gula bisa dilakukan dengan cepat.
  3. Kandungan zat gula yang sangat sederhana di dalam kurma, membuat proses penyerapan menjadi sangat mudah. Sehingga dalam waktu singkat kadar gula dalam darah bisa kembali meningkat.
  4. Dengan mengkonsumsi kurma tamar yang direndam dalam air, atau dengan hanya memakan kurma ruthab yang kandungan airnya 65-70%, akan memberikan tambahan air bagi tubuh. Sehingga kita tidak perlu lagi untuk meminum banyak air saat berbuka puasa.

Kadang saat berbuka puasa kita melahap semua hidangan yang ada di depan kita tanpa memperhatikan kebutuhan perut pertama saat kurang lebih selama 14 jam kosong (karena berpuasa). Maka, Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk makan kurma basah, kurma kering, atau seteguk air.

Kita sering menemukan mereka saat selesai berbuka dengan perut yang terlalu kenyang membuat mereka capek dan menyebabkan penyakit.

Bahkan ada yang sampai tidak bisa melanjutkan shalat Maghrib, Isya’, dan Tarawih. Dalam hal ini Imam Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayahnya mengatakan bahwa “Jika pada petang harinya engkau makan lebih, maka puasamu tidak berguna atau tidak bermanfaat dan perutmu sungguh akan menjadi beban bagimu.”

Jadi, kalau kebiasaan buruk ini selalu dilakukan, maka puasa bukannya membawa nikmat tapi malah membawa niqmat (malapetaka atau siksa).

Maka, kita dianjurkan untuk tidak usah terlalu kenyang saat berbuka cukup seperti yang dianjurkan Nabi. Berbuka cukup dengan kurma atau seteguk air, kemudian shalat Maghrib. Selesai shalat Maghrib bisa dilanjutkan dengan makan tanpa harus terlalu kenyang.

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI menganjurkan saat berbuka puasa untuk menjaga kesehatan jantung dan mencegah hipertensi, adalah dengan menghindari makanan tinggi lemak saat berbuka puasa maupun sahur. Seperti, gorengan, sop buntut, sate, daging sosis, pizza, burger, masakan bersantan/kare, kuning telur, jeroan, kambing, dan bebek/kulit ayam.

Hindari makan makanan asin seperti telur asin, ikan asin, kecap asin, kripik kentang, saos tomat, saos cabe, dan lain-lain.

Pola hidup sehat ini bukan hanya saat berpuasa, tapi bagaimana dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa dalam bulan Ramadhan jadikan sebagai media untuk melatih diri, maka setelah Ramadhan jadikan la kehidupan sehari-hari untuk hidup sehat dengan tidak berlebihan dalam makan. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أَكَلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Artinya: “Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, Tirmizi, Nasai, dan Ibnu Majah).

Hadits ini mengingatkan kita untuk tidak makan terlalu kenyang karena akan mendatangkan penyakit dan membuat kita menjadi malas.

Puasa Melatih Mental Sehat
Puasa bukan hanya sekedar tidak makan dan tidak minum atau bukan hanya puasa untuk sehat secara fisik, tapi juga berpuasa untuk sehat secara mental dan spiritual. Nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada kita:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk/keji, maka Allah SWT tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Di sini Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah SWT memang tidak butuh atau tidak suka orang yang berpuasa tapi masih suka berbohong, memfitnah, ghibah atau menggunjing, menghardik, berkata kotor, dan perilaku buruk lainnya seperti suka menipu orang dan mencelakai orang.

Perbuatan buruk tersebut pertanda secara mental tidak sehat karena hatinya masih berpenyakit. Ia juga tidak sehat secara spiritual karena suka berbuat dosa dan maksiat.

Maka dengan berpuasa jadikanlah sebagai sarana untuk menyehatkan mental dan spiritual kita untuk kita terapkan dalam kehidupan setelah puasa.

Ada juga sebuah hadits yang melarang kita berbuat tercela:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

Artinya: “Puasa adalah perisai, maka janganlah berkata kotor dan berbuat gaduh (tidak baik). Jika ada seseorang yang mengajak berkelahi atau mencaci, maka katakanlah: ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari Muslim).

Jika puasa adalah benteng diri untuk tidak hanya mengharapkan sehat secara jasmani, tapi juga berharap sehat secara rohani atau sehat mental dan spiritual, maka hindari berkata kotor dan berbuat jorok.

Inilah beberapa hal yang harusnya dijadikan sebagai spirit gerakan hidup sehat saat menjalani ibadah puasa. Saatnya kita berubah dari kebiasaan tidak baik menjadi baik dan sehat. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga